Diserang Isu Dinasti, Ichsan YL: Saya Tak Bisa Memesan Jangan Lahirkan Bersaudara dengan Pak Syahrul

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Seiring hasil survei Ichsan Yasin Limpo terus naik, serangan dan kampanye hitam kini terus dialamatkan tiga bulan jelang pencoblosan.

Diantara berbagai serangan yang dialamatkan, isu dinasti tergolong paling massif. Bahkan setiap saat dimunculkan demi menjatuhkan pasangan Andi Mudzakkar ini.

Munculnya isu dinasti, dimassifkan setelah beberapa hasil survei menempatkan kandidat nomor urut 4 ini, berada di posisi pertama atau mengungguli tiga rivalnya di Pilgub Sulsel.

Isu ini dimainkan di media online tertentu, baik yang bisa dikendalikannya maupun dibuat khusus untuk menyerang pasangan usungan koalisi rakyat tersebut. Dan otaknya kini mulai ketahuan.

Terkait black campaign itu, Ichsan menanggapi santai. Ia tidak mau terjebak apalagi terpengaruh. Baginya, menawarkan ide dan gagasan untuk mewakafkan diri membangun Sulsel jauh lebih produktif ketimbang membahas hal yang tidak bermanfaat.

Baginya, isu dinasti bukan hal baru yang dialamatkannya. Di setiap momentum politik, isu ini selalu dimunculkan. Tapi rakyat tak mudah terpengaruh soal itu, karena tetap yang dilihat adalah latar belakang figur, kemampuan, dan pengalamannya.

“Pilgub dan Pilkada itu bukan penunjukan dari mereka yang memimpin. Tapi rakyat yang menentukan. Dan banyak fakta di Indonesia, keluarga kepala daerah tidak terpilih di pilkada, karena figurnya tidak diterima dengan baik. Jadi sekali lagi, pemilihan itu sangat ditentukan oleh figur dan tawaran program, serta jaringan yang dimiliki,” kata Ichsan saat ditanya wartawan, Senin (26/3/2018).

Selain itu, ia tidak bisa memesan untuk tidak dilahirkan bersaudara dengan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.

“Tidak ada yang bisa memesan. Tidak ada yang bisa order kepada Allah SWT, bahwa lahirkan saya tidak bersaudara dengan Pak Syahrul,” ucapnya.

Meski bersaudara dengan Syahrul Yasin Limpo, Ichsan bukan lah figur yang sekadar “aji mumpung”. Sebab dia berproses dari bawah hingga terpilih atas kehendak rakyat sebagai Bupati Gowa dua periode melalui pemilihan langsung.

“Saya juga ingin membuat tabungan di akhirat, seperti Pak Syahrul. Tabungan itu, adalah berbuat yang terbaik kepada Sulsel dan anak cucu kita. Itu keinginan mulia saya,” urainya.

Sekadar diketahui, berdasarkan fakta, kepala daerah yang terlibat kasus korupsi di Indonesia, justru kebanyakan yang tidak memiliki dinasti.

Dari sekira 172 kepala daerah yang terlibat korupsi, hanya 6 diantaranya diketahui memiliki “dinasti” politik. Artinya, 166 lainya ternyata bukan dinasti.

Khusus di Sulsel, bahkan tidak ada dinasti yang pernah terlibat kasus korupsi. Namun dua kepala daerah yang dijeblokaskan ke dalam penjara bukan dinasti.

“Saya mau sampaikanki, ternyata dari 6 itu (kepala daerah korupsi), tidak ada di Sulsel,” tegas Ichsan yang juga disampaikan saat membawakan orasi politik di Kampanye Tertutup di Bulukumba, pekan lalu.(rls/fajar)