Bagaiman Mau Sejahterakan Petani jika Data Saja tidak Valid

19 views

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Berbicara tentang kedaulatan pangan, ibaratnya bagaikan jauh api dari panggang, bila masalah data yang berkuatan dengan pertanian kita belum valid. Dengan data yang belum valid, maka akan sulit lahir kebijakan yang tepat untuk memajukan pertanian kita.

Demikian dikatakan Surame Hadi Sutikno, petani yang menjadi Dewan Penasehat Paguyuban Petani Merbabu, dalam diskusi bertema Petani Goes To Jakarta, Petani Jaman #NOW  di Jakarta, Minggu (25/3).

“Bagaimana bisa merancang kebijakan yang tepat untuk memajukan, dan mensejahterakan petani kita bila datanya saja tidak valid. Dengan data yang tidak valid, maka akan tidak tepat menentukan kapan harus impor dan ekspor. Wong kondiisnya surplus kok impor. Juga bagaimana pula dengan Peta Cuaca, Peta Kemampuan Air dan Peta Kemampuan Tanah, Ini masih tidak ada. Kondisi belum adanya data yang valid ini sangat disayangkan para petani,” kata Surame.

Menurut dia, permintaan tentang data-data tersebut sudah sering diminta para petani. Namun selalu tidak diberi. Maka muncul dugaan bahwa data yang valid tersebut tidak ada. Maka diminta kapanpun pasti tidak bisa diberikan ke petani. Surame berharap pemerintah bisa merancang kebijakan yang tepat untuk memajukan dan mensejahterakan petani. Hal ini sangatlah penting, karena bila petani tak juga sejahtera, maka akan mempersulit regenerasi petani, akibat anak petani tidak ingin hidup susah seperti sang ayah.

“Saat ini faktanya regenerasi petani itu sulit. Ya karena petani banyak yang belum sejahtera. Dan disisi lain dengan bertani tidak bisa dapat duit instan. Bekerja dulu, menanam dulu, baru setelah panen bisa dapat uang. Kalau pas penen harga jatuh, ya petani malah merugi. Anak muda banyak yang ingin cepat dapat uang maka tidak tertarik berprofesi menjadi petani,” kata dia.

Dalam acara yang sama Pitoyo,  Ketua Kelompok Tani Traggulasi Kabupaten Semarang mengatakan, problem lain para petani kita adalah harga jual hasil panen mereka ke pengepul rendah, namun harga jual di tingkat konsumen tinggi. Kondisi ini jelas merugikan petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen.

“Jadi dengan masyarakat membeli produk pertanian dengan harga tinggi pun, bahkan kadang terasa memberatkan, itu juga tidak membuat petaninya lalu sejahtera. Yang paling menikmati ya pedagang perantara. Adanya kesenjanagan harga di tingkat petani dan harga di konsumen ini juga harus dicari solusinya oleh pemerintah. Agar petani dan konsumen tidak terus menerus rugi,” kata Pitoyo.

Disisi lain Pitoyo juga menyoroti biaya logistik yang masih mahal, dan berbagai permainan lainnya, yang itu semua membuat harga komoditi pertanian kita menjadi tidak kompetitif.

Masih dalam acara yang sama, praktisi pemasaran produk pertanian yang CEO Opal Communication, Kokok Dirgantoro mengatakan bahwa di jaman Now ini, para petani juga harus mulai memasuki pemasaran digital yang dinamis, dengan berhimpun dalam kelompok tani untuk memperkuat posisi tawarnya, lalu berkolaborasi dengan mereka yang kompeten dibidangnya.

“Setelah berhimpiun untuk meningkatkan posiis tawar, juga harus berkolaborasi dengan pakar pemasaran digital, dengan medsos, agar bisa dikomunikasikan potensinya. Agar masyarakat mengenal keunggulan produksi petani kita. Jadi bisa membangun jejaring pemasaran yang bisa meningkatkan income para petani. Jadi harus berkolaborasi, jangan terkotak-kotak. Masalah tidak akan selesai bila kita berpikirnya masih terkotak-kotak,” kata Kokok. (Frn)