Dua Kali Tikam Suami, Ibu Ini Sempat Bertemu Si “Pelakor” di RS

18 views

FAJAR.CO.ID — Jajaran Polsek Seberang Ulu (SU) I, Palembang, Sumatera Selatan, tengah memproses kasus pembunuhan seorang suami yang dilakukan oleh istrinya.

Tersangka, Suciaty (37) telah ditahan. Sedangkan sang suami yang ia bunuh, almarhum Isnadi (39), kemarin (8/3), sekitar pukul 10.30 WIB sudah dikebumikan keluarganya di TPU Sedih dan Pilu, Kemas Rindo, Kertapati.

Kapolsek SU I, Kompol Mayestika, melalui Kanit Reskrim, Ipda Alkap, mengatakan, sudah empat orang saksi diperiksa penyidik. “Mereka Edi (adik ipar tersangka), Hartono, Sukartini, dan Lasmi,” ungkapnya.

Ke depan, masih ada para saksi lain yang juga akan dipanggil. Dimintai keterangan, terkait penyidikan kasus ini. “Tersangka sendiri masih juga dalam pemeriksaan,” kata Alkap.

Untuk sementara, dari pengakuan tersangka, pembunuhan tersebut sudah direncanakan. Khususnya ketika wanita tersebut melukai korban kedua kalinya di rumah sakit. “Karenanya, tersangka terancam pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana,” tutur Alkap.

“Ancaman hukuman minimalnya 20 tahun atau seumur hidup. Maksimal, hukuman mati,” bebernya.

Pantauan Sumatera Ekspres (FAJAR Group) di Mapolsek SU I, Suciaty menempati sel berukuran sekitar 3×3 meter persegi. Dia menghuni tempat itu bersama seorang tahanan wanita lainnya. Kemarin, wanita berambut sebahu itu tampak dijenguk keempat anaknya: Ade (21), Iswandi (19), Nadia (11), dan Raihan (5).

Mereka membawakan mukena dalam kantong asoy warna kuning untuk ibu mereka. Tampak dua wanita, tetangga tersangka yang datang ke polsek untuk bertemu Suciaty. Mereka membawa makanan. “Kami kasihan dengan Suci,” ujar perempuan berjilbab itu tanpa mau menyebutkan namanya.

Terpisah, pihak RSUD Palembang Bari juga angkat bicara seputar kejadian dua hari lalu. Dijelaskan Wakil Direktur (Wadir) Umum Fathul Korip, pasien (Isnadi) tiba di rumah sakit sekitar pukul 07.00 WIB. “Diantar beberapa orang,” kata dia didampingi Kepala Keamanan RSUD Palembang Bari, Ahmad Lani dan koordinator dari Polsek SU I Aiptu Hambali, kemarin.

Tidak diketahui pasti siapa saja yang mengantarkan korban pagi itu. “Tapi ada wanita yang ikut mengantar,” tambahnya. Setelah itu, orang-orang yang mengantarkan korban pulang. “Nah, kami ‘kan jadi bingung, siapa keluarga pasien ini,” beber Fathul.

Meski begitu, tindakan langsung diberikan untuk menolong korban. Sesuai standar yang ada. Sembari proses adminstrasi berjalan, tim medis juga terus memantau perkembangan kondisi korban di IGD. “Pasien akan dioperasi, tapi menunggu kondisinya 70 persen stabil dulu,” jelasnya.

Selama itu, kondisi korban terus dipantau. Pihak rumah sakit juga berusaha menghubungi keluarga korban yang dapat bertanggung jawab. Termasuk memberikan izin untuk dilakukan tindakan operasi. “Akhirnya, kami dapat keluarganya yang tinggal di OPI. Mereka ke rumah sakit, lalu mendapatkan penjelasan dari dokter. Setelah itu, mereka pulang dan malah tidak kembali lagi,” ungkap Fathul.

Selama proses perawatan di IGD, pihak rumah sakit memang memperbolehkan ada keluarga pasien yang menunggu. Sesekali mengecek ke dalam.

Makanya, saat siangnya istri korban (Suciaty) datang. Tak ada kecurigaan sama sekali terhadapnya. “Sejak pasien dirawat, keamanan kami stand by, terus memantaunya. Ketika istrinya datang, tentu kita tidak curiga,” tambahnya.

Hanya saja, tidak disangka sama sekali, kalau kedatangan wanita itu untuk melukai kembali pasien yang sebenarnya dalam persiapan untuk operasi. “Sekuriti langsung mengamankan pelaku di parkiran depan, termasuk menyita pisau cap garpu dengan panjang sekitar 25 cm yang digunakannya untuk menusuk pasien,” imbuh Fathul.

Sementara, tim medis di IGD langsung memberikan pertolongan, tapi sebelum sempat dioperasi, nyawa pasien tak tertolong. “Itu sekitar pukul 13.50 WIB meninggalnya. Luka kedua dekat luka tusuk pertama,” ujarnya.

Ditambahkan Ahmad Lani, kepala keamanan RSUD Palembang Bari, ada anggotanya yang terus memantau kondisi pasien. “Tapi kami benar-benar tidak menduga, kalau istrinya sendiri yang melakukan itu,” jelasnya.

Kata Lani, pengakuan pelaku saat diamankan, dia memang sakit hati dan ingin suaminya meninggal. “Katanya, selama kurang lebih 20 tahun menikah, dia sering dianiaya. Ibu itu cerita sambil menunjukkan bekas-bekas luka di tubuhnya akibat perbuatan sang suami,” tutur Lani.

Jajarannya juga mengetahui ada wanita idaman lain (WIL) sang pasien—lagi tren disebut pelakor (perebut laki orang) yang datang ke IGD setelah penusukan kedua. “Antara ibu yang menusuk dan wanita itu sempat bertemu juga,” ujarnya.

Tapi, tindakannya yang melukai pasien tetap tak dibenarkan. Pihaknya kemudian menghubungi jajaran Polsek SU I. Tak lama kemudian, personel kepolisian datang dan membawa pelaku penusukan itu ke Mapolsek.

“Kami memang selalu berkoordinasi sehingga begitu diketahui ada kejadian, langsung bergerak cepat,” tambah Aiptu Hambali.

Sementara itu, dugaan perselingkuhan Isnadi dengan H sudah jadi rahasia umum di kalangan warga Jl Kemas Rindo, Lr Segayam, Kelurahan Ogan Baru, Kertapati. Kabarnya H merupakan seorang janda yang tinggal di RT berdekatan dengan tempat tinggal almarhum.

“Sudah tiga bulan ini terdengar cerita itu,” ujar seorang warga setempat. Keributan dalam rumah tangga Suciaty dan almarhum juga sudah biasa didengar warga. Hampir setiap hari. Tidak siang, tidak malam,

Pernah saja, pada Februari lalu, Suciaty datang ke rumah ketua RT 42, Leni (36). “Kondisi wajahnya lebam, ada goresan di leher dan dada. Kata Suci, dia habis dipukuli suaminya,” kata Leni.

Anak sulung korban, Ade (21), ucap Leni, pernah juga datang ke rumahnya dan meminta perlindungan. “Katanya dia dimarahi dan diancam ayahnya,” sambungnya. Sebagai ketua RT, dia mengaku prihatin dengan kejadian tersebut.

Ningsiati (30), adik Suciaty membenarkan kalau peristiwa berdarah saudarinya dengan kakak iparnya dipicu soal orang ketiga yang berstatus janda. “Ayuk marah setelah tahu kakak ipar ada di rumah janda itu,” cetusnya.

Ceritanya, penusukan pertama terjadi di dalam rumah, sekitar jam 6 pagi. Dalam keadaan terluka tusuk perut bagian atas, Isnadi sempat mendobrak pintu hingga jebol agar mendapatkan pertolongan.

Melihat almarhum terluka, Edi, adik ipar Suciaty menolong korban dan membawanya ke RSUD Palembang Bari naik becak. “Selama perjalanan, beberapa kali Isnadi mengucap istighfar,” cerita Edi.

Setelah mengantarkan Isnadi, Edi pun pulang ke rumah. Mereka tidak tahu kalau Suciaty siangnya diam-diam ke IGD RSUD Palembang Baru dan kembali menusuk korban untuk kedua kalinya. “Tahu-tahu kami dapat kabar seperti itu,” tukasnya.

Edi mendapat kabar kalau Isnadi kembali ditusuk di rumah sakit dari ibu H. “Kata ibunya H, Isnadi ditujah lagi oleh Suciaty. Kami tidak menyangka jadi seperti ini,” bebernya.

Jenazah Isnadi telah dimakamkan di TPU Sedih dan Pilu Kertapati. Menurut seorang warga yang ikut ke pemakaman, anak bungsu almarhum tak mau mencium pipi sang ayah sebelum jenazahnya dimasukkan ke dalam keranda. “Seperti ketakutan,” tukas warga tersebut.

*Pidana Khusus

Pembunuhan yang dilakukan Suciaty terhadap suaminya, Isnadi bisa dikategorikan pidana khusus. Karena itu, kata kriminolog Sri Sulastri SH, lebih tepat jika sanksinya mengacu pada UU tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Dalam kasus ini, pelaku (Suciaty) juga korban KDRT dari korban (suaminya). Jadi kalau kita perhatikan, ini kategorinya pidana khusus,” beber dia.

Karena itu, yang dipakai seharusnya adalah UU tentang KDRT, yang tidak mengatur sanksi hukuman mati. “Karena sifat khususnya tadi, KUHP tidak diberlakukan dalam kasus ini,” pungkasnya.

Ketua Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Sumsel, Hj Titis Rahmawati SH, mengungkapkan, kasus istri bunuh suami ini merupakan kasus menarik. Banyak faktor yang bisa dijadikan pembelajaran dalam proses penegakan hukum. Dalam persidangan, akan banyak hal yang perlu dikaji lebih dalam.

“Tersangka kasus ini bisa dikenakan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan atau pun pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Tapi yang terpenting, latar belakang dan alasan dari peristiswa tersebut,” tandasnya.

Titis melihat, pembunuhan dilakukan karena ada ketakutan yang sangat dari pelaku.

Selama ini menjadi korban KDRT, pelaku khawatir akan dibunuh bila suaminya masih hidup. Diceritakan Titis, dari dua kasus yang pernah didampinginya 1994 silam, satu terdakwa divonis 4 tahun dan satunya lagi onslag atau tidak terbukti bersalah dan akhirnya dibebaskan.

“Kasus pertama, korban dibunuh karena khawatir akan membunuh kalau hidup. Jadi agar aman, klien saya itu membunuh. Majelis hakim menyatakan klien saya itu tidak terbukti berencana membunuh dan kasus KDRT yang dialaminya menjadi penyebab vonisnya ringan,” ulasnya.

Sedangkan kasus kedua, kliennya tersebut divonis bebas. Karena tidak terbukti sama sekali. Perbuatan yang dilakukan termasuk dalam kategori pembelaan diri. Apalagi terungkap fakta kalau kliennya sebelum dinikahi sempat diperkosa oleh korban (suaminya, red).

“Jadi karena ada ketakutan yang teramat sangat dirasakan oleh klien saya, sehingga perbuatan itu dikategorikan hakim sebagai pembelaan diri dan dia dibebaskan,” ulasnya.

Tapi, untuk kasus Suciaty, Titis melihatnya agak sedikit berbeda. Dari dua kali tindakannya, bisa dikategorikan pembunuhan biasa ataupun pembunuhan berencana. Hanya saja, sebelum kejadian, dia memang menjadi korban KDRT dan diancam akan dibunuh oleh korban.

“Kalau sifatnya membela diri karena terancam, bisa masuk kategori pembunuhan biasa. Tapi kalau sudah ada pembicaraan dan jeda waktu dan di lokasi yang berbeda, dapat dikategorikan pembunuhan berencana,” tuturnya.

Terkait kasus-kasus KDRT yang pernah disidangkan, humas PN Palembang, Saiman SH mengungkapkan kalau pihaknya harus merekapnya terlebih dahulu. “Biar data yang dikeluarkan lengkap,” tandasnya.

Sementara itu, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Sumsel mencatat, sepanjang 2017 ada 708 kasus KDRT. Rincinya, kekerasan fisik 343 kasus, psikis 100 kasus, seksual 226 kasus, trafficking 1 kasus, penelantaran 32 kasus, eksploitasi 2 kasus dan lainnya 79 kasus.

“Tekanan ekonomi dan perlakuan semena-mena (psikilogis) merupakan dua faktor utama terjadinya KDRT,” jelas Kepala BP3A Sumsel, Hj Susna Sudarti SE MM, kemarin.

Korban kekerasan akan diberikan pendampingan. Baik bantuan hukum maupun psikolog untuk memulihkan psikisnya. Kasus yang ada sedikit banyak akan mempengaruhi kejiwaan. Karena itu, dibutuhkan tenaga ahli yang bisa memulihkan kondisi mereka.

Terkait kasus penganiayaan istri terhadap suami, Susna mengungkapkan biasanya hal itu disebabkan konflik yang telah lama terjadi.

“Selama ini mungkin ditahan. Kemudian saat puncaknya, ya nekat tadi. Karena itu, harus dicari tahu dulu penyebabnya,” pungkas Susna. (afi/kos/wly/tha/vis/ce1)