Perampok Dobrak Rumah, Lalu Todong Penghuninya dengan Senjata

6 views

FAJAR.CO.ID, PARINGIN – Malam belum terlalu larut saat Maulana Tiffani mendengar suara keras dari ruang depan rumahnya, Selasa (10/4) malam. Dia melihat jam, baru pukul 22.30 Wita. Belum sempat pemuda 26 tahun itu berpikir lebih jauh, suara itu terdengar lagi dan Roni, adiknya segera berteriak “Rampook!”.

Ternyata pintu rumah mereka telah didobrak dari luar. Saat itu di rumah hanya ada Roni, Maulana dan istrinya, Meliani.

Mereka langsung terdiam setelah para perampok menodongkan senapan laras panjang. “Diam, kalau bersuara saya bunuh,” ujar salah seorang perampok yang menggunakan penutup wajah ala teroris.

Ada belasan perampok yang berada di dalam rumah yang beralamat di Rt 03 Desa Halubau Kecamatan Paringin Selatan. Beberapa juga berjaga di luar rumah. Semua memegang senjata, baik senapan maupun parang, kapak, linggis dan balok kayu.

“Sebagian pakai topeng sebagian tidak, mungkin yang pakai topeng ini orang yang kami kenal,” kata Maulana saat menceritakan hal itu kepada Radar Banjarmasin.

Setelah berhasil melumpuhkan Maulana beserta istri dan adiknya, para perampok merangsek ke rumah Zulkipli. Pria 51 tahun itu adalah ayah dari Maulana. Jarak rumah keduanya tidak sampai 50 meter. Sekeluarga itu menjaga sebuah sarang walet milik seorang pengusaha dari Medan. Sudah tiga tahun ia bersama anaknya menjaga sarang walet tersebut.

“Aneh juga, kami tidak mendengar suara gaduh saat rumah Maulana didobrak, hanya saat mereka mendobrak pintu rumah, saya baru saya kaget,” ungkap Zulkipli.

Tidak mudah bagi para pelaku dalam menerobos rumah Zulkipli yang dihuninya bersama istri Mahrita (40) dan empat orang anaknya yang masih kecil-kecil, Soleh (11), Nabila (8), Shintia (6), Julia (17).

Selain semua pintu dan jendela dilengkapi teralis baja, para perampok juga harus berusaha keras dalam menaklukan Zulkipli. Ayah dari enam orang anak ini memberikan perlawanan sengit bermodalkan sebilah parang menghalau para perampok yang berusaha menerobos masuk lewat jendela depan.

“Tangan sebelah kanan saya memegang parang untuk menghalau para perampok yang sudah bisa menjebol jendela depan, dan tangan kiri memegang ponsel untuk menghubungi kerabat, minta tolong supaya diteleponkan polisi,” tutur Zulkipli.

Suara parang bertemu parang berdenting saat Zulkipli berjihad melindungi keluarganya. Tangisan anak-anak meraung-raung di sudut rumah.

Namun sial, satu dari lima jendela rumah yang berada di bagian belakang tidak dilengkapi teralis baja. Tiga orang perampok berhasil masuk rumah melalui jendela ini.

Mahrita yang bertugas menjaga pintu ruang tengah tak berdaya menahan dobrakan tiga orang perampok, kemudian tersungkur tertimpa pintu.

“Menyerah atau leher istri kamu kami gorok,” salah seorang perampok mengancam Zulkipli.

Melihat leher istrinya dikalungi parang, perlawanan Zulkipli kandas. Ia pun menyerahkan senjatanya kepada perampok lainnya. “Seandainya istri dan anak saya tidak terancam, saya tidak takut duel dengan belasan perampok itu,” tukas Zulkipli geram.

Tangan Zulkipli dan istri diikat, anak-anak dibiarkan berkumpul di sudut ruangan. Gelang emas istrinya yang sekitar 11 gram dicopoti, handphone disita supaya tidak menghubungi polisi. “Padahal sebelumnya saya sudah menelepon kerabat,” cerita Zulkipli.

Apes bagi para perampok, saat ingin beraksi menggondol sarang walet di samping rumah Zulkipli, personel Kepolisian Sektor Paringin sudah tiba di lokasi kejadian.

Belasan perampok ini lalu lari kocar-kacir menuju perkebunan di belakang rumah Zulkipli. Beberapa meninggalkan sajam, dan perlengkapannya untuk memanen sarang walet.

Tidak ada korban jiwa dan luka-luka dalam kejadian ini. Hanya menyisakan trauma bagi Mahrita yang dikalungi parang langsung di lehernya.

Saat dikonfirmasi, Kapolres Balangan Ajun Komisaris Besar Polisi Moh. Zamroni membenarkan adanya kejadian perampokan ini. Sebagian barang bukti pun sudah diamankan. “Saat ini masih kita lakukan penyelidikan lebih lanjut,” singkatnya. (why/ay/ran)