Balitbangtan: pola “zigzag” dongkrak produksi jagung 20 ton/ha

16 views
Balitbangtan: pola "zigzag" dongkrak produksi jagung 20 ton/ha

Balitbangtan: pola “zigzag” dongkrak produksi jagung 20 ton/ha

Beritacyber.com –  Pola tanam zigzag dengan bantuan pupuk fosfat alam terbukti kapabel mendongkrak produksi jagung hingga 20 ton/hektare.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr. di Jakarta, Pekan, mengatakan teknologi tanam zigzag membikin sinar matahari yang menyinari tajuk jagung tak terhambat daun jagung yang saling menaungi seandainya ditanam lurus.

 

“Efeknya laju fotosintesis optimal sehingga produksi hasil fotosintesis optimal,” kata Dedi.

 

Sementara pemberian batuan fosfat alam memasok faktor hara P yang kurang tersedia di tanah masam di Indonesia.

 

Dia mengatakan, di Indonesia lebih dari dua pertiga tanah bereaksi masam dan memiliki kadar C-organik rendah (kurang 2 persen) sehingga ketersedian faktor hara N P, K, Ca, dan Mg rendah.

 

“Batuan fosfat mengandung P, Ca, dan Mg tinggi serta dapat meningkatkan pH,” kata Dedi.

 

Oleh karena itu, dia menambahkan, pemberian batuan fosfat alam atau rock phosphate langsung di tanah masam amat tepat sasaran dan efisien dibandingkan pupuk variasi SP-36 atau TSP.

 

“Tak perlu diolah di pabrik sehingga harga lebih murah,” katanya.

 

Badan Litbang Pertanian sudah melaksanakan kerja sama penelitian jangka panjang dengan OCP SA Morocco sebuah BUMN Pupuk dari Kerajaan Maroko yang memiliki rock phosphate mencapai 75 persen deposit dunia.

 

“Maroko berpotensi besar sebagai pemasok kebutuhan pupuk P di dunia,” kata Dedi.

 

Aplikasi penemuan kreatif teknologi berupa kombinasi tanam zigzag dengan pupuk batuan fosfat alam di sebagian lahan kapabel mewujudkan jagung 20 ton per ha atau seimbang tiga kali lipat hasil rata-rata petani.

 

“Biasa kami cuma panen 6-7 ton per ha,” kata Budiono, petani di Desa Gunung Raja, Kecamatan Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut.

 

Hasil serupa dipetik para petani ketika demplot jagung di Lampung.

 

“Penampilan daun jagung lebar berwarna hijau tua dengan batang besar dan kokoh. Hasil jagungnya juga berlimpah,” kata Wayan Sukade, petani Jagung di Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Propinsi Lampung.

 

Berdasarkan Dr I Putu Wigena, peneliti Balai Penelitian Tanah Bogor, batuan fosfat alam menjadi larut ketika diberi pada lahan masam.

 

“Terjadi pelepasan P dari batuan fosfat secara pesat sehingga tanaman langsung dapat menyerap,” kata Putu.

 

Berdasarkan dia, batuan fosfat juga memiliki efek residu yang lama sehingga manfaatnya dapat bertahan hingga 4-5 musim tanam cuma dengan cukup sekali sebanyak 1 ton per hektare.

 

Demplot di Kebun Percobaan Balittanah di Taman Bogo, Lampung menampilkan rata-rata produktivitas jagung  10-11 ton/ha untuk 4-5 kali musim tanam.

 

Penelitian juga menampilkan bahwa efek residu amat menghemat tarif pembuatan dan aplikasi pupuk fosfat (P).

 

Dengan demikian kata dia, hakekatnya teknik di masa lalu berupa aplikasi pupuk P yang diasamkan di lahan kering masam menjadi percuma.

Incoming search terms: