Banyak Diuntungkan, Ini Kelemahan Pasangan Jokowi-Ma’ruf

5 views

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Banyak pengamat menilai, pasangan calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo – KH. Ma’ruf Amin diuntungkan dari berbagai segi. Namun, bukan berarti tidak ada celah bagi lawam politiknya untuk mengalahkan pasangan tersebut pada pemilihan presiden tahun depan.

Pengamat politik M. Qodari misalnya, menyebut salah satu pertarungan pilpres mendatang adalah suara kaum milineal yang mempunyai ceruk suara hingga 40 persen. Menurutnya, yang dikatakan milenial adalah punya kesempatan lebih besar untuk mengakses media konvensional dan media sosial.

Jika menilik pola akses media, Jokowi lebih banyak diuntungkan karena followernya lebih besar dibanding lawan politiknya, yaitu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Saya sudah melihat data, jadi kalau paling banyak pengikut di Twitter misalnya, follower Jokowi berjumlah 10,4 juta, Prabowo hanya 3,3 juta. Jadi siapa yang unggul? Kemudian, kalau Sandi 1 juta follower dan Ma’ruf hanya 8.000. Di instagram, Jokowi punya pengikut 12,1 juta, Prabowo cuma 1,6 juta. Sedangkan Sandi 2 juta dan Ma’ruf cuma 4 ribu. Jadi jomplang sekali, ” kata Qodari pada diskusi publik G-MUI di Warung Daun, Jakarta, Senin (24/9).

Kata Qodari, kalau dari segi calon presiden, Jokowi memang lebih banyak unggul di media sosial. Hal ini dikarenakan, dari segi konten memang unggul dengan lebih sering menampilkan elemen gaya hidup yang tentunya juga lebih dejat dengan generasi milineal.

“Walaupun nggak tahu cocok apa nggak. Tapi Jokowi lebih kontemporer daripada Prabowo yang bisa kita lihat dari gaya berpakaiannya. Prabowo lebih ke angkatan ’45. Kalau gaya berpakaian Jokowi lebih ke generasi x, Prabowo lebih ke generasi tradisonal, ” katanya.

Kelemahanya memang, lanjut Qodari, dari segi wakilnya. Ma’ruf bisa jadi merupakan generasi tradisional. “Yang jelas saya nggak setuju kalau Ma’ruf dibikin milineal. Gimana caranya?. Karena yang disebut milineal itu campuran dari generasi x dan y atau secara umur sekira 17 tahun hingga 40 tahun, ” katanya.

Qodari juga mencatat kelemahan paling krusial pasangan Jokowi-Maruf, yaitu lemahnya jaringan Islam. Menurutnya, lawan keras Jokowi adalah kelompok Islam. Meskipun, kata dia, bukan semua Islam. “Karena Islam ada yang tradisional dan itu manifestonya dalam bentuk organisasi NU. Kelemahan Jokowi, lemah di kalangan Islam modernis,” kata dia.

Karena itu, sudah tidak ada waktu bagi Jokowi untuk segera membuat strategi cerdas agar bisa masuk ke dalam kelompok ini. “Jadi sudah nggak ada waktu lagi kalau merangkul semua komunitas. Paling penting saat ini adalah, komunitas Islam modernis dan terutama yang milenial,” kata dia.

Sementara itu, peneliti senior LSI Ikram Masloman mengatakan, bagi kaum milenial demokrasi adalah sebuah kekecawaan. Makanya, mereka cenderung lebih suka kegiatan yang berbau sosial.

“Memang ada karakteristik generasi milineal walaupun ceruk mereka besar, tapi tidak mudah menggiring untuk berpolitik. Misalnya, maraknya Change.or.id, itu menjadi ruang pertarungan generasi milenial, ” kata Ikram.

Untuk mendekati kaum milineal, kata Ikram, caranya adalah melalui hobi. Sementara, agama berada di urutan nomor 6. Hobi itu sendiri ada tiga yang bisa dijadikan untuk alat pendekatan.

“Hobi itu ada 3, film, musik, olah raga. Ini sudah jadi panduan pasangan Capres-Cawapres,” katanya.

“Generasi milenial hari ini, mereka menjadi kelompok yang terjepit. Mereka kritis, punya banyak kreasi tapi tidak banyak akses terutama untuk pekerjaan. Sehingga, mereka punya tuntutan yang cukup penting, ” kata dia.

Senada dengan Qodari, Ikram juga menyatakan, bahwa Jokowi lebih unggul di kalangan milenial. Hal itu dapat dilihat dari aproval rating atau kepuasan terhadap pemerintahan Jokowi yang cenderung tinggi.

Namun, Ikram mengingatkan, kepuasaan ini bisa menjadi bumerang ketika terjadi dilegitimasi kubu lawan. “Bisa saja kelompok lawan mendeligitimasi lebih kencang. Misalnya, pemerintah gagal membangun ekonomi. Kalau ini tidak dicounter, nanti bakal menggerus suara, ” kata dia.

Sebaliknya, bila Prabowo gagal meyakinkan pemilihnya, mereka justru akan balik kanan. Karena itu, Prabowo perlu membuat kajian yang matang sehingga mampu menjadi trend positif bagi pasangan ini.

Ditambahkan penganat politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno yang mengatakan, Jokowi juga banyak diuntungkan dengan dukungan para kepala daerah. Bahkan, yang cukup mengherankan, kepala daerah yang didukung oposisi pun ikut mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf.

“Coba lihat kepala daerah yang punya afiliasi ke Capres. Kalau dilihat, Jokowi lebih untung, bahkan bukan hanya partai koalisi, bahkan partai yang selama ini jadi oposisi banyak yang dukung, ” kata dia.

Dari segi kaum milenial, Adi justru berpendapat, Prabowo lebih diuntungkan karena memiliki wakil yang usianya paling muda di antara kandidat. Sayangnya, kaum milenial yang cenderung open minded, justeru bakal menjadi petaka kalau tidak bisa dikelola dengan baik. Sebab, meski cenderung lebih peduli pada isu-isu inklusif, tapi juga liar.

“Karakteristik milenial ini cenderung selfis, dan nggak peduli orang lain. Dia narsis, nggak pedukian. Makanya, dalam konteks ini, milenial itu angin-anginan tergantung arah angin, ” tukasnya.

Dari segi gerakan kampus, menurut Adi, Jokowi juga lebih banyak diuntungkan. Sebab, selain IMM, Jokowi bisa dibilang menguasai cukup banyak organisasi pergerakan mahasiswa. Seperti PMKRI dan GMNI.

Untuk kelompok keagamaan, Muslim tanpa masjid juga patut menjadi perhatian kedua belah pihak. Sifatnya yang lebih bebas dalam mencari referensi keagamaan, membuat sulit terbaca kemana arahnya.

“Kalau tradisional gampang dibaca. Tapi muslim tanpa masjid yang mereka itu belajar hanya dari Youtube, ini liar. Jadi mereka harus dibaca lagi kemana arahnya, ” kata dia.

“Pada intinya, generasi milenial, nggak terlalu sika terhadap isu politik,” imbuhnya. (Aiy/Fajar)