Marak “Gadis Matik” di Semarang, Semalam Bisa Layani 10 Orang

36 views

Meski kerap dirazia, pratik prostisusi ilegal tetap marak di Semarang. Kupu-kupu malam kerap mangkal di Jembatan TI dan sekitaran Stasiun Kereta Api (KA) Semarang Poncol. Di Poncol ini, orang-orang sering menyematkan sebutan gadis matik kepada para pekerja seks komersial (PSK).

=================

BERADA di atas motor adalah salah satu strategi para Gadis Matik untuk bisa mengambil langkah seribu ketika ada razia petugas keamanan. Meski mereka juga menggunakan jurus kira-kira. Kira-kira kapan petugas keliling dan kira-kira kapan melipir sejenak.

Jawa Pos Radar Semarang mencoba menyambangi tempat yang biasa digunakan para gadis matik ini mangkal. Ya di sekitaran Stasiun Semarang Poncol. Ternyata, kini keberadaan mereka sudah meluas hingga ke Jalan Tanjung dan pertigaan Jalan Sayidan dengan Jalan Pemuda.

Keberadaan mereka memberikan pemandangan yang khas. Mulai dari yang muda 17 tahun, hingga paruh baya, kepala 5 alias umur 50-an. Semuanya tampak percaya diri memanggil pria yang melintas dengan laju kendaraan pelan. ”Ssstttt” sambil melambaikan tangan. Mereka menjajakan diri mulai pukul 21.00 hingga larut malam.

Salah seorang gadis matik, sebut saja Dian (bukan nama sebenarnya) mengaku terpaksa menjalani pekerjaan ini untuk membantu orang tuanya membayar utang. Tidak ada keluarga maupun tetangga yang tahu, Dian merupakan satu dari sekian gadis matik di Poncol. Sebab, kepada keluarga ia mengaku bekerja sebagai lady companion (LC) di salah satu tempat karaoke terkenal di Semarang.

”Makanya saya pakai masker, takut ketahuan kalau ada tetangga yang lewat,” jelas perempuan asal Boja yang mengaku belum lama menjalani pekerjaan ini. Nada bicaranya seperti layaknya sudah sangat akrab.

Dian baru berumur 22 tahun. Meski demikian, mantan mahasiswi yang putus kuliah ini sudah bersuami dan memiliki seorang anak. Ketika pergi mengais rupiah, sang anak diasuh oleh orangtuanya.

Berbicara mengenai tarif, tidak ada harga yang seragam. Rata-rata mereka mematok harga di atas seratus ribu rupiah dengan tambahan biaya kamar. Seperti layaknya Dian, ia bisa dipakai dengan harga 150 ribu termasuk biaya kamar. Harga ini tidak bisa digoyang lagi atau dalam istilah forum jual beli online, 150 merupakan harga nett.

Sepakat bertransaksi, Dian membawa pelanggan ke salah satu hotel kelas melati di sekitaran Stasiun Semarang Poncol. Dian tampak sudah biasa, layaknya masuk ke rumah sendiri. Ia juga yang membayarkan biaya kamar dari uang yang diberikan pelanggan. Di kamar berukuran kurang lebih 3×3 meter, dengan meja kursi di sudut ruangan dan satu tempat tidur besar namun kurang terawat serta tidak terlalu terang, Dian memuaskan hasrat para pria kesepian.

Sebelum memasuki kamar, petugas hotel akan menyemprot ruangan dengan pengharum ruangan. Sayangnya, aroma jeruk dari pengharum ruangan tak mampu menandingi pengap dan panasnya kamar. Bahkan tidak lebih wangi dari aroma parfum merk sissi milik Dian yang tercium saat transaksi di pinggir jalan.

Meskipun banyak menerima pelanggan, Dian mengaku tetap canggung beradu dengan pria yang bukan suaminya. Untuk itu, Dian selalu meminta pelanggannya untuk dilayani dalam keadaan gelap. ”Malu lahhh… Kalau nggak mau dimatiin, ya udah nggak jadi, uangnya saya kembalikan,” jelasnya santai, dengan gaya khas anak muda.

Lantas, berapa kali para gadis matik ini melayani pria dalam semalam? Dian mengaku melayani tamu sesuai dengan uang yang ia butuhkan. Jika sedang butuh banyak uang, ia bisa memuaskan 10 orang dalam satu malam. Namun, jika masih memiliki cukup uang, ia hanya melayani beberapa saja. Dian mengaku tidak setiap hari mangkal di sekitaran stasiun Poncol. ”Matikan ya Mas lampunya,” ujarnya.

Salah seorang penjaga hotel, Sutikno (nama samaran) mengatakan tarif hotel kelas melati berkisar antara 35-125 ribu rupiah. Tentu yang termahal, dilengkapi dengan fasilitas lebih, AC. Dirinya berkisah, para gadis matik memang selalu melayani pelanggan di hotel tempat ia bekerja selama 30 tahun ini. Bahkan, saking seringnya, dirinya sudah terlampau akrab dengan perempuan yang harus menanggung risiko terkena operasi Satpol PP ini. ”Risikonya berat. Kalau ketangkap dibuang ke Solo. Makanya mereka bawa motor untuk bisa kabur,” jelas pria dengan gaya rambut seperti raja Dangdut Indonesia ini.

Senada dengan pengakuan Dian, Sutikno berujar, setiap gadis metik bisa berkali- kali membawa tamu ke hotel yang juga menyediakan toko mini, isinya tak jauh dari kebutuhan aktivitas esek-esek, tisu dan kondom. Tentu, mereka yang cantik dan kuat bisa membawa lebih banyak tamu, bahkan hingga puluhan. ”Tidak ada persaingan, karena mereka juga tidak dikoordinir,” jelasnya.

Lain halnya dengan warga Kudus yang akrab disapa Yanti, 34, ini. Akunya, baru 2 tahunan menjajakan diri. Semua itu, karena tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga. Ia sebagai kepala keluarga tunggal, sedangkan suami yang dinikahinya secara siri tidak bertanggung jawab. Keluarganya tidak tahu, karena ia hidup di Semarang sengaja mengontrak. Sedangkan anaknya dititipkan ke orangtuanya.

Pekerjaan itu diakuinya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, anak, biaya hidup dan sebagainya. “Ini bukan pekerjaan pilihan, tapi karena keadaan,” tuturnya.

Dalam semalam ia biasa melayani 3 sampai 4 orang. Biasanya mulai mangkal pukul 20.30 di sekitar Poncol dan Jalan Pemuda. Untuk tarif sekali booking ia mematok Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung berapa kali mainnya.

“Kalau ada razia sudah biasa. Ada yang kasih info duluan, jadi selalu aman. Kalaupun ditangkap, paling cuma dititipin panti sebentar, nanti bisa kembali lagi,” kata Yanti kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Namun demikian, ia sendiri belum pernah tertangkap razia. Hanya saja, beberapa rekannya sudah pernah dan cukup sering. Namun tak malu, karena sudah menjadi bagian dalam mengais rejeki. “Kalau malu yo ndak makan Mas, semua kalah sama kebutuhan. Dibilang taubat pasti, karena kebanyakan juga rajin salat, cuma ndak ada pilihan lagi,” sebutnya.

Ia juga memiliki komunitas dengan backing preman. Pihaknya tinggal menyetor bagian untuk keamanan. Kalau buat ngamar, hampir seluruh hotel di Poncol bisa digunakan, sebagian tergantung tamu juga.

Berbeda lagi dengan janda anak 1 yang akrab disapa Risma yang tinggal di Tanah Mas. Selain mangkal di Poncol, juga membuka booking online. Sebulan ia bisa memperoleh Rp 4 juta. “Ndak tentu kalau penghasilan, tapi bisa sampai Rp 4 juta kalau sama boking luar. Kalau kerja pabrik paling cuma UMR, belum mikirin anak, kontrakan dan kebutuhan lain, mana cukup,” kata Risma dengan bahasa Jawa singkat.

Tetap Aman, Bayar Pengawas Khusus

BAGI warga setempat, sudah tak memandang aneh dengan maraknya Gadis Matik tersebut. Warga yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, mengaku para Gadis Matik biasa mangkal mulai pukul 19.00, meski baru satu dua orang di atas motor. Tambah malam tambah banyak. Ya kurang lebih ada 15 orang. Dari segi usia bervariasi.

“Kalau pagi dan siang, biasanya yang tua-tua. Mereka kalah saingan dengan yang lebih muda. Cuma yang ramai, tengah malam sampai menjelang subuh pukul 04.00. Tapi kalau setelah Subuh sudah tidak kelihatan di jalan-jalan,” bebernya.

Modus yang dilakukan para pencari pria hidung belang ini, bisa dibilang sedikit jual mahal. Sebab, mereka hanya memandang para pengendara mobil atau motor yang lewat.

“Mereka (Gadis Matik) biasanya lirak-lirik, kalau ada pengendara lewat. Ada juga yang tamunya nyamperin dan terus terang, “Ngamar berapa?”. Kemudian tawar menawar sesuai kesepekatan. Mereka juga menolak kalau pelanggannya dalam kondisi mabuk, alasannya mainnya lama dan mudah resek,” katanya.

Sepengetahuannya, tarif sekali kencan kepada para hidung belang variatif, kisaran antara Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu, tergantung kecantikan wajah dan bodi Gadis Matik. Sedangkan harga yang ditawarkan sebelumnya, biasanya di atas Rp 200 ribu, meskipun tidak semuanya. “Biasanya kalau menawarkan Rp 300 ribu, tapi kenanya antara Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu, sekali main. Misalkan setelah keluar (ejakulasi) mau tambah, ya harus perjanjian lagi, bayar lagi,” ujarnya.

Setelah terjadi kesepakatan, pasangan mesum tersebut menuju ke sebuah penginapan yang berada di kawasan jalan tersebut. Begitu juga, harga penginapan bervariasi, mulai dari harga Rp 25 ribu untuk kelas melati, ada juga yang mencapai Rp 200 ribu ke atas untuk hotel berbintang dua.

“Mmasuk hotel, bayar lagi, tergantung kesepakatan. Kalau di kelas melati, biasanya Rp 25 ribu-an, hanya sekali kencan, paling tidak sampai 1 jam. Memang biasanya pas di kamar ngejak cepet-cepet, sebab ibarat dia, waktu adalah uang, uang dan intinya uang,” bebernya.

Meski prostitusi ini terbuka, namun gerak-gerik para Gadis Matik ada pengawasnya. Mulai mangkal, transaksi, hingga masuk hotel. Kalau terjadi apa-apa, pengawas ini yang maju. Sebagian pengawas ini, biasanya pasangannya tak resmi. Selain untuk pengamanan, kadang juga antar jemput. Sedangkan jasanya bervariasi, mulai dari uang hingga kepuasan.

“Biasanya yang ngawasi gemblekannya, ya dapat jatah, ya makan, minta minum (miras) ya dibelikan, dapat uang, dapat kepuasan juga. Kalau dikasih uang berapa saya kurang tahu,” katanya.

Pihaknya juga mengakui, lokasi jalan tersebut sudah melegenda terkait praktik prostitusi jalanan. Menurutnya, praktik prostitusi tersebut sudah ada sejak ia kecil semasa Sekolah Dasar (SD). Sedangkan Gadis Matik, mulai ada kurang lebih sejak 10 tahun silam. “Sejak saya SD sampai sekarang berusia 30 tahun, sudah ada. Mengendarai motor matik dengan alasan lebih cepat untuk kabur ketika ada razia petugas,” terangnya.

Umumnya, Gadis Matik di kawasan tersebut berasal dari berbagai daerah, ada dari Semarang dan luar Kota Semarang. Ada dari Sunda, Jawa Barat, mereka indekos di Semarang. Ada yang janda, ada yang masih berkeluarga. “Jumlah tamu persisnya kurang tahu. Guyonannya, wah dino iki entok (uang) Rp 1 juta tok. Ada juga yang bilang, entok (dapat uang) Rp 500 ribu, sepi. Padahal jumlah itu sekali mangkal, belum kalau dikalikan sebulan. Makanya mereka motor beli sendiri, dilihat dari segi pendapatannya sudah bisa,” terangnya.

Sedangkan para pelanggan Gadis Matik tersebut bervariasi, dari kalangan bawah hingga menengah. Mulai pelajar, mahasiswa bahkan pegawai.”Dulu pernah razia besar-besaran siang hari. Ternyata ada PNS masih pakai seragam tertangkap, pelajar SMP, SMA juga ada yang makai (kencan),” katanya.

Harus Diselesaikan Akar Masalahnya

DIREKTUR Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM), Dian Puspitasari mengatakan, sebenarnya gadis matic ada, karena pelabelan oleh sebagian orang. Meskipun dalam kenyataannya ada fakta bahwa mereka diduga menjadi prostitusi. “Ini sebenarnya hanya pelabelan,” katanya.

Ia menambahkan, adanya gadis-gadis yang terlibat dalam prostitusi bisa disebabkan dua faktor. Yang pertama, rendahnya pendidikan mereka sehingga banyak yang terjerumus dalam prostitusi gadis matic di Kota Semarang. Kemudian faktor dominan lainnya adalah masalah kemiskinan yang sering membuat seseorang mencari uang dari pekerjaan tersebut. “Yang cukup ironi, tidak jarang mereka terlibat dalam prostitusi, karena memang sebelumnya menjadi korban kekerasan,” ujarnya.

Sangat miris memang jika masih ada gadis-gadis yang terjebak dalam prostitusi di Kota Semarang. Untuk itu, harus dipetakan, ditelusuri lebih mendalam dan harus dilakukan kajian atau assessment penyebab mereka terlibat dalam kegiatan tersebut. Hal itu penting, agar upaya pencegahan yang dilakukan bisa lebih efektif dan sampai ke akar permasalahannya. “Misalnya jika berkaitan dengan pendidikan, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan khusus agar mereka bisa mengakses,” tambahnya.

Dian Puspitasari mengakui banyak persoalan yang menyebabkan seseorang terjerembab dalam prostitusi. Ia meminta agar keluarga dan lingkungan benar-benar bisa memberikan rasa nyaman dan aman bagi generasi muda agar mereka tidak terjebak. Apalagi, sekarang semakin modernnya dunia teknologi harus menjadi perhatian serius bagi orang tua.

“Saya rasa pendidikan keluarga sangat penting. Bagaimana keluarga mengawasi dan membekali anak-anaknya dengan pendidikan moralitas dan karakter,” tambahnya. (sm/cr4/jks/mha/fth/mim/ida/JPR)