Diduga Uang Korupsi Terpakai untuk Beli rumah dan Mobil

3 views

FAJAR.CO.ID, SAMARINDA- Ketua LPK Jmicron, Ednand Apria Danthus menjalani persidangan dengan agenda penuntutan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Samarinda, Dony, Rabu (16/5) sore kemarin.

Dalam tuntutannya, JPU menganggap perbuatan Endand terbukti melanggar pasal Pasal 2 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
JPU menuntut agar majelis hakim dipimpin Joni Kondolele, didampingi hakim anggota Anggraeni dan Fery Haryanta menjatuhkan hukuman penjara selama 7,5 tahun dan denda Rp 200 subsider 3 bulan kurungan jika tak mampu membayarnya.

Tak hanya itu, JPU juga mengharuskan Ednand membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 1,3 miliar subsider kurungan penjara selama 3 tahun 9 bulan kalau dia tak bisa membayar.
“Kemudian rumah, tanah dan mobil yang diduga dibeli terdakwa (Ednand, Red)  dari hasil kejahatannya dirampas untuk negara,” ujar JPU Dony.

Majelis hakim mempersilakan pihak Ednand dan kuasa hukumnya untuk menyampaikan pembelaan (pledoi) atas tuntutan yang dibacakan JPU.

Ednand dibekuk anggota Polresta Samarinda karena diduga melakukan korupsi yang bersumber dari dana hibah APBD-P Provinsi Kaltim 2013. Dana hibah bansos yang diterima LPK yang menjalankan kursus komputer tersebut totalnya Rp 1.450.000.000.

“Dari dana yang diterima tersebut yang digunakan untuk keperluan kegiatan LPK hanya sekitar 72 juta. Sedangkan sisanya, berdasarkan audit BPKP Perwakilan Kaltim sebesar kurang lebih Rp 1,3 miliar lebih digunakan diluar keperluan LPK,” kata JPU Dony.

“Dana tersebut digunakan terdakwa membeli tanah, rumah, mobil Suzuki Ertiga dan membayar angsuran kredit di perusahaan pembiayaan sampai untuk keperluan biaya hidup sehari-hari,” kata Dony lagi. (rin)