Eks Dirut Pertamina Ditahan di Rutan Pondok Bambu

8 views

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung (Kejagung) akhirnya menahan mantan Direktur Utama PT Pertamina, Karen Galaila Agustiawan atas kasus akuisisi ROC Oil Ltd (Australia) oleh Pertamina melalui PT Pertamina Hulu Energi senilai Rp 568 miliar.

Berdasarkan pantauan, Karen sempat diperiksa oleh penyidik di Gedung Tindak Pidana Khusus Kejagung, sejak pukul 10.00 WIB. Usai diperiksa, sekitar pukul 14.00 WIB Karen yang mengenakan rompi tahanan langsung dibawa oleh penyidik ke mobil Satgas P3TPK untuk selanjutnya dibawa ke Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Saat dikonfirmasi, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejagung, Adi Toegarisman membenarkan ikhwal penahanan tersangka tersebut. “Benar. Untuk lebih jelasnya nanti akan saya sampaikan,” jelas Adi saat ditemui di Kejagung, Senin (24/9).

Sementara, Direktur Penyidikan Warih Sadono menyatakan sebelum ditahan, Karen sempat diperiksa sebagai tersangka.

“Benar diperiksa sebagai tersangka,” jelas Warih

Sebelum ditahan, Karen pernah diperiksa beberapa kali di Gedung Tindak Pidana Khusus Kejagung. Yakni, pada 29 Maret 2017, 2 Oktober 2017 dan 8 Februari 2018 serta 12 September 2018. Namun pemeriksaan tersebut hanya untuk memintai keterangannya sebagai saksi.

Selain Karen, Kejagung pernah menahan dua tersangka lain yakni, Manager Merger &Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu Kristanto dan Mantan Direktur Keuangan Pertamina Frederik Siahaan di Rutan Salemba Cabang Kejagung. Bayu ditahan sejak 8 Agustus 2018 dan Frederik 30 Agustus 2018. Sementara satu tersangka lain, Chief Legal Councel and Compliance Pertamina Genades Panjaitan sampai kini belum ditahan alias masih menghirup udara bebas.

Dalam kasus ini, para tersangka disangka melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Kasus ini berawal pada 2009, ketika PT Pertamina (Persero) melakukan akuisisi (Investasi Non-Rutin) berupa pembelian sebagian aset (Interest Participating/ IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009.

Dalam pelaksanaannya, ada dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi. Yakni, dalam pengambilan keputusan investasi tanpa adanya studi kelayakan berupa kajian secara lengkap atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris, yang mengakibatkan peruntukan dan penggunaan dana sejumlah 31.492.851 dolar AS serta biaya-biaya yang timbul lainnya sejumlah 26.808.244 dolar AS dan tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada Pertamina  dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional.

Akibatnya keuangan negara cq. PT. Pertamina (Persero) dirugikan hingga sebesar 31.492.851 dolar AS dan 26.808.244 dolar Australia atau setara dengan Rp568.066.000.000 menurut perhitungan Akuntan Publik. (ydh/indopos)