Komunitas Palestina Sesalkan Perjalanan Staquf ke Israel

19 views
Opini Bangsa – Komunitas Palestina di Indonesia (PCI) menyesalkan kunjungan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Yahya Cholil Staquf ke Israel atas undangan Dewan Hubungan Luar Negeri Israel (ICFR) pada 10-13 Juni 2018. Kunjungan itu dinilai mengecewakan rakyat Palestina.
Ketua Komunitas Palestina di Indonesia atau Palestinian Community in Indonesia (PCI), Murad Halayqa menyampaikan, kunjungan itu menjadi kekecewaan besar bagi rakyat Palestina. Ini karena Yahya merupakan tokoh agama dan pejabat Indonesia, negara yang selama ini dihormati komunitas Palestina karena senantiasa mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.
“Komunitas Palestina di Indonesia mengutuk dan menyesalkan kunjungan ini, walaupun Bapak Staquf menyatakan kepergiannya secara pribadi, tetapi beliau adalah sosok agama dan pejabat Indonesia dan langkah ini diambil pada waktu yang tidak sesuai,” kata dia, seperti dikutip dari rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (13/6).
Yahya Cholil Staquf yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) tersebut mengunjungi Israel atas undangan Dewan Hubungan Luar Negeri Israel atau “The Israel Council on Foreign Relations” (ICFR) untuk menjadi salah satu pembicara dalam pertemuan Komite Yahudi Amerika atau American Jewish Committee (AJC) di Jerusalem.
Halayqa menyesalkan kunjungan tersebut karena Presiden AS Donald Trump baru memindahkan Kedutaan Besar Amerika ke Jerusalem, wilayah yang masih menjadi sengketa Palestina dan Israel. PCI menganggap kunjungan tersebut telah menyiratkan dukungan kepada Israel dan Amerika yang mengklaim Yerusalem sebagai Ibu kota Israel.
Selain itu, Israel masih terus melakukan tekanan dan kekerasan pada ratusan pengunjuk rasa Palestina yang melakukan aksi damai “Great March of Return” di Gaza sejak Maret lalu.
Berikut secara rinci sejumlah poin yang disampaikan komunitas Palestina di Indonesia menanggapi kunjungan tersebut :
1. Komunitas Palestina di Indonesia mengutuk dan menyesalkan kunjungan ini dan melihatnya sebagai kekecewaan besar bagi rakyat Palestina, terutama Bapak Staquf yang merupakan sosok agama dan pejabat Indonesia walaupun beliau menyatakan kepergiannya secara pribadi dalam pidatonya di depan AJC di Yerusalem.
Langkah ini diambil pada waktu yang tidak sesuai saat Israel melanjutkan kebijakannya yang rasis dan agresif terhadap rakyat Palestina. Ratusan pengunjuk rasa damai dibunuh dan ribuan terluka oleh tentera Israel sejak Maret yang lalu dalam rangka partisipasi di Great March of Return di Gaza.
2. Kami anggap tuduhan yang diajukan oleh Bapak Staquf bahwa kunjungannya untuk mendukung rakyat Palestina sebagai penyesatan dan pemanipulasian kata- kata, karena dukungan untuk rakyat Palestina harus melalui pintu gerbang kepemimpinan Palestina di Ramallah bukan melalui Israel yang menyiksa dan berlaku kejam kepada rakyat Palestina dan menduduki tanahnya.
3. Kami melihat waktu kunjungan ini dan di tempatnya (Yerusalem) merupakan dukungan kepada posisi Israel dan AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Langkah ini merupakan kelalaian terhadap hak rakyat Palestina dan mendukung posisi kebijakan penjajah yang menargetkan tempat-tempat suci buat umat Muslim dan Kristen di Yerusalem.
Selain itu, langkah ini bertentangan dengan resolusi Majelis Umum PBB pada 21 Desember 2017, yang menolak pengakuan AS atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dengan mayoritas 128 negara termasuk Indonesia.
4. Kami melihat Pertemuan Pak Staquf dengan Wakil Duta Besar AS untuk Israel, David Friedman, yang merupakan sosok Zionis dan pendukung besar untuk pembangunan pemukiman Ilegal Israel di tanah Palestina. Ia juga mengancam untuk mengganti Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada 29 Mei yang lalu. Oleh karena itu, kami anggap pertemuan ini sebagai dukungan terhadap posisi Israel dan dukungan jelas untuk konspirasi yang menargetkan rakyat dan kepemimpinan Palestina.
5. Bicaranya Bapak Staquf tentang visi almarhum Presiden Abdurrahman Wahid untuk mendukung proses perdamaian untuk membenarkan kunjungannya tidak dapat diterima, karena Presiden Abdurrahman Wahid mencoba untuk memainkan peran dalam proses perdamaian selama masanya 1999-2001 atas persetujuan kepemimpinan Palestina pada waktu itu ketika masih ada payung internasional untuk proses perdamaian.
Sementara situasi saat ini berbeda di mana AS berpihak dengan Israel, dan Israel masih melanjutkan kebijakan pendudukan yang menargetkan tempat-tempat suci dan kepemimpinan dan bangsa Palestina. Oleh karena itu, kami melihat kunjungan ini sebagai dukungan kepada penjajahan Israel.
6. Kami percaya bahwa tidak ada alasan atau logika yang menjastifikasi langkahnya Bapak Staquf khususnya setelah keputusan otoritas Israel pada 29 Mei yang lalu untuk mencegah saudara-saudara Kristen dan Muslim Indonesia untuk mengunjungi tempat suci di Yerusalem dan wilayah Palestina.
Hal ini merupakan bertentangan secara eksplisit pada hak asasi manusia yang paling dasar untuk menjamin hak untuk beribadah dan mengunjungi tempat suci untuk semua Pengikut agama, terutama karena tempat-tempat ini terletak di Yerusalem Timur yang menurut resolusi internasional adalah ibu kota negara Palestina yang masih dijajah occupied territory sesuai dengan hukum internasional.
7. Langkah ini merupakan pelanggaran yang jelas terhadap keputusan-keputusan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang mengutuk kejahatan Israel terhadap tempat suci di Yerusalem dan rakyat Palestina selama dua konferensi terakhir di Istanbul pada bulan Desember 2017 dan di bulan Mei 2018.
8. Baru-baru ini kami menyaksikan eskalasinya kampanye boikot internasional terhadap negara penjajahan Israel untuk mengakhiri penindasan yang dilakukan Israel kepada rakyat Palestina. Menurut hukum internasional, apa yang dilakukan oleh Israel saat ini merupakan terorisme negara (State Terrorism).
Israel juga dianggap sebagai negara apartheid sesuai dengan laporan yang dikeluarkan oleh UN Economic and Social Commission for Western Asia (ESCWA) yang diterbitkan pada Maret 2017. Hal ini mengakibatkan pembatalan pertandingan persahabatan antara tim sepak bola Argentina dan tim Israel yang direncanakan di Yerusalem.
Selain itu, pembatalan sejumlah konser penyanyi Eropa di Israel termasuk Shakira, panggilan Walikota Dublin Micheal Mac Donncha untuk Boikot festival Eurovision 2019 di Israel, dan boikot akademik di mana para akademis Inggris serta AS memboikot universitas-universitas Israel, dll. Demikian, menurut kami kunjungan pak Staquf memberi legitimasi terhadap negara penjajahan dan sebagai upaya untuk mengangkat Israel dari isolasi internasional.
9. Rakyat Palestina mengekspresikan penolakannya terhadap kunjungan ini melalui pernyataan Kementerian Luar Negeri Palestina, partai-partai Palestina dan Kampanye Palestina untuk memboikot Israel yang menganggap kunjungan ini sebagai dukungan kepada pendudukan dan kami benar-benar merasa terluka dengan kunjungan ini.
10. Sebagai penutup, Komunitas Palestina di Indonesia dan rakyat Palestina pada umumnya menghargai dukungan Republik Indonesia, baik di tingkat resmi maupun masyarakat terhadap perjuangan bangsa kami untuk mendirikan negara yang merdeka dengan Yerusalem sebagai ibukotanya.
Kami melihat dengan puas sikap penolakan yang dari bangsa Indonesia secara keseluruhan untu kunjungan Bapak Staquf, terutama melalui beberapa organisasi dan badan-badan keagamaan terbesar di Indonesia yaitu MUI dan Muhammadiyah bersama dengan beberapa partai dan badan masyarakat yang lain.
Sementara, dalam sebuah wawancara, Staquf mengatakan dia tetap berkomitmen pada kunjungan tersebut. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu berharap kontroversi dapat membawa lebih banyak perhatian pada pesan toleransinya.
“Beberapa orang di sini kagum dengan keputusan saya untuk datang, karena mereka pikir itu pasti berbahaya bagi orang ini untuk datang, berpikir bahwa banyak, banyak Muslim harus mengancamnya dengan kematian atau sesuatu,” kata Yahya pada Senin (11/6).
Gus Yahya mengatakan konflik Israel-Palestina bukan satu-satunya fokus dari perjalanannya. Sebaliknya, ia melihat kerja sama antar-iman itu sebagai dasar untuk menyelesaikan banyak konflik. Hal itu termasuk di Myanmar, di mana 700 ribu Muslim Rohingya telah melarikan diri dari penganiayaan oleh pasukan keamanan negara itu ke Bangladesh.
Akan tetapi, Gus Yahya tetap sadar akan besarnya konflik Israel-Palestina. “Kami menghadapi masalah peradaban di sini, dan itu terkait dengan agama,” katanya. “Sebagai Muslim, kami ingin melakukan bagian kami terkait dengan agama kami.”
Dia mengaku telah mengidentifikasi bagian-bagian Islam yang dianggapnya bermasalah, termasuk bagaimana umat Islam berinteraksi dengan non-Muslim. Dia mengatakan perlu ada “wacana baru” untuk mengakui bahwa Muslim dan non-Muslim adalah sama dan harus dapat hidup berdampingan dengan damai. “Unsur-unsur ini bermasalah karena itu tidak kompatibel lagi dengan realitas peradaban kita saat ini,” katanya. [opini-bangsa.com / replubika]