Kembali Diterpa Black Campaign, Jubir Prof Andalan : Itu Cara Kampungan dan Murahan

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Berbagai kampanye hitam (black campaign) terus menerpa pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (Prof. Andalan). Padahal, penggunaan kampanye hitam yang menyerang lawan politik adalah cara kotor, kampungan dan miskin ide.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Prof Andalan, Khaerudin Nurman, menanggapi berbagai isu dalam kampaye hitam yang terus menerpa pasangan Prof Andalan. Menurut Elu, sapaan akrabnya, cara-cara seperti itu merupakan  cara kotor dan kampungan serta miskin ide, yang mestinya sudah mulai ditinggalkan dalam berbagai kampanye politik.

Padahal masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk memenangkan Pilkada dengan cara yang elegan, salah satunya dengan kerja nyata.“Cara kampungan semacam itu, bisa dikatakan miskin ide dan gagasan. Banyak cara yang elegan dalam meraih simpati masyarakat,” tegas Elu.

Elu menjelaskan, jika calon pemimpin daerah tidak mempercayai hasil keputusan lembaga negara yang kompeten dalam memutuskan soal kesehatan pasangan lainnya tentu patut diragukan integritasnya.

“Bagimana bisa memimpin daerah, jika dirinya tak bisa mempercayai hasil keputusan lembaga negara yang kompeten, KPU misalnya,” lanjut Elu.

Pengamat Politik Universitas Hasanuddin Jayadi Nas mengatakan massifnya kampanye hitam yang ditujukan kepada Prof Andalan merupakan indikasi bahwa Prof Andalan merupakan kontestan yang sangat mendapat simpati masyarakat Sulsel, sehingga semakin tak terbendung. Alhasil, berbagai carapun dilakukan untuk menghadangnya.

“Indikasinya, menunjukan bahwa Prof Andalan merupakan salah satu kontestan yang sangat mendapatkan simpati ditengah masyarakat. Sehingga untuk merusak simpati itu, berbagai cara dilakukan, salah satunya kampanye hitam/black campaign. Apalagi dalam berbagai survey pasangan Prof Andalan selalu mengungguli pasangan lain,” ungkap Jayadi Nas.

Menurut Jayadi Nas, meski mendapat mendapat serangan kampanye hitam elektabiltas Prof Andalan pasca debat kandidat pertama beberapa waktu lalu, justru  akan meningkat. Sebab, masyarakat selama masyakarat meyakini, jika ini penzoliman terhadap Prof Andalan.

Alumni Unhas ini juga menghimbau, kepada seluruh pelaku politik di Sulsel untuk membiarkan masyarakat memilih sesuai hati nuraninya demi tercapainya demokrasi seutuhnya.

“Biarlah masyarakat berpikir jernih, dengan dengan proses demokrasi ini tanpa ada gangguan yang sifatnya memprovokasi,” tegas Jayadi Nas.(rls/fajar)