Milenial Harus Salurkan Nilai Pancasila Kekinian

2 views

JAKARTA – Ada tiga perinsip Pancasila yang harus oleh setiap masyarakat Indonesia. Ada filosofis, nasionalis, juga pragmatis. Ketiga nilai Pancasila tesrebut harus ditularkan oleh generasi muda atau para milenial dengan cara lebih kekinian.

“Kita harus menggunakan metode baru untuk mengenalkan Pancasila. Sebab, sekarang zamannya serba cepat. Pancasila dengan arti sesungguhnya harus hadir dengan meski penyampaiannya dengan cara-cara yang kekinian,” ungkap Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, kemarin.

Konsep dan metode baru penyampaian Pancasila disampaikan Moeldoko untuk menarik para generasi zaman now. Hal ini sebagai treatment untuk menguatkan kembali Pancasila yang dinilainya sudah mulai memudar. Moeldoko menambahkan, untuk menumbuhkan kembali nilai Pancasila dilakukan dengan mengikuti segala sesuatu yang menarik perhatian mahasiswa yang terdiri dari milenial ini.

“Beragam cara dilakukan agar Pancasila bisa diterima kembali oleh kalangan anak muda. Kami tetap yakin, nilai Pancasila ini kembali diserap oleh mereka lalu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” lanjut Moeldoko.

Untuk menarik perhatian para milenial, pemerintah ini pun sudah berevolusi. Yaitu, caranya dengan melalui pembentukan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Ilustrasi diberikan oleh Moeldoko, memanfaatkan perkembangan zaman digital seperti saat ini, pengenalan nilai Pancasila bisa dilakukan melalui vlog hingga digital learning lainnya.

“Ada banyak metode pembelajaran yang bisa dilakukan oleh para milenial. Apalagi, sekarang ini piranti yang ada sangat mndukung. Pembelajaran nilai-nilai Pancasila bisa melalui vlog. Digital learning lain juga bisa dilakukan. Intinya nilai-nilai Pancasila bisa ditularkan melalui media dan cara familiar yang ada di kalangan para milenial,” ujarnya Moeldoko lagi.

Sementara, Rektor Universitas Parahyangan Mangadar Situmorang memaparkan, kalangan akademisi sudah membuktikan bahwa keberagaman agama justru bisa membuat ikatan erat dalam masyarakat. Hal ini terlihat dari kalangan civitas akademisi di Universitas Parahyangan yang majemuk. Menariknya lagi, kemajemukan tersebut menumbuhkan sikap toleransi yang luar biasa.

“Universitas Parahyangan sudah membuktikannya. Keberagaman agama justru sangat menguatkan. Meski Universitas Parahyangan adalah kampus Katholik, namun mahasiswa yang masuk justru sangat beragam. Universitas Prahyangan bukan kampus ekslusif, tapi menerima berbagai latar belakang agama dan kondisi ini justru membuat solid. Toleransi tumbuh bagus,” kata Mangadar.

Mengembangkan pluralisme, harmonisasi dalam lingkungan civitas akademika Universita Parahyangan ini justru semakin kental. Gambarannya, struktur di Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) pun terlihat lebih berwarna. Setiap mahasiswa memiliki hak yang sama untuk duduk di dalam struktur MPM tanpa harus melihat latar belakangnya.

Mangandar lalu melanjutkan, gambaran inilah menjadi bukti bahwa nilai-nilai Pancasila bisa melekat erat dalam kehidupan dan keseharian para milenial. “Setiap mahasiswa di kampus memiliki hak sama. Mereka bisa duduk dalam struktur MPM tanpa melihat suku, agara, dan ras. Hanya butuh kesamaan visi misi. Kondisi ini jadi gambaran bahwa milenial juga bisa mengamalkan nilai Pancasila,” tutupnya. (*)