Penyerahan Kursi Wagub DKI ke PKS Tak Pengaruhi Elektabilitas Prabowo-Sandi

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah bersepakat untuk memberikan kursi Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta yang ditinggalkan Sandiaga Salahuddin Uno kepada kader PKS. Kesepakatan ini bagian dari merealisasikan janji Partai Gerindra kepada PKS saat penyerahan rekomendasi kepada Prabowo Subainto sebagai Calon Presiden (Capres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Sebelumnya, PKS begitu ngotot menagih janji Partai Gerindra untuk merealisasi janji mereka beberapa hari kemarin. Bahkan, PKS sempat mengancam akan mematikan mesin partai di Pilpres 2019, jika Partai Gerindra tidak merealisasikan janjinya untuk memberikan kursi Wagub DKI Jakarta kepada mereka.

Pengamat Komunikasi Politik Nasional, Emrus Sihombing menilai kesepakatan antara Partai Gerindra dan PKS terkait kursi Wagub DKI Jakarta ini sangatlah wajar, karena rekomendasi diberikan oleh PKS kepada Capres Prabowo Subianto dan Cawapres Sandiaga Uno aalah kader Partai Gerindra, meski Sandiaga Uno kemudian memundurkan diri dari keanggotaan Partai Gerindra.

“Menurut saya, saya kira sangat wajar diberikan ke PKS, karena pertama itu Capres dan Cawapres itu dari Partai Gerindra, meski Sandi mengundurkan diri dari partai. Saya kira itu wajar sekali, karena politik itu soal kekuasaan. Politik bicara saya melakukan apa, saya dapat apa. PKS merupakan sekutu atau segaja dengan Gerindra, nah oleh karena itu pemberian itu sangat wajar, tapi tidak meningkatkan elektabilitas,” kata Emrus Sihombing kepada Fajar Indonesia Network lewat panggilan telpon, Rabu (7/11).

Menurut Emrus, kesepakatan antara Gerindra dan PKS tidak begitu berpengaruh pada elektabilitas pasangan nomor urut 02 itu, karena Gerindra dan PKS sendiri sudah menjalin kerja sama sejak Pilpres 2014 lalu. Akademisi Universitas Pelita Harapan (UPH) itu menambahkan, kondisi ini akan menjadi ancaman buat Prabowo-Sandi bila Gerindra tidak memberikan kursi Wagub DKI kepada PKS.

“Sesungguhnya selama ini PKS sudah menjadi pendukung Prabowo, artinya kalau pun dilakukan kemarin survey, itu survey dilakukan karena PKS memberikan dukungan, dan sampai sekarang memberikan dukungan itu. Artinya bahwa elektabilitas itu tetap tidak naik, tapi kalau justeru tidak diberikan ke PKS malah bisa turun. Jadi dia berada pada posisi konstan ketika Wagub itu diberikan,” ucapnya.

Dikatakan Emrus, ancaman PKS beberapa waktu lalu untuk mematikan mesin partainya itu sangatlah berpengaruh kepada penurunan elektabilitas Prabowo-Sandi, tetapi dengan kesepakatan itu pula, mesin partai PKS akan kembali dihidupkan. Namun, untuk meningkatkan elektabilitas sangatlah sulit, karena tidak ada kekuatan lain.

“Karena tidak diberikan mesin PKS bisa tidak jalan. Tetapi dengan diberikan ini, mesin PKS jalan seperti sedia kala dengan kata lain, bahwa elektabilitas masih tetap. Tetapi memang partai yang datang itu bukan partai pendukung, artinya ini bukan semua partai, bukan tambahan partai, tapi ini adalah semacam posisi tawar sehingga memang harus diberikan ke PKS,” jelasnya.

Sementara itu, Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan, pengganti Wagub DKI Jakarta secara sah sudah diserahkan kepada PKS. Tetapi, Gerindra dan PKS akan membentuk tim bersama untuk fit anda propertes kepada kader, baik dari PKS maupun Gerindra sendiri. “Updatenya kursi Wagub itu Gerindra-PKS bentuk tim berasama untuk fit and properties buat 4 anggota, Gerindra 2 dan PKS 2,” kata Muzani kepada wartawan, Rabu (7/11).

“Maksudnya ialah, untuk melihat dan mendengar dua calon yang dicalonkan PKS. Kan kita juga punya kepentingan karena juga mengajukan, bagaimana visinya, misinya dalam membangun Jakarta dan membantu Gubernur. Kira-kira seperti itu,” tambah Muzani.

Politisi yang saat ini menjabat Wakil Ketua MPR-RI itu menegaskan, Gerindra sudah menyerahkan posisi tersebut ke PKS, tetapi selaku partai pengusung perlu mengetahui visi-misi dari calon Wagub DKI pengganti Sandiaga Uno dari PKS itu sendiri.

“Iya, iya sudah pasti PKS, jadi Gerindra menyerahkan pada PKS. Tetapi dalam hal menyerahkankan kita juga perlu tau visi-misinya. Kita perlu dengar mana orangnya, kan begitu. Tidak pakai misal, pokoknya ajukan dulu, mana orangnya, hamba Allah itu tampilkan dulu, kita ingin dengar,” tutup Muzani. (Aiy/Fajar)