Kuasai House of Representative, Demokrat Bisa Jegal Trump

5 views

FAJAR.CO.ID – Penghitungan suara pemilu sela Amerika Serikat (AS) memang belum usai. Tapi hasilnya sudah cukup jelas. Republik tetap berkuasa di Senat dan Demokrat berhasil mendapatkan kursi mayoritas di House of Representative. Selama delapan tahun terakhir, Republik-lah yang berkuasa di parlemen.

”Esok (hari ini, Red) akan menjadi hari baru bagi Amerika,” ujar legislator Demokrat Nancy Pelosi seperti dilansir CNN.

Tidak diketahui siapa nanti legislator Republik yang akan menggantikan jabatan Pelosi saat ini sebagai pemimpin oposisi di House of Representative.

Pemilu sela digelar setiap empat tahun sekali pada November untuk memilih anggota Kongres dan Gubernur. Kongres di AS terdiri dari House of Representative dan Senat. Hanya 36 gubernur dari 50 negara bagian yang ikut dalam pemilihan di pemilu sela.

Di beberapa negara bagian juga ada pemilihan wali kota, usulan terkait kebijakan wilayah dan beberapa hal lainnya. Bisa dikatakan ini seperti pemilu serentak.

Nah, Demokrat butuh 218 kursi untuk berkuasa di House of Representative. Hingga pukul 21.00 kemarin (7/11) mereka sudah mengantongi 219 kursi. Di lain pihak, Republik berhasil mendapatkan 193 kursi. Demokrat dipastikan bakal menjegal usulan-usulan kebijakan Trump yang kontroversial agar tak masuk ke Senat. Sebab di Senat, Republik-lah yang berkuasa.

Dari 100 kursi, Republik meraih 51 kursi, sedangkan Demokrat 43 kursi. Perolehan kursi Senat Demokrat itu turun dari sebelumnya yang mencapai 47 kursi.

Selain kemenangan Demokrat di House of Representative, pemilu sela tahun ini juga menorehkan sejarah baru yaitu, keterwakilan perempuan di parlemen. Dari 435 anggota Hosue of Representative, 92 orang di dalamnya adalah perempuan. Sebelumnya hanya ada 84 legislator perempuan. Di Senat, total ada 23 perempuan. Jumlah di atas bisa bertambah ketika seluruh proses penghitungan suara usai.

Biasanya, pemilu sela berlangsung datar dengan angka kehadiran penduduk yang rendah. Berbeda dengan antusiasme pemilu presiden. Tapi khusus tahun ini, semua berbeda. Dua kubu mati-matian menguasai Kongres. Trump menjadi penyebabnya. Keputusan-keputusan kontroversialnya memantik reaksi keras dari masyarkat, terutama kebijakan anti imigrannya.

”Ini tentang memulihkan keseimbangan dan pengecekan konstitusi di pemerintahan Trump,” tegas Pelosi dalam pidato kemenangannya seperti dikutip Reuters.

Beberapa pengamat melabeli pemilu sela ini sebagai referendum Trump. Nama Trump memang tak ada di dalam balot, tapi pemilu ini seakan-akan tentang Trump. Suami Melania itupun sadar akan hal tersebut. Dia berkeliling negara bagian untuk berkampanye demi kemenangan Grand Old Party (GOP), sebutan untuk partai Republik. Meski kehilangan kontrol di House of Representative, namun Trump masih berbangga diri karena berhasil meraih lebih banyak kursi di senat.

”Menerima banyak ucapan selamat dari begitu banyak orang atas kemenangan besar kemarin malam,” cuit Trump di akun Twitternya. Menurut Trump, selama ini partai penguasa kerap tak bisa mempertahankan suara mayoritas di senat dalam pemilu sela. Tapi di bawah kepemimpinannya, Republik justru berkuasa di senat.

Trump mungkin hanya menghibur diri. Sebab kemenangan Demokrat bakal berdampak signifikan pada pemerintahannya. Rencana-rencana Trump seperti membangun tembok di perbatasan AS-Meksiko, menghapuskan UU Perawatan Kesehatan yang Terjangkau alias Obamacare dan program-program lainnya terancam tak terlaksana.

Blokade Demokrat di House of Representative membuat usulan itu tak bisa dibahas di Senat. Dengan kata lain, kecil kemungkinan lolos.

”House of Representative adalah kunci utama untuk semua hal yang berurusan dengan anggaran,” ujar profesor ilmu politik di  McGill University Simon Langlois-Bertrand. Demokrat tahu pasti hal tersebut dan bakal memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Demokrat juga bakal memiliki kuasa untuk mendorong penyelidikan keterlibatan Rusia dalam pemilu 2016 lalu. Ada enam komite di House of Representative yang punya kuasa untuk menyelidiki Trump.

Komite itu biasanya diketuai oleh legislator dari partai penguasai. Mereka memiliki kekuasaan yang luas untuk melakukan penyelidikan, mengeluarkan surat panggilan pengadilan dan mendorong pihak tertentu untuk memberi kesaksian. Kuasa ini tak dimiliki Demokrat ketika mereka menjadi minoritas di House of Representative.

Komite Intelijen adalah salah satunya. Komite ini akan diketuai oleh Adam Schiff yang dikenal kerap mengkritik Trump. Politisi 58 tahun itu bahkan berjanji untuk menggali kesepakatan-kesepakatan finansial Trump dengan pihak asing. Laporan pajak Trump besar kemungkinan juga akan diungkap ke publik.

Selama ini Trump tak pernah membuka laporan pajaknya ke publik, tidak seperti presiden-presiden sebelumnya. Orang-orang dekat presiden juga terancam. Menteri Dalam Negeri Ryan Zinke mungkin bakal segera dipanggil untuk proses penyelidikan. Dia dituding mengambil kebijakan-kebijakan yang menguntungkan bisnisnya. Deretan pejabat lain juga menunggu antrian penyelidikan.

Tidak menutup kemungkinan impeachment alias pelengseran Trump juga bakal terjadi. Usulan pelengseran cukup dari partai penguasa di House of Representative dan Demokrat kini bisa melakukannya. Namun Nancy Pelosi pernah menyatakan bahwa dia saat ini tidak berniat untuk melengserkan Trump. Di lain pihak, pendukung Demokrat menginginkannya. Setidaknya 70 persen menyatakan demikian.

Berdasarkan poling yang dilakukan pada para pemilik suara secara acak di pemilu sela, sebanyak 40 persen ingin agar Trump diturunkan dari jabatannya. Persentase itu jauh lebih tinggi dibanding poling serupa pada presiden sebelumnya, termasuk  Bill Clinton. Suami Hillary Clinton itu pernah menghadapi pelengseran meski akhirnya lolos dan tetap berkuasa.

Sikap Demokrat bisa saja berubah sewaktu-waktu. Yaitu seandainya jaksa khusus Robert Mueller  menemukan fakta bahwa Rusia memang terlibat dalam kemenangan Trump di pilpres 2016 lalu. Jika fakta tersebut dipaparkan dalam beberapa pekan kedepan, situasi mungkin berubah. (sha/ind)