Novel Baswedan: Masih Ada Orang Yang Membuntuti Sampai Sekarang, Saya Tidak Takut

Opini Bangsa – Sampai kini sudah satu tahun lebih pelaku kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan belum juga terungkap. Hingga kini mata sebelah kiri Novel Baswedan masih cacat lantaran disiram air keras.
Seperti diketahui Novel diserang orang tak dikenal pada 11 April 2017 lalu. Dia sempat menyebut ada sosok jenderal di belakang kasusnya. Lantas bagaimana perkembangan pen­anganan kasusnya? Apakah sudah ada informasi baru? Berikut penuturan lengkap Novel Baswedan.
Apakah ada perkembangan dari kasus penyiraman air keras yang Anda alami?
Saya belum menerima keterangan dari penyidik langsung tentang perkembangan penanganan kasus saya. Memang sekitar enam bulan lalu perkem­bangan diberitahukan kepada tetangga saya, informasinya ditujukan kepada tetangga saya. Tapi kalau saya sendiri belum pernah menerima perkembang apapun sampai sekarang.
Setelah Anda pulang dari Singapura, katanya kan sem­pat ada teror dari pelaku penyiraman tersebut. Bahkan rumah Anda kabarnya juga diawasi. Apa benar itu?
Iya. Jadi gini ceritanya, ketika saya pulang dari Singapura 22 Februari, petugas KPK yang ada di rumah saya melihat orang yang terlibat penyerangan ter­hadap diri saya ada di depan rumah saya. Ini kan luar biasa. Masak seberani itu sih? Tidak mungkin kan kalau tidak ada yang back up. Dan lagi dari informasi mereka juga bilang, teryata ada orang yang ngawasi dan ngikutin saya kalau keluar. Sampai sekarang itu masih ada. Saya tegaskan di sini, saya tidak akan takut dengan hal itu. Saya akan terus menyuarakan karena hal ini tidak boleh dibiarkan. Masa sih orang baik takut sama orang jahat? Jangan dibalik logika itu.
Penyelidikan kasus ini su­dah berlangsung cukup lama, dan sampai sekarang belum ada titik terang. Sampai kapan Anda akan menunggu?
Saya berharap Pak Jokowi punya kesempatan untuk mere­alisasikan janjinya mengungkap kasus ini. Tentu mengungkap­nya bukan setangah-setengah, tapi diungkap dengan tuntas. Siapapun yang terlibat harus­nya diungkap. Saya khawatir ada pihak yang karena jasanya, karena peranannya kemudian membuat Presiden atau sia­papun menjadi enggan, atau tidak berani untuk mengungkap. Kalau sudah seperti itu, kita mau berharap kepada siapa lagi? Karena seperti yang sudah saya sampaikan, ini bukan hanya menyangkut diri saya yang diserang. Bahkan saya sudah sampaikan dari awal, bahwa saya ikhlas. Saya memaafkan pelakunya. Kenapa sejak awal saya menyampaikan begitu? Karena saya ingin move on, saya ingin ketika kesehatan sudah mulai membaik, saya bisa kem­bali bekerja semaksimal yang saya bisa. Tentunya kalau saya terus berkutat pada hal itu saya tidak akan bisa move on.
Banyak yang pesimistis ka­sus ini bisa diungkap tuntas. Tanggapan Anda?
Saya tidak bisa mengambil kesimpulan dalam satu hal, karena tentunya ini masih ada waktu. Saya juga berharap Pak Presiden Jokowi memandang ini sebagai suatu yang serius, dan tentu ber­sikap jangan membiarkan. Kalau membiarkan bagaimana? Kalau saya kemudian bersikap tidak ada komitmen, maka seolah-olah saya mengambil kesim­pulan sebelum beliau selesai melakukan pekerjaannya. Janji beliau adalah hal yang penting, dan saya menghormati. Saya akan menunggu, karena ini bukan untuk saya saja. Kalau untuk saya saja, toh saya sudah memaafkan, saya sudah ikhlas menerima bahwa ini risiko per­juangan saya untuk memberantas korupsi. Tapi kalau ini dibiarkan akan menjatuhkan orang-orang yang semangat berjuang, dan akan membuat pelaku kejahatan semakin berani. Apalagi kalau di back up oknum tertentu. Ini kan berbahaya. Saya terus menyu­arakan karena hal itu. Masalah ini sama pentingnya dengan saya berjuang memberantas korupsi.
Dengan melihat penanganan kasus ini, menurut Anda Pak Jokowi pro pemberantasan korupsi enggak?
Saya tentunya tidak dalam posisi menilai ya. Saya tentu­nya tidak ingin mengomentari itu juga, karena itu masuk area politik. Saya hanya berharap, be­liau ini kan masih punya waktu. Jadi beliau bisa menujukan ke­pada masyarakat keseriusannya. Apabila beliau sekarang berbuat untuk memperantas korupsi den­gan sungguh-sungguh, berani mendukung orang-orang yang memberantas korupsi, tentu itu hal positif yang harus dinilai dengan positif juga.
Menurut Anda bagaimana pemberantasan korupsi saat ini jika dibandingkan dengan jaman SBY?
Saya sulit menilai ada pening­katan atau tidak. Cuma seperti yang saya sampaikan tadi, kalau untuk kejahatan terhadap SDA memang sudah dicegah. Tapi kalau yang sudah terjadi tidak ditindak tegas saya khawatir akan tetap meningkat. Itu yang saya khawatirkan. Saya bicara seperti ini karena cinta terh­adap Indonesia. Saya khawatir jawaban ini kemudian diplin­tir seolah-olah saya masuk area politik. Padahal ini adalau wujud kecintaan. Saya sampaikan bahwa Bapak Presiden masih punya kesempatan kok, untuk mendorong pemberantasan ko­rupsi dengan sungguh-sungguh. Artinya peluang pemeberan­tasan korupsi ke depan masih besar, karena beliau masih bisa berbuat.
Anda optimistis kasus ini bisa dituntaskan dalam sisa waktu pemerintahan Jokowi saat ini?
Menurut saya kasus peny­erangan ini kalau mau diungkap bukan suatu yang rumitlah. Sehingga kalau ada komitmen, ada kesungguhan, saya kira tidak perlu waktu yang lama. Saya kira seperti itu.
Kalau sampai masa pemer­intahan sekarang berakhir kasusnya belum tuntas juga bagaimana?
Saya tentu tidak pada po­sisi untuk membuat deadline. Karena saya deadline terus mau aksi apa? Karena seperti yang saya sampaikan tadi, saya menyuarakan ini karena punya tanggung-jawab bahwa hal ini tidak boleh dibiarkan. Ketika ini dibiarkan maka ini membahaya­kan. Oleh karena itu saya akan terus berupaya menyuarakan hal ini. Sama halnya seperti ketika saya melakukan tugas pember­antasan korupsi, dimana saya terus melakulannya sepanjang saya mampu. Itu adalah porsi saya yang bisa saya lakulan. Ada porsi yang merupakan porsi orang lain, dan tentunya saya akan menyuarakan agar beliau-beliau yang punya tang­gung jawab itu melaksanakan kwajibannya.
Ini kan tahun politik. Kalau banyak parpol yang menggu­nakan kasus Anda untuk men­dulang suara bagaimana?
Saya kira keterlaluan ya, kalau menggunakan kasus penyeran­gan terhadap saya hanya untuk mendulang suara. Saya kira tidak pada tempatnya seperti itu. Saya cuma berharap, orang-orang baik yang di pemerintahan maupun DPR tidak melakukan hal-hal seperti itu. Mereka har­usnya melakukan tindakan yang mendukung pemberantasan korupsi, baik terhadap perkara saya, maupun terhadap perkara yang menimpa pegawai KPK lainnya. Dan itu datanya jelas kok, bisa dicek. Pimpinan KPK bisa jadi takut, atau dalam kon­disi tertentu yang menjadi sulit untuk beliau saya tidak tahu juga. Tapi saya berharap, orang yang betul-betul punya komit­men tidak takut menggunakan isu itu karena tidak mau diang­gap untuk mendulang suara. Komitmennya yang bukan asal bicara saja, sehingga tidak di­anggap mendulang suara.
Tadi Anda sempat menye­butkan ada kasus penyeran­gan terhadap penyidik KPK lainnya. Ada berapa kasus?
Ada beberapa penanganan perkara, yang terkait dengan perkara yang cukup besar, dan kemudian itu dihambat oleh pihak tertentu dengan cara mengintimidasi, mengancam pegawai KPK. Dan ini makanya saya terus menyuarakan, supaya KPK sebagai lembaga melindungi pegawainya dalam menjalankan tugasnya. Dalam hal pimpinan KPK pun sudah menyampaikan bahwa mereka ingin melindungi pegawainya dengan sungguh-sungguh. Perlindungan yang terbaik kepada pegawai adalah dengam cara, apabila dia diserang, pelakunya diungkap. Itu cara yang terbaik. Bukan be­rarti ketika pegawai KPK mau dijaga 24 jam. Orang siapa sih yang mau dijaga, dan merasa terkekang dengan adanya pen­gawalan, saya kira tidak ada yang mau. Makanya cara terbaik adalah setiap penyerang harus diungkap. Oleh karena itu ketika saya terus menyampaikan, saya berharap hal itu diwujudkan sehingga bisa menjadi per­lindungan bagi pegawai KPK. Karena penyerangan yang bar-bar begitu, penyerangan yang sudah keterlaluan begitu tidak boleh dibiarkan. Ketika itu dibiarkan, dimaklumi, dianggap kriminal biasa, maka itu berarti kita melihat pemberantasan ko­rupsi sebagai suatu yang tidak penting.
Bisa diungkapkan, selain Anda siapa penyidik KPK yang diserang?
Saya kira tidak bisa. Saya berpikir begini, kalau saya sam­paikan umum begini, itu lebih komprehensif untik diselesaikan secara keseluruhan. Karena saya pikir pegawai KPK juga banyak yang sudah tahu. Ini kalau dibiarkan bagaimana orang di KPK berani untuk mengungkap perkara secara objektif dan apa adan­ya. Terutama yang melibatkan orang-orang yang berpengaruh. Nah itu yang jadi perhatian.
Menurut Anda apa tujuan penyerangan tersebut?
Tentunya perbuatan seperti itu akan mengganggu penanganan periara. Tujuannya barangkali menggagalkan penanganan perkara, dan itu membuat orang menjadi trauma. Saya khawatir trauma itu akan berlanjut, dan orang-orang yang diharapkan bisa terus berjuang memberantas korupsi menjadi tidak bisa.
Apakah KPK punya data siapa saja pegawai yang diserang?
Harusnya ada. Cuma sekarang ini tergantung apakah pimpinan itu memandang agar fakta-fakta itu perlu segera dibuka. Karena itu tidak boleh dibiarkan.
KPK sudah punya datanya, tapi tidak juga dibuka sehing­ga masalahnya juga tidak bisa diselesaikan. Apa masukan anda terkait hal ini?
Ya ketika itu keadaannya tidak normal, ketika ada kekuatan tertentu, dan kekuatan itu sangat besar dan tidak bisa diselesakan oleh KPK itu sendiri, maka tang­gung jawabnya presiden dong. Ketika itu berkaitan dengan aparatur yang di bawah presi­den langsung kendalinya, tentu presiden dong yang bisa. [opini-bangsa.com / rmol]