Divonis 4 Bulan, Ome Merasa seperti Nelson Mandela

10 views

FAJAR.CO.ID — Majelis hakim telah menjatuhkan putusan kepada terdakwa ujaran kebencian, yakni calon wali kota Akhmad Syarifuddin (Ome), dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Palopo, Senin sore (9/4/2018).

Jarum jam menunjukkan pukul 15.27 Wita. Sambil memegang palu sidang, Hakim Ketua, Arief Winarso SH, membacakan putusan (vonis) kasus ujaran kebencian dengan terdakwa Akhmad Syarifuddin.

“Dengan pertimbangan hasil sidang sebelumnya dan mempertimbangkan fakta-fakta persidangan. Maka terdakwa Akhmad Syarifuddin dinyatakan bersalah dan divonis hukuman pidana 4 bulan dan denda sebesar Rp 1 juta subsider 1 bulan penjara dengan hukuman percobaan selama 6 bulan,” kata Arief Winarso.

Lanjut Hakim Ketua, hukuman pidana tersebut tidak usah dijalani terdakwa, kecuali di kemudian hari ada putusan hakim menyatakan jika terdakwa melakukan tindak pidana yang sama, sebelum masa percobaan selama enam bulan.

Usai dibacakan putusan, Ome langsung disambut pendukungnya dengan haru. Para pendukung juga berteriak dan bertakbir didalam ruang sidang. Bahkan ada yang ‘nyeletuk’ minta lanjutkan dengan kasus lain.

Terkait putusan ini, Ome bersama kuasa hukumnya menyatakan masih pikir-pikir untuk banding.

Sesuai tuntutan jaksa, terdakwa Ome dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana ujaran kebencian sebagaimana dikenakan dalam pasal 187 ayat 2 junto pasal 69 huruf C UU nomor 10 tahun 2016, tentang perubahan kedua atas UU nomor 1 tahun 2015. Tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU nomor 1 tahun 2014, dalam pemilihan gubernur, bupati dan wali kota.

Barang bukti berupa satu unit handphone merek Samsung warna putih silver, dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu saksi Wahyudi Yunus.

Sebelumnya, sidang tuntutan yang digelar sekira pukul 10.45 Wita, oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kajaksaan Negeri Palopo antara lain Ikram M Saleh SH didampingi Sakaria Aly Zaid SH dan Erlysa SH membacakan tuntutannya. Secara panjang lebar dibacakan dihadapan persidangan.

Menurut JPU, sesuai dengan dakwaan tunggal yang didakwakan kepada terdakwa maka telah terbukti semua unsur sesuai keterangan beberapa saksi yang dihadirkan. Dalam memberikan tuntutan jaksa juga memberikan pertimbangan yaitu hal yang memeberatkan dan meringankan.

Di mana hal yang memberatkan perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat, sementara hal yang meringankan yaitu terdakwa sopan dalam persidangan. “Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Ahmad Syarifuddin dengan hukuman pidana selama empat bulan, denda Rp1 juta subsider 1 bulan penjara,” papar jaksa.

Usai tuntutan majelis hakim memberikan kesempatan kepada tim Penasehat Hukum (PH) terdakwa untuk mengajukan pembelaan (pledoi). Dari isi pembelaan yang dibacakan oleh PH terdakwa yang pada intinya menyatakan semua dakwaan yang alamatkan kepada terdakwa tidak terbukti.

“Kami dari penasehat hukum terdakwa memohon kepada majelis hakim yang mulia untuk membebaskan terdakwa dari semua jeratan hukum serta mengembalikan nama baik terdakwa. Namun jika majelis memberikan putusan mohon dengan seadil-adilnya,” terang Harla Ratda SH.

Dari pembelaan PH terdakwa tersebut JPU menyatakan tetap pada tuntutan. “Kami tetap pada tuntutan yang mulai majelis hakim,” kata jaksa Ikram M Saleh. Begitu pula dengan tim penasehat hukum terdakwa yang menyatakan sikap tetap pada pembelaannya.

Usai persidangan, calon wali kota Akhmad Syarifuddin langsung bergegas menuju pendukungnya yang sudah menunggu diluar kantor PN Palopo yang dibatasi kawat baja berduri. Mengenakan batik biru sambil memakai peci hitam, dari balik kawat berduri, Ome menyatakan, kasus ujaran kebencian yang menimpa dirinya ditengarai upaya kriminalisasi oleh oknum-oknum tertentu.

Dirinya sangat menyayangkan dugaan tindakan kriminalisasi terhadap dirinya. “Insya Allah akan lahir pemimpin baru di Kota Palopo. Bayangkan Nelson Mandela saja harus dipenjara 30 tahun. Biarkan masyarakat Palopo menentukan pilihannya sesuai hati nurani, jangan mi menggunakan segala cara untuk menjegal kami,” pungkasnya. (udy/idr)

Perjalanan Kasus Ujaran Kebencian:
1. 21 Februari 2018
Cawalkot Ome berorasi sekaligus Meresmikan Posko Pemenangan di Kelurahan Surutanga.

2. 23 Februari 2018
Mendapatkan video orasi, simpatisan JUARA melapor ke Gakkumdu terkait isi orasi Ome yang dianggap memfitnah.

3. 14 Maret 2018
Gakkumdu Palopo menetapkan Ome sebagai tersangka ujaran kebencian, sekaligus melayangkan panggilan pertama terhadap Ome.

4. 16 Maret 2018
Gakkumdu Melayangkan Panggilan Kedua terhadap Ome. Namun, Ome tidak hadir dengan alasan rakor di DPP Hanura di Jakarta.

5. 26 Maret 2018
Gakkumdu Sulsel menjemput Ome di Bandara Sulhas dilanjutkan pemeriksaan di Makassar.

6. 5 April 2018
Sidang perdana ujaran kebencian digelar di PN Palopo, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi.

7. 6 April 2018
Sidang kedua kasus ujaran kebencian digelar di PN Palopo mendengarkan keterangan saksi meringankan.

8. 9 April 2018
Sidang ketiga sekaligus putusan kasus ujaran kebencian. Hakim memutuskan vonis 4 bulan pidana dengan denda
Rp1 juta subsider 1 bulan penjara, dengan hukuman percobaan 6 bulan terhadap terdakwa Ome.

4 Sangkaan dalam Orasi Ome:
– Hampir tidak ada ditemukan didaerah lain pemerintah memusuhi ulama kecuali di Palopo.
– Hasil pembangunan hanya dinikmati segelintir orang, yakni anak, cucu, dan kemenakan.
– Antara pemerintah dan Kedatuan Luwu tidak harmonis.
– Untuk mendapatkan mesin hibah pertanian Combine, kelompok petani harus membayar Rp50 juta.