Pengamat Sarankan Transjakarta Jangan Rekrut Mantan Sopir Tembak

18 views

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Maraknya kecelakaan tunggal bus Transjakarta menjadi cerminan bahwa belum adanya sistem perekrutan yang benar. Pasalnya, mayoritas kejadian kecelakaan disebabkan karena kelalaian sopir.

Pengamat Transportasi, Deddy Herlambang menyampaikan rekrutmen untuk sopir Transjakarta memang belum kompeten. Masih banyak yang asal terima karena alasan agar tidak ada yang menganggur.

“Mereka tetap mengadakan tes tapi kalau tesnya sangat mudah seperti tes SIM ya percuma, tapi kalau tesnya berkala terus ada tahapannya seperti tes kecakapan mengemudi, terus psikologi lalu juga ada tes kelayakan saya pikir bisa bagus,” jelasnya saat dihubungi, Sabtu (13/10).

Namun, Deddy memang sempat meragukan jika PT Transjakarta merekrut sopir Kopaja atau Metromini tanpa mengetahui track recordnya. Sebab, pandangan di masyarakat tidak baik soal sopir Metromini yang dikenal ugal-ugalan.

“Jadi memang kita tahu sopir Metromini atau Kopaja secara sosial latar belakangnya sopir tembak atau kejar setoran. Coba rekrut juga berdasarkan kompetensi pendidikan misalnya minimal rekrutmen SMA,” jelasnya.

“Jadikan secara screening untuk sopir otomatis sudah tidak tersaring. Soalnya masalah keselamatan yang menjadi taruhannya jadi jelas tidak mungkin sopir tembak,” tegas Deddy.

Deddy pun setuju jika kecelakaan tunggal yang dialami Transjakarta akhir-akhir ini memang murni karena kesalahan sopir. Maka dari itu, pembenahan sistem rekrutmen harus dibenahi oleh PT Transjakarta agar masyarakat dapat lebih merasa aman dan nyaman ke depannya.

“Itu harus diperbaiki sih perekrutannya baik soal administrasi, kesehatan, tes pendidikan, tapi yang bener sebenarnya sederhana. Jadi jangan sekedar SIM B1 hanya bisa gas injak rem, jadi harus tersertifikasi,” terangnya.

Untuk diketahui, sepanjang tahun 2018, ini moda transportasi bus Transjakarta mengalami 44 kali kejadian kecelakaan lalu lintas yang tersebar di 11 koridor rute perjalanan. Akibatnya, kerugian yang dialami PT Transjakarta ditaksir mencapai Rp 121 juta. Tak hanya itu, sebanyak 59 orang penumpang menjadi korban kecelakaan, 6 di antaranya meninggal dunia.

Data tersebut dirilis oleh Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Jumat (12/10). Kasubdit Penegakkan Hukum dan Pembinaan Ditlantas PMJ, AKBP Budianto menyebutkan selama 2018 dari Januari hingga awal Oktober ini, Bus Transjakarta mengalami kecelakaan sebanyak 44 kejadian yang tersebar di 11 rute perjalanan. (rgm/JPC)