Bakteri Super Renggut Nyawa 33.000 di Eropa Setiap Tahunnya

2 views

FAJAR.CO.ID – Bakteri super atau superbug yang resisten terhadap antibiotik menyebabkan lebih dari 33.000 kematian di Uni Eropa setiap tahun. Para ilmuwan mengatakan kondisi memburuk sejak 2007.

Menurut studi Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) diperkirakan sekitar 33.000 orang di Uni Eropa meninggal setiap tahun setelah terinfeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotika. Italia dan Yunani adalah dua negara dengan korban terbanyak.

Analisis yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Infectious Diseases memperingatkan bahwa beban patogen ini serupa dengan HIV, flu dan tuberkulosis.

“Infeksi karena bakteri resisten antibiotik mengancam kesehatan modern,” tulis para peneliti. Mereka melacak peningkatan signifikan angka kematian dari tahun 2007 yang mencapai 25.000 kematian.

Bayi dan orang tua paling berisiko, dengan tiga perempat pasien terinfeksi di rumah sakit dan klinik kesehatan. Para peneliti juga mencatat perbedaan yang besar di antara negara-negara di Eropa.

 

Perbedaan di Uni Eropa

Studi ECDC menggunakan data dari 2015 dan melihat lima jenis infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten antibiotik di Uni Eropa dan Kawasan Ekonomi Eropa.

Yunani dan Italia adalah yang paling parah, sementara tingkat infeksi lebih rendah di negara-negara Eropa utara. Di Jerman, misalnya, hanya ada kurang dari 55.000 infeksi patogen yang resisten terhadap obat dan menyebabkan sekitar 2.400 kematian.

Pakar kesehatan telah lama memperingatkan tentang bahaya yang ditimbulkan oleh “superbug” – bakteri yang mampu bertahan dari antibiotik paling kuat. Ini pun sebenarnya upaya terakhir dalam kasus di mana tidak ada pilihan pengobatan lain yang tersisa.

“Ketika ini (antibiotika) tidak lagi efektif, sangat sulit dan tidak mungkin untuk mengobati infeksi,” kata ECDC dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Reuters.

Penulis penelitian menekankan bahwa mengatasi tantangan kesehatan yang sangat besar ini akan membutuhkan koordinasi di tingkat Uni Eropa dan global, serta “strategi pencegahan dan kontrol yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara.” vlz/hp (Reuters/JPC)