Ekspor Sirip Hiu Miningkat di Sulsel, Menteri Susi Minta Restoran Tidak Jual kuliner Ikan Hiu

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Balai Besar Karantina Ikan Makassar menjadi pembicara pada Simposium Nasional Hiu dan Pari 2018 di Gedung Mina Bahari IV, Kementerian Kelautan dan Perikanan Jakarta, Rabu 28 Maret 2018.

Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Conservation International Indonesia (CII), Misool Foundation dan WWF Indonesia dihadiri sekira 173 orang pemakalah dan peserta dari berbagai institusi.

Dalam acara tersebut,  Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap ada aksi yang dilakukan setelah simposium.“Saya minta kepada semua peserta simposium untuk lebih peduli dalam mensosialisasikan pentingnya hiu dan pari kepada masyarakat pesisir kita. Saya akan minta kepada restoran-restoran untuk tidak menjual kuliner hiu,” imbau Susi.

Sementara Kepala BKIPM Makassar, Sitti Chadidjah mengungkapkan bahwa ekspor sirip hiu selama tahun 2015 sampai 2017 mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan ekspor ini dibarengi pengawasan yang ketat terutama jenis-jenis hiu yang dilindungi.

“Tiga tahun terakhir ekspor sirip hiu meningkat dari Sulsel. Bahan bakunya berasal dari wilayah timur Indonesia seperti Ternate, Ambon, Banggai Kepulauan, Biak, Tual, Nusa Tenggara Timur dan Jayapura. Selain itu, kita awasi secara ketat jenis hiu yang dilindungi bekerjasama dengan BPSPL Makassar” beber Sitti.

Sitti menambahkan, pengawasan lalu lintas eksportasi hiu melalui pendekatan sertifikasi dan analisa kepatuhan pelaku usaha. Indikator untuk mengontrol pengelolaan sumber daya perikanan hiu di Sulawesi Selatan secara berkelanjutan.

“Perikanan hiu dan pari di Indonesia tidaklah sepopuler komoditi perikanan lainnya seperti perikanan tuna, pelagis besar, pelagis kecil dan udang. Namun jumlah produksi perikanan hiu dan pari di Indonesia merupakan yang salah satu tertinggi di dunia,” jelasnya. (sul/fajar)