Dua Penyebar Hoax Penculikan Anak dan Penjualan Organ Tubuh Ditangkap Polda Sulsel

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Dua orang yang diduga penyebar hoax dicokok Direktorat Reserese Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel. Mereka diduga menyebarkan kabar bohong soal penculikan anak di Makassar. Mereka adalah Nu (25), dan Us (28), keduanya warga Makassar.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombespol Dicky Sondani mengatakan, hoax yang disebar masif oleh kedua orang itu dianggap memperkeruh suasana. Masyarakat jadi cemas dengan kabar bohong yang bertebaran di media sosial.

“Ini kasus yang fenomenal sekali. Sebab yang bersangkutan ambil dari Facebook, kemudian di-share kemana-mana. Seolah-olah di Makassar terjadi hal demikian,” kata Dicky di Mapolda Sulsel, Selasa (6/11).

Selain penculikan anak, keduanya juga menyebarkan informasi hoax terkait penjualan organ tubuh manusia dan pencabulan di Kota Makassar.

“Jadi mereka ini meng-upload kembali video itu di Facebook dan disebar ke berbagai orang-orang yang ada di dalam itu. Akibatnya keresahan dan ketakutan muncul, warga khawatir kalau di Makassar ini rawan,” tambah Dicky.

Dua orang itu ditangani tim Subdit II unit Cyber berdasarkan Laporan Polisi (LP) LPR/ LI/1869/X/2018 / Dittipidsiber tanggal 29 Oktober 2018. Penangkapan sendiri dilakukan pada Senin malam (5/11).

“Sudah kami periksa kedua warga yang menyebarkan info berita hoax. Kami temukan juga barang bukti berupa gambar dan handphone yang dipakai,” jelas perwira polisi dengan tiga melati di pundak itu.

Meski belum ditetapkan sebagai tersangka, sejauh ini keduanya masih menjalani pemeriksaan intesif oleh tim penyidik. Jika dalam pemeriksaan terbukti, keduanya disangkakan melanggar ketentuan pasal 28 ayat 1 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman kurungan minimal 6 tahun penjara.

Dicky mengimbau agar masyarakar tetap tenang, tidak mudah terprovokasi tentang informasi-informasi yang belum jelas kebenarannya. Di Makassar, sejauh ini masih tetap kondusif, aman dan nyaman bagi siapapun yang ingin melakukan aktivitasnya.

“Masyarakat jangan mudah terperdaya dengan informasi yang menyesatkan. Kita semua masih aman-aman saja,” pungkasnya. (rul/JPC)