Penyiraman Air Keras Novel Baswedan tak Kunjung Selesai, Komnas HAM Bergerak

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan masih belum menemui titik terang. Rabu (11/4) besok tepat satu tahun tragedi naas ini terjadi.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) berencana akan menggelar diskusi dengan Polda Metro Jaya guna membahas berlarut-larutnya kasus ini. Pertemuan ini guna mencarikan segala jenis kekurangan yang masih dibutuhkan guna mengungkap kasus ini.

“Pertemuan dulu dengan timnya Polda. Mendengar dulu dari mereka, kan kami sudah dapat dari saksi, dari Pak Novel, dari berbagai pihak. Untuk berikutnya memang harus dapetin data dari polda apa sih yang sudah dimiliki. Apa yang menjadi, yang dibilang belum cukup itu seperti apa,” ungkap Wakil Ketua Bidang Eksternal Komnas HAM, Sandrayati Moniaga di kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (10/4).

Meski demikian, Sandra belum dapat memastikan kapan pertemuan ini akan digelar. Sejauh ini Komnas HAM sendiri telah mendengar kesaksian dari beberapa pihak seperti warga sekitar tempat kejadian hingga dari Novel itu sendiri.

“Dari saksi di sekitar tempat itu saya nggak hitung angkanya. Kemudian dari Pak Novel sendiri, dari KPK juga sudah, dan sebagian nanti akan ada pertemuan lagi dari KPK,” lanjut Sandra.

Dari semua keterangan yang berhasil didapat, Komnas HAM mengaku belum mengetahui persis penyebab kasus ini berlarut-larut. Oleh karena itu dibutuhkan pertemuan dengan pihak penegak hukum yang menangani perkara ini.

“Belum bisa dinilai karena kami juga kan perlu tahu apa yang sudah dikumpulkan oleh Polda. Dalam perkara pidana kan memang unsur yang namanya pembuktian itu harus memadai. Itu yang harus kami tampilkan,” imbuhnya.

Lebih lanjut Sandra berharap dengan adanya pertemuan dengan Polda Metro Jaya nanti, dapat membuka seterang-terangnya kasus ini, sehingga tidak terus menemui jalan buntu.

“Kami ingin memahami faktor apa yang menyebabkan proses berjalan segini lama. Karena lagi-lagi kita harus melihat apakah lambat, atau memang sulit, atau memang ada faktor lain,” pungkas Sandra.

(sat/JPC)