Mimpi Basah saat Puasa, Batalkah? Ini Penjelasan Ustad Abdul Somad

35 views

FAJAR.CO.ID, Mimpi basah adalah mimpi yang terjadi bagi laki-laki. Mimpi basah atau mimpi merasakan kenikmatan ejekulasi, terjadi pada remaja yang berusia 17 tahun ke atas. Mimpi ini juga disebut sebagai petanda seseorang yang mulai beranjak dewasa.

Mimpin basah memiliki istilah lain emisi nokturnal yang  disertai dengan keluarnya air mani.  Oleh ilmu medis mimpi basah adalah hal yang wajar.

Sementara dalam Islam, ketika seseorang mengalami mimpi basah, maka diwajibkan untuk bersuci alias mandi bersih. Sebab, wajibnya bersuci apabila keluarnya air mani.

Yang menjadi pertanyaan, apakah mimpi basah pada siang hari saat puasa, dapat membatalkan puasa? Jawabnya tidak. Puasa tetap dilanjutkan, namun wajib mandi bersih.

Jawaban itu diutarakan oleh Ustad Kondang Abdul Somad dalam sebuah video ceramanya tahun lalu. Dalam video tersebut, Abdul Somad mengatakan,  mimpi bukan kehendak seseorang untuk mengeluarkan mani.  Meskipun dia merasa nikmat saat mimpi tersebut, namun bukan berdasarkan kehendak dia. Sehingga tidak membatalkan puasanya.  “Mimpi adalah bukan kehendak kita. Puasanya tidak batal, yang batal adalah sengaja dan untuk kenikmatan.” Kata Abdul Somad.

Dalam hadis Hadits, menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk shubuh dalam keadaan junub adalah sebagai berikut.

Dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma, mereka berkata,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati waktu fajar (waktu Shubuh) dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.

Kesimpulan: 

Mimpi basah tidak membatalkan puasa karena bukan pilihan seseorang untuk mimpi basah.

Jika mimpi basahnya setelah waktu Shubuh, maka orang yang junub boleh menunda mandi wajibnya hingga waktu Zhuhur.

Jika junub karena mimpi basah atau hubungan intim dengan istri di malam hari, maka bagi pria yang wajib menunaikan shalat berjama’ahdiharuskan segera mandi wajib sebelum pelaksanaan shalat Shubuh agar ia dapat menunaikan shalat Shubuh secara berjama’ah di masjid.