Makin Terancam, Pemerintah Diminta Jaga Industri Kretek

14 views

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah perlu didorong untuk menjaga industri padat karya, salah satunya industri rokok kretek. Selain untuk ketersediaan lapangan kerja, penjagaan itu penting demi keberlangsungan dan kepastian investasi di Indonesia.

Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman (FSP RTMM SPSI), Sudarto, mengatakan dalam kurun waktu 9 tahun industri rokok kretek mengalami penurunan hingga 50 persen. Pekerja yang paling terdampak adalah sektor SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang didominasi pekerja perempuan dengan pendidikan rendah.

“Pekerja Indonesia (SKT) dengan karakter seperti itu masih banyak dan terus terancam. Bahkan, kini ancamannya bukan sekadar potensi lagi. Perubahan karakter konsumen dan teknologi ditambah dengan kebijakan pemerintah membuat banyak industri menyesuaikan diri, lagi-lagi yang disasar, pekerja berketerampilan rendah,” papar dia dalam diskusi yang diselengarakan oleh Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP), di Jakarta (25/7)

Ia mengatakan, solusi untuk masalah itu tidak bisa satu sisi. Harus ada penyelesaian komprehensif agar tidak terkesan ada kebijakan tambal sulam.

Selain itu, ia mengungkapkan kasus penutupan ribuan pabrik SKT yang berujung PHK sedikitnya ada 32.000 pelinting adalah salah satu contoh. Pabrik-pabrik gulung tikar karena multifaktor, perubahan regulasi pemerintah, kemajuan teknologi menjadi salah satu faktor pemicu penutupan itu.

“Berdasarkan cerita dari yang sudah di PHK, mereka dagang ini dagang itu, menjadi buruh cuci, itu mereka lakukan dari pada tidak kerja. Maka harus ada upaya preventif untuk melindungi industri ini,” ucap Sudarto

Di tempat sama, anggota DPR dari Fraksi PKB, Abdul Kadir Kading, mengatakan regulasi pemerintah menekan pelaku industri SKT terjadi dari berbagai sisi. Pemerintah terus menerus mengubah kebijakan cukai sehingga industri SKT dalam kondisi dilematis. Sebab, menaikkan produksi berarti meningkatkan porsi pembayaran cukai. Peningkatan itu akan membebani keuangan sehingga sulit dipilih.

Di sisi lain, pelaku industri SKT akan kesulitan menyediakan pasokan ke pasar jika tidak meningkatkan produksi. “Tingginya harga rokok karena tingginya cukai menyebabkan pengurangan permintaan tembakau lokal, dan juga pengurangan tenaga kerja di SKT,” ucap Karding.

Ia menambahkan, kondisi itu juga menekan pelinting atau para pekerja SKT. Penghasilan mereka tergantung insentif yang dihitung dari seberapa banyak lintingan setiap hari. “Jika produsen menahan produksi, insentif mereka juga akan tertahan,” tutupnya. (jaa/idp)