Mau Nyaleg Modal Tipis? Jangan Mimpi

3 views

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN  –  Pendaftaran bakal calon legislatif (bacaleg) telah dilaksanakan pada 4-17 Juli lalu. Setidaknya ada 600 bacaleg yang mendaftar di KPU, guna merebut kursi DPRD Balikpapan pada Pileg 2019.

Salah seorang anggota DPRD Balikpapan yang enggan disebut namanya mengungkapkan, jadi caleg membutuhkan dana ratusan juta hingga miliaran rupiah.  “Bohong kalau ada caleg yang bilang enggak pakai duit,” ujar dia, kemarin.

Untuk menjadi caleg, hitungan dia, dibutuhkan dana Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar. Dana sebesar itu pun belum jaminan menang, namun mendekati menang. “Kalau hanya punya Rp 300-500 juta khawatir enggak terpilih, itu sangat minim soalnya,” ungkapnya.

Dana tersebut akan digunakan, di antaranya, untuk kegiatan sosialisasi atau mengenalkan diri kepada warga sesuai dapil. Sosialisasi itu membutuhkan dana puluhan juta hingga ratusan juta rupiah. “Minimal kita harus ngasih nasi kotak saat sosialisasi ke warga,” ucapnya.

Sosialisasi dilakukan mengingat target suara yang harus didapat standarnya adalah 3 ribu suara. Jika harga nasi kotak Rp 20 ribu per kotak, maka dikalikan 3 ribu suara menghabiskan dana Rp 60 juta. Ini untuk sekali sosialisasi. Padahal, pengenalan itu perlu dilakukan berkali-kali agar basis massa tidak hilang sia-sia.

“Belum lagi saat sosialisasi harus menampung aspirasi warga yang puluhan juta rupiah habis. Misalnya, perkumpulan (organisasi) ibu-ibu minta seragam, mau tidak mau kita harus penuhi. Kalau tidak, mereka tidak memilih saya. Ini baru sebatas nasi kotak, belum lagi untuk membayar tim sukses, saksi-saksi, dan lain-lain,” ungkapnya.

Dia juga mengaku, yang paling ditakuti caleg adalah aksi serangan fajar alias politik uang saat detik-detik pencoblosan. “Misalnya satu suara dihargai Rp 100 ribu, dikalikan tiga ribu suara, maka total Rp 300 juta. Ini ada caleg yang berani lebih membayar dari Rp 100 ribu,” sebutnya.

Lain halnya dengan Ria Puspita, bacaleg dapil Balikpapan Tengah yang mendaftar di KPU melalui PBB. Dengan tegas, dirinya tidak melakukan dan menolak prakktik money politics. “Sebagai bacaleg, saya tidak takut bersaing dengan para caleg yang melakukan money politics. Karena, menurutku, masyarakat sekarang sudah pintar memilah mana yang bekerja untuk masyarakat, mana yang bertujuan untuk mencari uang, uang dan uang. Ya, bisa dibilang mencari proyek,” kata Ria yang juga seorang model ini.

Oleh sebab itu, dia berharap masyarakat menjadi pemilih cerdas dan menolak politik transaksional. “Tolak money politics, maka kita menyelamatkan Indonesia. Karena apa? Karena banyak caleg hanya untuk mendapatkan uang (korupsi) bukan malah mau menyejahterakan masyarakat,” ucapnya.

Meski begitu, Ria mengaku optimis memenangkan Pileg 2019. Dia tidak memiliki strategi khusus untuk bersaing dengan lawan politiknya, tapi melakukan pendekatan dan pengenalan lebih dalam kepada warga.

Menurut dia, strategi untuk menghapuskan money politics tidak gampang. Sebab, orientasi sebagian masyarakat sudah uang. Tipe itu ingin memilih calon pemimpin jika dibayar.  “Andaikan masyarakat tahu dampaknya seperti apa, andaikan juga masyarakat mau menolak money politics tanpa mau suaranya dibeli, maka masyarakat tahu mana yang mau bekerja untuk masyarakat dan mana yang mau mencari kepentingan,” pungkasnya. (tur/rus/k1)