Masjid Hubbuddin Mirip Kandang Kambing di Tengah Kota Makassar

41 views

Di tengah ramainya Kota Makassar, khususnya di Jalan Urip Sumihardjo, pengguna jalan atau masyarakat tak banyak mengetahui adanya sebuah masjid berhimpitan dengan sebuah bangunan tinggi antara Makassar Town Square dan Carefour.

=======================
SYAMSUL ALAM, Kota Makassar
=======================

IALAH Masjid Hubbuddin yang dibangun di atas lahan 200 meter persegi oleh salah satu tokoh pendidikan Sulawesi Selatan, Amiruddin Passe. Kondisinya kini sangat memprihatinkan dan layak disebut sebagai kandang kambing.

Sepintas, orang sulit mengenal bahwa bangunan itu sebuah masjid. Hanya kubah kecil dan pengeras suara yang berada di puncak tower besi dengan tinggi kurang lebih 10 meter, yang menandakan bahwa itu sebuah masjid.

Dindingnya terdiri atas susunan batu bata yang belum diplester. Sebagian menggunakan dinding dari seng bekas. Atapnya pun sudah mulai lapuk dimakan rayap, yang sewaktu-waktu dapat membahayakan para jemaah yang sedang melakukan ibadah shalat.

Masjid Hubbuddin di Jalan Urip Sumohardjo Makassar, Selasa (27/3/18). (Foto: IST /Fajar.co.id)

Meski bangunannya masih darurat, masjid itu ramai jemaah pada hari Jumat. Sementara pada waktu salat fardu, biasanya sepi. Mungkin karena masjid ini nyaris tidak terlihat dan jauh dari permukiman warga.

Pemilik masjid, Nurnani, mengatakan, pembangunan masjid ini terbengkalai sejak tahun 2015, tepatnya setelah suaminya meninggal dunia. Terbengkalainya masjid ini makin parah karena lahan seluas 2,3 hektare itu kini menjadi sengketa. Saat ini, lanjut Nurnani, proses hukum masih berjalan.

Setelah gagal, Amiruddin terobsesi untuk mendirikan masjid di atas lahan itu. Dia memulainya dengan bangunan sederhana sambil berharap ada sumbangan dari donatur dan jemaah. Namun, prosesnya ternyata tak selancar yang diharapkan.

Dia sempat menceritakan cita-cita suaminya saat masih hidup.

Awalnya, Amiruddin Pase ingin mendirikan perguruan tinggi di atas lahan itu. Rencana itu bersamaan dengan pendirian Universitas 45 yang kini berubah nama menjadi Universitas Bosowa sekitar tahun 1980-an.

Hingga menjelang akhir hayatnya, Amiruddin tetap ngotot mendirikan masjid itu. Dia berpesan kepada istri dan anaknya agar melanjutkan bangunan itu.

“Almarhum suami saya berpesan, masjid ini tetap ada. Jika memang posisinya di situ kurang pas, bisa dipindahkan di tempat yang lain yang penting tetap ada di dalam area tanah itu. Jika pun masjid ini nantinya tidak bisa dibangun, maka kami akan bangun masjid yang sama di tempat yang lain,” ujar Nurnani mengenang suaminya.(sul/fajar)