Astaga! Ada Remaja yang Periksa Sakit Kelamin Bareng Pacar

33 views

Oleh: Yulia Wahyu Ningrum M Psi, Psikolog
(Clinical Psychologist di Biro Psikologi Mata Hati Samarinda)

PERNAH membaca atau mendengar tentang survei yang telah dilakukan oleh beberapa lembaga di dunia dan di Indonesia terkait seks dini pada remaja?  WHO/UNFPA/UNICEF pada 1999 melakukan survei terhadap beberapa remaja atau kelompok usia di bawah 25 tahun. Hasilnya, 111 juta kasus PMS diderita oleh kelompok usia di bawah 25 tahun, dan 500 juta usia 10–14 tahun, hidup di negara berkembang, yang rata-rata pernah melakukan hubungan suami-istri (intercourse) pertama kali di bawah usia 15 tahun (Sedlock, 2000; US Bureau of The Census, 1998).

Sementara di Indonesia, Prof Dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, melakukan penelitian terhadap remaja SMA di Bali pada 1996. Beliau mengambil sampling 633 remaja yang ternyata semuanya memiliki pengalaman berhubungan seks sebelum nikah. Persentasenya, perempuan 18 persen dan 27 persen laki-laki. Beliau seorang dokter yang ramah dan peduli dengan seksual pada remaja, senang pernah hadir di seminar beliau.

Sedangkan Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) pada 2002–2003, remaja mengaku mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada usia 14–19 tahun. Perempuan 34,7 persen, dan laki-laki 30,9 persen.

Bagaimana dengan wilayah kita, Kalimantan dan tahun 2018? Miris dan sedih! Ternyata tidak jauh berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan lembaga di atas. Pengalaman dari beberapa kali mengisi materi di komunitas anak dan membagi beberapa angket tentang paparan pornografi, rata-rata anak telah terpapar pornografi. Saya mendengar berita dari petugas kesehatan di beberapa puskesmas di Kaltim yang sudah menangani beberapa kasus remaja yang terkena penyakit menular seksual. Sayangnya rata-rata dari remaja tersebut tidak mengetahui bahwa dirinya sudah terkena penyakit menular seksual. Mereka hanya mengira bahwa ia mengalami keputihan yang biasa dialami oleh remaja seusia mereka.

Biasanya para remaja datang memeriksa jarang diantar orangtua mereka. Kerap datang sendiri, diantar teman, bahkan pacar. Mereka datang karena mengeluh vagina berlendir, berwarna hijau, gatal, dan berbau.

Mereka malu karena sakit, namun tidak malu ketika dengan terang-terangan mengatakan bahwa mereka sudah melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis, bahkan ada yang sejenis. Sebagian remaja mengaku bahwa mereka mengetahui hubungan seksual bahkan sampai penggunaan kondom dari internet.

Meningkatnya kasus free sex di kalangan remaja dan yang mengidap PMS merupakan bukti nyata kurangnya pengetahuan anak mengenai pendidikan seks yang seharusnya sudah mereka peroleh dari orangtuanya. Selain itu disebabkan faktor gaya hidup remaja yang dipengaruhi berbagai media. Ini diperparah dengan kondisi remaja yang berada pada fase labil atau ingin mencoba sesuatu yang baru sehingga kecenderungan hubungan seksual di luar nikah meningkat.

Ada banyak penyakit yang bisa digolongkan sebagai PMS. PMS ada yang disebabkan bakteri, virus, ataupun parasit. Di Indonesia, yang banyak ditemukan saat ini, antara lain gonorrhea (GO), sifilis (raja singa), HIV/AIDS, herpes genital, klamidia, kutil kelamin, trikomoniasis vaginalis, kandidiasis vagina, dan masih banyak lainnya. Kebanyakan yang sering diderita adalah gonorrhea (GO), pada penyakit ini kuman penyebabnya adalah Neisseria gonorrhoeae, hal tersebut yang perlu diberikan penjelasan oleh orangtua dan pendidik pada remaja.

Pendidikan seks seharusnya telah diajarkan orangtua sebagai guru pertama dan keluarga sebagai sekolah pertama yang dapat membentengi mereka dari pengaruh negatif pergaulan bebas. Tetapi yang terjadi di lapangan justru orangtua bersikap apatis dan tidak berperan aktif memberikan pendidikan seks sejak usia dini. Mereka beranggapan bahwa pendidikan seks akan diperoleh anak seiring berjalannya usia ketika ia sudah dewasa nanti. Mereka seolah menyerahkan pendidikan seks kepada pihak sekolah sebagai sumber ilmu bagi anaknya.

Padahal, pendidikan seks belum diterapkan secara khusus dalam kurikulum sekolah. Harapan dari Prof Wimpie, ada sesi khusus yang membahas hingga fungsi, risiko, dan dampak secara spesifik. Kurangnya pengetahuan orangtua dan ketidaksiapan orangtua terhadap kebutuhan anaknya sendiri dalam menghadapi tuntutan zaman yang semakin berkiblat ke arah barat menjadi faktor utama belum tersampaikannya pendidikan seks sejak usia dini di lingkup keluarga. Ketidaksiapan orangtua menghadapi “zaman now” membuat mereka tidak peka dan santai saja ketika menghadapi pergaulan anak-anak.

Mereka menganggap anak-anak mereka adalah anak yang manis. Pada usia yang disamakan dengan zaman mereka. Walhasil, orangtua terkejut ketika mengetahui anak mereka hamil dan memiliki PMS. Banyak orangtua tidak percaya karena merasa bahwa anak mereka kerap di rumah, hanya bermain HP, dan jika pergi dengan teman yang mereka kenal.

Orangtua tidak mengetahui kronologi perkenalan anak mereka. Banyak dari remaja di daerah perkotaan justru mengenal pelaku dari medsos, kemudian bertemu setelah sebelumnya saling seks phone. Kemudian ketika ketemu, mereka dengan segera menentukan tempat atau lokasi making love(ML).

Namun, beberapa dari mereka justru melakukan hubungan seksual di rumah pasangan atau ketika tidak ada orangtua. Sebagian mengaku mereka kerap diizinkan keluar malam dengan alasan jalan-jalan atau kerja kelompok. Dan anehnya orangtua memberikan izin kepada mereka. Idealnya anak-anak dan remaja sudah di rumah ketika pukul 20.00 atau masih dalam pengawasan hingga batasan SMA.

Mengapa saya lebih banyak fokus dengan orangtua? Yes, penyebab lain karena orangtua sibuk (ayah-ibu bekerja), anak kesepian, dan ketika pulang kerja pun, orangtua sibuk “me time” dan istirahat tanpa memberikan waktu yang banyak untuk anak. Selain itu, anak yang dari kecil sibuk les pelajaran dari usia 3 tahun, dan perhatian orangtua yang hanya pada masalah pelajaran tanpa mendengarkan cerita yang terjadi bersama teman-teman atau kejadian menyenangkan di sekolah. Perhatian dari orangtualah yang diperlukan remaja sekarang dengan komunikasi yang efektif, seperti pendidikan seks yang harus dimulai sejak dini dan bertahap sesuai perkembangan anak.

Bila hal ini dilakukan saat beranjak dewasa, mereka tidak akan mencari penjelasan dari lingkungan sekitar yang terkadang menyesatkan. Untuk mulai menciptakan komunikasi yang terbuka terhadap anak, orangtua bisa mendiskusikan beberapa hal berikut ini sesuai kesepakatan. Yaitu, cara yang santun untuk mengungkapkan pendapat kepada orangtua, jam belajar anak dalam satu hari, batas waktu anak keluar malam, wilayah mana saja yang menjadi privasi anak dan orangtua, dan  tayangan televisi yang bisa ditonton oleh anak berdasarkan usia.

Teman-teman di puskesmas dan guru mengeluh kerap frustrasi karena remaja seolah-olah tidak peduli dengan dampak free sex dan PMS. Yang mereka takutkan hanya hamil. Selain itu, yang mereka pahami, mereka akan hamil jika melakukan berkali-kali, dan aman jika hanya sesekali. Padahal, ketika sudah menstruasi, satu kali saja dapat terjadi kehamilan dan risiko PMS.

Kesimpulan akhir, penting sekali untuk menghindari hubungan seks sebelum menikah dan jaga kehigienisan diri sehingga tidak rentan tertular PMS. PMS menyebabkan infeksi alat reproduksi yang harus dianggap serius. Bila tidak diobati secara tepat, infeksi dapat menjalar dan menyebabkan penderitaan, sakit berkepanjangan, kemandulan, dan kematian.

Buat remaja perempuan, perlu disadari bahwa risiko terkena PMS lebih besar daripada laki-laki. Sebab, alat reproduksi perempuan lebih rentan dan sering berakibat lebih parah karena gejala awal tidak segera dikenali. Lebih baik menghindari hubungan seksual sebelum menikah, melakukan kegiatan-kegiatan positif agar tidak terlintas untuk melakukan hubungan seksual. Kemudian, mencari informasi yang benar tentang PMS dan risiko tertular, meningkatkan ketahanan moral melalui pendidikan agama, seringlah berdiskusi dengan orangtua dan ahli, misalnya dokter atau tenaga kesehatan di puskesmas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perilaku seksual. (tim kp)

Incoming search terms: