Luhut Ingin Danau Toba Berbenah

28 views

FAJAR.CO.ID, TOBA SAMOSIR – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan kembali mengunjungi kawasan Danau Toba. Serangkaian peninjauan dilakukannya untuk melihat bagaimana progres pengembangan pariwisata Geopark Kaldera Toba.

Luhut mendarat di Bandara Silangit, Jumat (13/7). Dia sempat melakukan peninjauan infrastruktur Silangit. Setelahnya, Luhut melakukan Rapat Koordinasi Kemajuan Pengembangan Infrastruktur Pendukung Destinasi Danau Toba.

Dalam rapat itu, beberapa infrastruktur jadi sorotan. Soal Bandara silangit, Luhut ingin runway (landasan) bandara ditambah jaraknya. Termasuk di Bandara Sibisa yang sekarang masih dalam tahap pembangunan.

Selain Bandara, Luhut menyoroti pembangunan pelabuhan di Danau Toba. setidaknya ada 41 pelabuhan yang ada di Danau Toba. Termasuk pelabuhan yang dikelola swadaya masyarakat. Kementerian Perhubungan sedang merencanakan mmbenahi lima pelabuhan. Mulai dari pelabuhan Ambarita, Ajibata, Simanindo, Tigaras dan Muara.

Luhut sempat meninjau pembangunan kapal feri di Desa Parparean II, Kecamatan Porsea, Toba Samosir. Di sana, Luhut melihat proyek pembuatan kapal Roro yang dikerjakan PT Dok Bahari Nusantara.

Nantinya, kapal itu berkapasitas 280 penumpang. Termasuk memuat kendaraan.

“Ini pasti lebih bagus karena tidak kapal kayu. Bawahnya juga lebih lebar. Sehingga stabilitas kapalnya bagus. Ini upaya pemerintah serius dalam menangani. Jadi kami nggak ribut soal kecelakaan. Keluarganya sudah kami urus. Sekarang kami perbaiki supaya tidak terjadi lagi seperti itu,” kata Luhut.

Ada tujuh kapal yang rencananya dibangun di Dok. Untuk yang pertama akan mulai beroperasi pada oktober. Karena sudah masuk dalam tahap penyelesaian. Agustus mendatang, kapal baru mulai dikerjakan. Seluruhnya dilakukan karena melihat peningkatan geliat pariwisata di Danau Toba.

“Nah, ini kami ada galangan kapal di Danau Toba. Sekarang kami coba membuat di sini. Nanti kami rapikan lagi.Supaya nanti bisa diaudit kapal kapal yang ada. Supaya tidak terjadi lagi seperti kemarin, karena tidak audit,” terangnya.

Di Bandara Silangit, ada sekitar 1.300 penumpang yang turun di sana. Sehingga butuh banyak kapal untuk mengangkut mereka.

Terpisah, Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiadi mengatakan, pihaknya segera melakukan rapat dengan para bupati di kawasan Danau Toba untuk menentukan pelabuhan mana yang resmi atau tidak. “Yang akan kami resmikan harus memenuhi standar semuanya. Yang pertama untuk meningkatkan kualitas keselamatan. Karena memang keselamatan itu tidak bisa tidak,” paparnya.

Kemenhub juga sudah melakukan ramcheck kepada 170 kapal pascatragedi KM Sinar Bangun. Total seluruh kapal di danau Toba sebanyak 215 unit. “Ramcheck itu sambil juga mengedukasi masyarakat. Di kapal itu, di tempat duduknya sudah ada Life jacket. Penerimaan masyarakat cukup bagus,” tukasnya.

Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba Arie Prasetyo mengapresiasi kehadiran Luhut. BPODT juga berkomitmen terus berinovasi demi kemajuan pariwisata di Danau Toba. Bahkan, Luhut meminta BPODT menyegerakan beberapa rancangan even yang sudah diusulkan.

“Tadi Pak Luhut sudah menyampaikan agar disegerakan saja bikin semacam free master plan. Tanpa harus menunggu lama, kami harus mulai identifikasi itu ada direktif dari pusat,” bebernya.

Arie tidak menampik bahwa selama ini integrasi antara kabupaten yang berbatasan dengan Danau Toba sangat kurang. Sebagai leading sector pariwisata Danau Toba, itu menjadi tantangannya.

BPODT akan melibatkan konsultan baik dari lokal ataupun luar negeri untuk memberikan masukan apa yang harus dilakukan di anau Toba. “Kami juga selalu melibatkan partisipasi publik. Jadi masyarakat tokoh agama dan pemerintah, kami mintakan dari mereka,” tandasnya.

Dengan begitu, Arie semakin meyakini Geopark Kaldera Toba akan masuk dalam UNESCO Geopark Group (UGG). penilaian soal GKT akan dilakukan pada Agustus mendatang.

“Kalau nanti penilaiannya bagus, bisa masuk UNESCO Global Geopark. Dengan itu, kami bisa sharing knowledge. Setiap 5 tahun akan di review kembali bagaimana peningkatan setelah mendapat status UNESCO tadi, apakah berkembang atau tidak,” tandasnya. (pra/JPC)