Cara Dramatis Gede Adi Ariawan Selamat dari Maut di Tengah Laut

9 views

Kamis (22/3/2018) adalah hari yang sulit dilupakan oleh Gede Adi Ariawan. Nelayan asal Banjar Dinas Kalibukbuk, Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng ini, nyaris saja tewas tenggelam di tengah laut.

============

SETELAH jukung (perahu) yang digunakannya untuk memancing terseret arus laut hingga sejauh tujuh kilometer. Ariawan pun sempat terkatung-katung selama berjam-jam di tengah laut dengan mengikatkan badannya pada rumpon ikan, sebelum akhirnya ia diselamatkan pada Jumat pagi (23/3/2018).

Sore itu cuaca memang sedang mendung. Namun, tak menyurutkan niat pria berusia 22 tahun ini untuk melaut. Ariawan berangkat sekitar pukul 16.00 Wita bersamaan dengan beberapa nelayan lain yang masing-masing menggunakan jukung.

“Sebenarnya ketika mau berangkat mancing, firasatnya sudah tidak enak. Saat melihat anak saya itu kok rasanya tidak enak. Ternyata ini (musibah) maksudnya,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), kemarin.

Agar mendapatkan ikan tongkol, Ariawan harus mengarahkan jukungnya ke timur laut sejauh dua kilometer dari bibir pantai.

Setelah hampir dua jam lamanya memancing dan cukup mendapatkan ikan, Ariawan pun memilih pulang. Selain itu, cuaca mendung yang disertai hujan serta petir menyambar, membuatnya takut untuk berdiam lebih lama di tengah laut.

“Kejadiannya sekitar jam 18.00 Wita. Tiba-tiba mendung sampai-sampai saya tidak melihat apa-apa. Mau pulang tapi sudah bingung arahnya kemana. Karena ombaknya besar, sampai arah jalan pulang terganggu,” kara Ariawan, saat ditemui di rumahnya, Jumat sore (23/3/2018).

Kondisi kian diperparah lantaran mesin jukungnya mati. Kekhawatirannya kian memuncak setelah jukungnya terbawa derasnya arus kian ke tengah hingga berjarak sekitar tujuh kilometer.

Parahnya lagi, Ariawan tak melengkapi dirinya dengan alat pengaman berupa jaket pelampung saat berangkat memancing.

Namun, takdir berkata lain. Rupanya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada Ariawan untuk tetap bertahan hidup. Tiba-tiba dia melihat sebuah gundukan yang dikiranya adalah kapal laut. Tetapi setelah didekati, gundukan yang sebelumnya dikira kapal laut, ternyata hanya sebuah rumpon bambu.

Tak kehabisan akal, Ariawan mencoba bertahan hidup di tengah kegelapan. Ia langsung mengikatkan jukungnya di rumpon itu. Setelah itu, giliran badannya juga ia ikat dengan tali di rumpon, agar tak terbawa arus laut. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan diri.

“Setelah melihat rumpon, saya agak optimis bisa selamat,” ujar suami Putu Dewi Tara ini.

Di tengah derasnya hujan disertai petir yang menyambar-nyambar, membuat badannya menggigil kedinginan. Perut yang kian terasa lapar membuat badannya kian gemetar. Di tengah ketidakpastian itu, Ariawan hanya bisa berdoa agar bisa melihat nelayan atau kapal laut pengangkut barang melintas dan menolongnya.

“Setiap kedinginan, saya langsung menceburkan badan ke laut. Direndam, karena air laut agak hangat. Setelah itu, naik lagi ke rumpon. Perutnya sudah terasa lapar. Pokoknya saat itu hanya berdoa agar ada nelayan yang melintas biar dibantu. Karena saya tidak bawa handphone saat berangkat memancing,” akunya.

Di tempat lain, keluarga Ariawan kian dibuat cemas menanti kedatangannya. Sebab, semestinya Ariawan pulang sekitar pukul 19.00 Wita. Apalagi ditambah kondisi cuaca buruk disertai hujan dan petir. Situasi ini membuat keluarga Ariawan kian panik dan meminta pertolongan kepada nelayan setempat.

Belasan nelayan yang tergabung dalam kelompok Karya Bakti Segara akhirnya turun tangan membantu melakukan pencarian. Selain itu, pihak nelayan juga meminta bantuan kepada Badan SAR Nasional (Basarnas) dan BPBD Buleleng.

“Proses pencarian mulai dilakukan sekitar pukul 19.00 Wita. Kita bagi menjadi dua kelompok. Ada yang ke barat hingga ke perairan Seririt dan ada yang ke timur hingga ke Singaraja. Pencarian dilakukan sampai Jumat pukul 02.30 Wita dini hari. Tapi belum berhasil ditemukan,” kata Kelian Banjar Dinas Kalibukbuk, Gede Suarjana yang ikut melakukan pencarian.

Meski pencarian tak membuahkan hasil, namun tak membuat belasan nelayan putus asa. Proses pencarian kembali dilakukan sekitar pukul 05.00 Wita dengan melibatkan tim yang lebih banyak dari Kelompok Snorkling Dolphin.

“Setelah 30 menit melakukan pencarian, sekitar pukul 05.30 korban berhasil ditemukan dengan posisi tujuh kilometer dari bibir pantai, tepatnya di Perairan Desa Pemaron. Ariawan ditemukan oleh nelayan bernama Putu Leong. Setelah ditemukan, akhirnya diinformasikan kepada Basarnas dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sehingga pencarian dihentikan” imbuh Suarjana.

Selanjutnya, korban Ariawan langsung diberikan penanganan medis di Puskesmas Anturan. Dikatakan Suarjana, kondisi korban lemas lantaran dehidrasi setelah berjam-jam di tengah laut.

Suarjana pun tak menampik, saat melaut Ariawan tak dilengkapi dengan peralatan keselamatan. Sebab, aktivitas memancing hanya dilakukan pada jarak dua kilometer saja, sehingga tidak membutuhkan peralatan keamanan seperti jaket pelampung. “Mungkin karena tempat memancingnya hanya dua kilometer, makanya tidak menggunakan jaket pelampung,” bebernya.

Pengalaman pahit ini rupanya membuat ayah dari Luh Putu Adelia Purnama Sari, mengaku sedikit trauma untuk melaut. Ariawan mengaku kapok melaut tanpa dilengkapi jaket pelampung serta alat komunikasi. Pasca kejadian, Ariawan langsung dibuatkan upacara ngulapin dengan tujuan menghilangkan trauma psikis akibat terseret arus gelombang laut. “Ini pelajaran yang sulit dilupakan buat saya. saya bersyukur selamat dari maut,” tutup Ariawan. (bx/dik/yes/JPR)