Aruna dan Lidahnya Tawarkan Cara Sikapi Perbedaan, Sambil Makan

11 views

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Dian Sastrowardoyo bangga bisa terlibat dalam film Aruna dan Lidahnya. Pasalnya, film dengan empat karakter utama yang kuat masih jarang di Indonesia. Ditambah lagi, sang sutradara, Edwin, membuat film ini sewajarnya. Dalam artian, sesuai dengan realita yang terjadi pada umumnya di masyarakat. Oleh karena itu, tidak akan ditemukan adegan yang dibuat terlalu dramais di Aruna dan Lidahnya.

“Biasanya kita di Indonesia disuguhkannya dengan hal-hal yang melodramatis sekalian atau ketakutan sekalian. Kalau di sini (Aruna dan Lidahnya) justru (melodrama) sesuatu yang jarang. Sebagai penonton film Indonesia juga, saya sebenernya menunggu banget film kayak gini sebagai suguhan di film Indonesia. Aku melihatnya beda banget. Ini film relateable banget,” ungkap Dian belum lama ini.

Ditanya mengenai pesan yang ingin disampaikan dari Aruna dan Lidahnya, Dian mengungkapkan bahwa banyak sekali hal yang bisa dipetik dari film tersebut. Salah satunya yang digarisbawahi oleh Dian adalah bagaimana menghargai perbedaan.

Menurut Dian, Aruna dan Lidahnya ingin menyampaikan bahwa perbedaan itu adalah hal yang mutlak. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara untuk menyikapi perbedaan tersebut. Dalam film ini caranya adalah melalui makanan.

“Banyak sekali yang ingin diceritain dalam film ini. Misalnya, dalam pertemanan itu, kita kadang bisa beda banget, beda pendapat, beda kerjaan, beda opini. Perbedaan itu sesuatu yang nggak mungkin nggak kita hadapi dalam dunia ini. Cuma film ini juga menawarkan cara yang beda buat menyikapi perbedaan dengan cara yang rileks, sambil makan. Di mana, perbedaan diterima sebagai sesuatu yang lumrah adanya,” pungkas Dian.

Aruna dan Lidahnya memang mengisahkan empat karakter dengan konfliknya masing-masing. Kemudian, keempatnya dipertemukan dalam sebuah perjalanan ke empat kota, yakni Surabaya, Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang.

Aruna (Dian Sastrowardoyo) dikisahkan harus melakukan investigasi wabah flu burung di empat kota. Sambil menyelesaikan tugasnya, Aruna ternyata punya misi lain, yakni mencari resep nasi goreng yang telah lama diidamkannya.

Tak pergi sendiri, Aruna ditemani sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra) yang adalah seorang chef. Serta, sahabat perempuannya, Nadezhda (Hannah Al Rashid) yanng hendak menjelajahi kuliner nusantara. Kemudian, dalam melakukan investigasi Aruna mendapat pendampingan dari Farish (Oka Antara), seorang dokter hewan.

Konflik pun mulai terjadi saat keempatnya melakukan perjalanan bersama. Ternyata, banyak rasa terpendam yang dimiliki oleh masing-masing karakter. Bisakah mereka menyelesaikan konfliknya masing-masing? Film yang menyuguhkan 21 menu masakan khas nusantara ini bisa disaksikan mulai 27 September 2018, di bioskop seluruh tanah air.

(str/JPC)