Kasihan, Lintang Bertahan Hidup dengan Lubang di Tengkorak

23 views

FAJAR.CO.ID, PALANGKA RAYA – Kondisi memprihatinkan dan perlu pengobatan serius dialami Muhammad Lintang Arsya Saputra. Bayi berparas ganteng itu mengalami sakit karena tidak memiliki tengkorak kepala dan ada kebocoran sehingga bagian otaknya keluar dan ada cairan di kepala.

Istilah medisnya adalah bayi tanpa batok kepala yakni Encephalocele. Penyakit itu bisa disebabkan karena bawaan dari keluarga atau orang tua bayi infeksi. Bayi merupakan anak pertama pasangan Ratna Ratiana Dewi (19) dan Indri Dwi Adi Saputra (21) warga jalan Jati Indah, Palangka Raya.

Kepada Radar Palangka, Selasa (3/4),  ibu, Lintang—saapaan akrab Muhammad Lintang Arsya Saputra, Ratna Ratiana Dewi mengatakan sang anak dilahirkan Selasa 6 Februari lalu dan merupakan anak pertama. Memang semenjak masa kehamilan sudah diketahui adanya cacat bawaan tersebut, hal itu berdasarkan dari ultrasonografi (USG).

”Ini bawaan lahir dan sejak di USG memang sudah terlihat ada cairan dan kelahiranya pun harus dengan operasi. Kata dokter ketika dioperasi cairan itu dipecah, Lintang juga saat itu sempat kejang dan malam itu paska kelahiran katanya keluar cairan bercampur darah dibagian kepala kepala lalu langsung dioperasi dan dijahit,” tutur Ratna menceritakan sambil terlihat meneteskan air mata.

Ratna mengatakan kata dokter istilah kedokterannya Anencephaly. Dan Ketika itu penanganannya hanya lima hari dan oleh salah satu rumah sakit langsung disuruh keluar dan bisa dibawa pulang.

”Lintang lahir di rumah dibantu bidan. Lalu dirujuk ke rumah sakit. Nah kami pun sempat binggung padahal menurut keluarga masih dalam tahap perawatan akbat kondisi tersebut dan dari rumah sakit diberikan obat-obatan,” katanya.

Ia menerangkan bocoran dibagian kepala itu, semakin hari semakin  membesar, terlebih beberapa minggu usai diperban dibagain kepala. ”Dibuka sekitar tanggal 17 Februari 2018 , awalnya kecil dan dibawa pulang, kemudian terus membesar setelah perkembangan si Lintang yang kini usianya dua bulan dan lahirnya Selasa 6 Februari lalu,” jelasnya.

Ratna bertutur untuk melakukan operasi, pihak medis mengaku tidak bisa melakukannya. Hal ini disebabkan usia bayi yang masih dalam hitungan hari. Selain itu, keluarganya belum mampu membiayai hingga sangat membutuhkan bantuan dari pihak lain.

”Untuk dana dari kehamilan hingga kelahiran menggunakan BPJS dan hingga kini masih berlaku. Nah semakin membesarnya sekitar satu bulan hingga saat ini, analisa dokter kena virus,” katanya.

Ratna mengatakan semenjak lahir dan mengalami kebocoran dibagian kepala hanya diberikan vitamin dan makanan. Terlebih beberapa kali kontrol berat badannya kurang dan dari bedah syaraf tidak ada pengobatan.

”Kata dokternya bila gendut baru ditindak rumah sakit. Jujur  belum dibawa karena biaya dan BPJS tidak menangung semuanya. Apalagi ayahnya kerja sopir dan saya IRT,” terangnya.

Dikatakanya, saat ini Lintang sering sakit dan kejang kejang sehingga matanya melotot ke atas dan ganggaman tangnya kuat, walau jarang menangis. Ia dan suami serta keluarga pun tidak bisa apa-apa walaupun tidak tega melihat kondisi anak pertamanya tersebut.

”Kami ini ikut orang tua. Harapanya dibantu oleh pemerintah, bantuan agar bisa dioperasi dan tumbuh kembang seperti anak biasa, katanya sekitar 20 jutaan dan sampai kini belum pengobatan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kabid Diklit Pengembangan Sumber Daya Manusia ( SDM) dan Humas RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya, dr Theoodurus Sapta Atmadja mengatakan  ibu hamil dianjurkan mengonsumsi makanan atau minuman yang mendukung kebutuhan gizinya, bahkan sejak merencanakan kehamilan.

Sebab, asupan bergizi meningkatkan status kesehatan ibu dan janin, serta mengurangi risiko kecacatan pada janin.

”Asupan nutrisi pada ibu hamil memperbesar keberhasilan menyusui, mengurangi komplikasi, memperkecil risiko sakit dan kematian ibu, mengurangi risiko berkurangnya cadangan gizi ibu, serta memperkecil risiko bayi prematur,” ujarnya. (daq/vin)