Ini Alasan Polri Tangkap 4 Penyebar Video Hoaks Kerusuhan Depan Gedung MK

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Polri menangkap empat tersangka penyebar hoaks di dunia maya yang menampilkan video demonstrasi ricuh di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto membeberkan soal penangkapan tersebut.

“Bukan tentang siapa yang merekam video itu. Tapi, ketika rekaman ditayangkan, diberi judul dan digabungkan seperti berita pekan lalu, itu jelas meresahkan masyarakat,” kata Setyo dihadapan awak media di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar), Senin (17/9).

Pemicu masalah di video tersebut adalah ketika sejumlah pihak membumbuinya dengan tagar dan keterangan yang dinilai provokatif. Yakni berbunyi “Jakarta sudah bergerak, mahasiswa sudah bersuara keras. Peserta aksi mengusung tagar #TurunkanJokowi. Mohon diviralkan karena media TV dikuasai petahana”.

Lantas, video itu disebar di akun-akun milik para tersangka dan mendapat sambutan yang luar biasa oleh netizen. Kondisi ini juga meresahkan masyarakat.

“Tindakan yang dilakukan kepolisian sudah sesuai prosedur dan viralnya tagar #mahasiswabergerak dan berita bohong tentang Presiden Jokowi merupakan tindak pidana yang dapat diproses hukum,” terang Setyo.

Setyo menerangkan, video hoaks yang disebar di akun-akun media sosial (medsos) itu adalah simulasi pelaksanaan Ops Mantap Brata gabungan antara TNI dan Polri di depan Gedung MK. Dalam simulasi keamanan yang digelar Jumat (14/9) itu, memang dibangun suasana unjuk rasa.

Kemudian ada negosiasi antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan yang tidak berhasil, hingga adanya praktik bakar ban dan kerusuhan.

Setyo menyebutkan, penangkapan pertama dilakukan di Bandung pada Sabtu (15/9). Tersangka GG diduga melakukan penyiaran berita bohong, tidak pasti, dan berlebihan tentang unjuk rasa di MK.

Dari keterangan tersangka GG, video itu didapat dari grup Whatsapp “Bismillah” yang beranggotakan relawan salah satu bakal Capres. Tanpa mengonfirmasi kebenaran video itu, tersangka membagikannya di akun miliknya. Unggahan video itu dikomentari 312 netizen dan dibagikan sebanyak 5.400 kali.

Lalu penangkapan kedua dilakukan di Jakarta pada Sabtu (15/9) terhadap tersangka SA. Tersangka membagikan video dengan keterangan provokatif. Melalui akunnya, video tersebut mengundang 5.200 komentar warganet dan dibagikan hingga 98 ribu kali.

Penangkapan ketiga dilakukan di Cianjur, Jawa Barat pada Minggu (16/9) terhadap tersangka MY. Tersangka ini mengaku mendapat video dari grup Whatsapp berjudul “Boikot MetroTV karena melakukan pembodohan publik”.

Terakhir, penangkapan terhadap tersangka N dilakukan di Samarinda, Kalimantan Timur pada Minggu (16/9). Tersangka mengaku mendapat video dari grup Whatsapp “KAMMI” dan langsung mengirimkannya di akun pribadi. Video yang dibagikannya mengundang 97 komentar dan dibagikan hingga 30 ribu kali.

“Empat pelaku dijerat Pasal 14 ayat 2 dan pasal 15 Undang-Undang nomor 1 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman bervariasi, yang maksimalnya 10 tahun penjara,” tutur jenderal bintang dua tersebut. (rcc/JPC)