Kisah Menarik di Balik Megahnya Masjid Muhammad Cheng Hoo

44 views

FAJAR.CO.ID — Selain berfungsi sebagai objek wisata religi bagi para pelancong khusus di bulan suci Ramadan, Masjid Muhammad Cheng Hoo yang terletak di Jalan Danau Tanjung Bunga, Kecamatan Tamalate, Makassar, ini rupanya juga menyimpan sejumlah kisah menarik.

Didirikan sejak 13 Oktober 2012 silam, masjid megah dengan desain Tionghoa ini, menjadi saksi bisu dari puluhan manusia beragaman etnik, budaya, ras. Khususnya agama yang datang hanya untuk mengkuti proses mualaf menjadi Islam, sebelum akhirnya betul-betul mendalami tentang hakikat keislaman.

“Kalau jumlah pastinya saya agak lupa juga sih, karena ada catatannya itu. Dipegang sama pengurus, tapi lagi keluar daerah yang pegang itu catatan. Intinya kalau tidak salah ingat saya itu, sekitar puluhan oranglah. Kira-kira kurang dari 30, itu sejak berdirinya ini masjid yah,” kata Badaruddin, 42 tahun, pengurus Masjid Muhammad Cheng Hoo kepada JawaPos.com, saat ditemui di salah satu ruang pengurus, Jumat (18/5/2018).

Badaruddin menjelaskan, mereka yang memilih Masjid Cheng Hoo untuk mengikuti proses pengislaman pada dasarnya mempunyai asumsi yang sama. Yakni, tak terlepas dari inspirasi dari kisah bahariwan Cheng Hoo. Selebihnya, asumsi-asumsi mendasar lainnya yang menjadikan para mualaf ini memilih Islam sebagai jalan hidup.

“Rata-rata mereka yang mualaf dan diislamkan disini itu seperti itu. Dari berbagai macam etnis, jadi bukan hanya dari Tionghoa saja. Baru-baru ini sebelum masuk Ramadan kita Islamkan lagi saudara kita dari Bali. sebelumnya juga ada dari Sumatera. Intinya kita sudah beragam etnis yang memilih diislamkan disini,” terangnya.

Setelah berislam lanjut Badaruddin, orang-orang ini biasanya mendapatkan bimbingan khusus dari para pengurus masjid. Selain dibimbing untuk belajar mengenal Islam, mereka juga dituntun untuk belajar mengaji dan salat pada umumnya. Hal-hal seperti ini katanya, sudah berlangsung cukup lama sejak berdirinya masjid ini.

Dalam bulan Ramadan ini, disebutkan Badaruddin, aktifitas pembinaan anak usia dini yang ingin hatam Alquran juga menjadi fokus utama. Begitupun dengan para mualaf yang ingin menambah bekal pengetahuannya menggali Islam.

Masjid Cheng Hoo sendiri diungkapkan Badaruddin, merupakan salah satu masjid yang diklaim sebagai ikon unik dan megah dari berbagai bentuk dan model masjid lainnya yang ada di Kota Makassar. Mulai dari tampilan eksterior dan interior, hingga ornamen-ornamen masjid yang sarat dengan makna filosofis. Hingga letaknya yang strategis karena berhadapan langsung dengan danau dikelilingi rimbunnya pepohonan.

Itu Membuat para pelancong atau penikmat wisata religi, bisa dipastikan tak ingin melewatkan begitu saja keindahan masjid ini. Baik untuk beribadah, maupun hanya sekedar mampir menikmati kemegahan masjid yang kental dengan nuansa Tionghoa ini. Badaruddin yang juga merupakan pengelola Masjid Muhammad Cheng Hoo, menerangkan sejarah didirikannya masjid ini.

Berdiri sejak, 13 Oktober 2012 silam, nama Cheng Hoo dilekatkan pada masjid 2 lantai ini sebagai bentuk atau wujud penghargaan bagi Laksamana Cheng Hoo. Sosok bahariwan muslim Tionghoa yang tangguh dan berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran dan perkembangan Islam di nusantara.

Cheng Hoo sendiri, adalah pria muslim keturunan Tionghoa yang berasal dari propinsi Yunnan di Asia Barat Daya. Hingga kini, jejak kebesaran Cheng Hoo di Indonesia tetap dijaga untuk mengingat jasanya bagi penyebaran ajaran Islam oleh orang-orang Tionghoa. Faktor mendasar itulah dijelaskan Badaruddin, membuat nama Cheng Hoo dijadikan sebagai ikon utama masjid ini.

“Jadi karena semangat syiar Islamnya beliau (Cheng Hoo) yang tidak berhenti, makanya masjid ini diberikan nama Masjid Muhammad Cheng Hoo. Semangat dalam menebarkan ajaran Islam itu yang terus dijaga sampai diterapkan dalam semua proses pembelajaran yang ada di dalam masjid ini,” terang Badaruddin.

Sebagaimana masjid pada umumnya, terdapat mimbar dan barang-barang lainnya di dalam masjid ini. Yang berbeda adalah, masjid ini menampilkan suasana yang cukup memanjakan mata. Mimbar yang di jadikan tempat para pengkhotbah hingga di sisi kiri dan kanan disediakan rak-rak, bak perpustakaan mini, tempat Alquran dan buku-buku Islam disajikan.

Disisi Utara masjid, mata kembali akan dimanjakan dengan rindangnya pepohonan dan danau yang membentang. Suasana itu menambah nikmat dan sejuknya kondisi masjid ini. Dari luar, arsitektur bagunan masjid kental dengan budaya Tionghoa.

Warna merah pada bagian atap hingga dinding-dinding luar masjid, ditambah kuning pada bagian sisi dan putih menjadi ikon tersendiri yang bermakna keberagaman paling ditonjolkan masjid ini. Kubah utamanya menjulang tinggi seperti bentuk pagoda.

Empat kubah kecil ditiap-tiap sudut masjid menjelaskan tentang makna filosofis unsur semesta, yakni air, udara, api dan tanah. “Kalau dalam Bugis Makassar, empat tiang penopang ini disebut ‘Sula Appa’ atau empat unsur yang ada di alam semesta ini. Kenapa demikian, karena kita juga tonjolkan bagaimana perpaduan antara berbagai macam etnis yang ada di Indonesia. Khsususnya di Sulsel, perpaduan antara Tionghoa dan Bugis Makassar ada di dalam masjid ini,” jelas Badaruddin.

Kapasitas masjid ini bisa menampung sebanyak 700 orang. Mengingat bangunan ini berlantai 2, kapasitas penampungan juga pastinya akan maksimal. Untuk pengelolaan, masjid ini sendiri dikelola sepenuhnya oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Sulsel.

Badaruddin yang juga bertindak sebagai Wakil Sekertaris PITI Sulsel ini mengatakan, selain di Jalan Danaun Tanjung Bunga, Masjid Muhammad Cheng Hoo dapat juga dijumpai di Jalan Haertasning Baru, Kabupaten Gowa, Sulsel. “Cuman kalau untuk kapasitas kita lebih besar yang di sini,” ucapnya.

Khusus untuk bulan Ramadan ini lanjut Badaruddin, selain menjalankan aktifitas pengajian, proses belajar mengajar lainnya, juga tetap diprioritaskan. Hampir di setiap harinya, bahkan sejak masjid ini telah melalui 6 kali berturut-turut Ramadan. Ada saja donatur yang biasanya siap menyediakan dan memfasilitasi takjil untuk digunakan berbuka puasa.

“Selama niatnya orang mau berbuat baik kepada sesama manusia, kenapa tidak. Apa lagi ini bulan suci, terbuka pintu-pintu amalan bagi semua manusia yang menebar kebaikan,” lanjutnya.

Tak hanya di Makassar ditambahkan Badaruddin, Masjid Muhammad Cheng Hoo yang dikelola PITI juga ada di Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sumatera Selatan (Sumsel). Sementara untuk di Sulsel, hanya ada 2 Masjid Muhammad Cheng Hoo yang dikelola PITI.

Salah satu pengunjung masjid, Ibnu Munsir, 28 mengungkapkan, tahun ini merupakan kali keduanya ia melaksanakan aktifitas ibadah dan mendapatkan berkah Ramadan di masjid ini. Yang membuatnya tertarik untuk mengabiskan waktu di masjid Cheng Hoo ini diakuinya karena, suasana tenang dan kondisi yang sangat nyaman.

“Ini bulan puasa kedua saya di masjid ini. Tahun lalu juga begitu. Kalau pulang kerja atau tidak ada aktifitas saya habiskan waktu langsung di sini, sampai mau buka atau kadang buka puasa di sini. karena rumah tidak terlalu jauh juga dari sini,” tambahnya menutup. (rul/JPC)