Besok, Sidang Vonis Mantan Gubernur Sultra

9 views

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kasus dugaan penyalahgunaan wewenang, mantan Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Nur Alam memasuki akhir cerita. Besok (Rabu, 28/3) palu Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta Pusat akan menjadi penentu nasib mantan orang nomor satu di Sultra tersebut, apakah bersalah atau tidak.

Dalam sidang tuntutan, Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK) menuntut Nur Alam dengan penjara 18 tahun dan denda Rp. 1 miliar. Tak hanya itu, hak politik Nur Alam juga dicabut selama 5 tahun pasca menjalani masa hukuman.

Kuasa hukum Nur Alam, Didi Supriyanto mengaku siap dengan agenda sidang pembacaan putusan terhadap kliennya. Meski dituntut 18 tahun kurungan penjara, Didi tetap optimis dengan keputusan Hakim besok. “Kita tetap optimis terhadap hasil yang akan dibacakan oleh majelis hakim besok,” tuturnya saat dihubungi via selulernya, kemarin di Jakarta.

Namun, melihat tuntuntan Jaksa KPK, Didi berharap majelis hakim bisa secara obyektif melihat dan mempertimbangkan fakta persidangan yang terungkap dalam persidangan. “Sehingga keputusan tidak terpengaruh dengan tuntutan JPU yang dasarnya diluar fakta persidangan. saya sangat berharap Hakim bisa obyektif,” harapnya.

Didi pun menilai KPK menerapkan pasal ‘gemes’ terhadap kliennya. Pasalnya, dengan hanya dugaan memperkaya diri sendiri sebesar Rp 2,7 miliar seperti yang dituduhkan Jakasa, Kemdia dituntut selama 18 tahun dan denda Rp 1 miliar saja.

“Kayaknya KPK pakai pasal gemes saja. Kemudian fakta dalam persidangan pun tidak ada yang membenarkan apa yang menjadi tuntutan KPK. Justru KPK melebar sampai kemana-mana. Seperti kerugian negara, tak ada saksi atau pun ahli yang membenarkan atas tuduhan KPK bahwa adanya kerugian negara sebesar Rp 3 triliun lebih,” ungkapnya.

Sementara itu, peluang untuk melakukan banding jika Hakim memvonis Nur Alam bersalah, Didi enggan berkomentar. Menurutnya, pihaknya tidak ingin berspekulasi terhadap putusan hakim besok. “Kita tunggu saja putusan hakim kemudian kita bicarakan terhadap langkah hukum yang akan diambil. Tapi kalau KPK banding tentu kita akan siap mendampingi klien kami sampai menyelesaikan persoalannya,” ujarnya.

Sedangkan pihak keluarga pun enggan berkomentar banyak. Tina Nur Alam sang istri Nur Alam enggan berkomentar jelang putusan hakim yang akan dilaksanakan Rabu 28 Maret 2018. Namun ia tetap yakin bahwa sang suami tidak bersalah. “Saya hanya mohon doa dari seluruh keluarga dan masyarakat Sulawesi Tenggara,” pungkasnya. (yog/fajar)