Alfiana Asti Premasari, Mampu Lulus “Cum Laude” meski Disabilitas

2 views

Asal ada kemauan pasti ada jalan. Begitulah kiranya prinsip yang dipegang oleh Alfiana Asti Premasari.

===============

MESKI mempunyai keterbatasan fisik, tidak menyurutkan langkahnya untuk menyandang predikat sebagai mahasiswi peraih cum laude dengan IPK 3,73.

Untuk diketahui, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mewisuda 639 lulusan jenjang Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma pada Sabtu (24/3/2018) di Auditorium Prof. Dr. Abdul Kahar Mudzakkir UII.

Perempuan yang lahir di Kulon Progo pada 15 Juli 1992 tersebut, tak menyangka bisa mendapatkan prestasi tersebut di tengah keterbatasan fisiknya.

Sebagai penyandang disabilitas, ia mengaku cukup sulit meneruskan pendidikan sampai jenjang kuliah sejak ia selesai di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebab, kebanyakan perguruan tinggi reguler hanya menerima mahasiswa baru yang dilihat dari segi fisiknya.

“Awalnya orang tua sempat putus asa untuk melanjutkan pendidikan saya hingga ke jenjang Universitas. Karena kebanyakan tidak menerima mereka yang berkebutuhan khusus,” kata perempuan yang sudah lulus S1 jurusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UII ini.

Namun hambatannya tersebut tak menyurutkan tekadnya untuk mencoba peruntungan di UII. Ia kemudian diterima pada 2013 lalu sebagai salah satu mahasiswa.

Saat awal-awal, mengenyam pendidikan tinggi ini ia juga mengalami kesulitan. Seperti rasa mindernya ketika bersosialisasi dengan teman-teman kampus. Tak hanya itu saja, Alfi juga harus berkoordinasi dengan dosen pembimbing akademiknya.

Setiap kali akan mengikuti perkuliahan di gedung bertingkat. “Kesulitannya terkait aksesibilitas. Setelah konsultasi (dengan dosen) akan diusahakan agar kelasnya dipindah di lantai dasar,” ucapnya.

Alfi merupakan 1 di antara 237 wisudawan UII yang meraih Cumlaude. Indeks prestasi kumulatif tertinggi diraih oleh Nasiematul Arifat dari Program Studi Ilmu Hukum dengan IPK 3,98.

Nandang Sutrisno, Rektor UII menyampaikan, setiap alumni yang merupakan pendidikan mempunyai peran penting untuk mengubah moral bangsa. Pendidikan, menurutnya merupakan investasi untuk meningkatkan sumber daya manusia.

Untuk itu mereka diharapkan bisa menanamkan nilai-nilai moral yang sangat berarti bagi keberlangsungan hidup, baik di dunia maupun akhirat. “Tanpa adanya moral, tentu impian kita untuk hidup dalam keharmonisan akan sulit tercapai,” katanya berpesan kepada lulusan kampusnya. (dho/JPC)