Peringatan Hari Pahlawan: Veteran Harap Milienial Jangan Termakan Hoax

FAJAR.CO.ID, BANDUNG – Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) mengingatkan para pemuda atau generasi milenial untuk meneruskan perjuangan para pahlawan terdahulu. Berjuang dengan semangat dalam memajukan bangsa dan tidak mudah termakan hoax.

Pasalnya dewasa ini, generasi milenial dianggap mudah terprovokasi atau termakan berita bohong. Karena selalu mengandalkan kecepatan agar dianggap eksis dalam mengshare informasi sebelum mengecek kebenarannya.

“Anak muda sekarang terlalu banyak tergiur situasi yang katanya anak milenial yang suka terbawa imbang ambing dalam sebuah informasi. Barang kali ada yang dengar hoax langsung share, seharusnya disaring dulu,” kata Veteran Herman Muh, 83 di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra Bandung, Sabtu (10/11).

Veteran dengan jabatan terakhir Letnan Kolonel ini mengaku sangat prihatin dengan generasi muda yang selalu termakan berita bohong. Sehingga mudah terjadi bentrokan antara individu dengan individu lain ataupun kelompok.

Berbicara bersikap pancasilais, Veteran asal Bandung ini mengaku banyak orang yang merasa sangat Pancasila tapi tidak menunjukan sikap pancasilaisnya. Baik dari anak muda hingga anggota partai politik kalau mengaju Pancasila maka tidak boleh menuduh orang lainnya yang tanpa bukti.

“Maka sebagai pemuda harus terjun ke masyarakat dan perlu diniatkan dari sekarang. Tentukan tujuannya misal jadi pemimpin atau lainnya tapi juga harus ada yang mewadahinya,” ujarnya.

Selain harus memerangi hoax juga mengkritik pemerintah dengan cara yang baik. Indonesia negara demokrasi, setiap penduduk berhak bersua dalam mengkritik untuk kebaikan bangsa. Namun tetap harus ada batas-batas tertentu.

“Berpikir kritis pada pemerintah baik, itu hak seseorang hanya harus ada batas. Jadi jangan sampai tidak ada batasan yang akan jatuhkan kita juga. Jadi jangan sembarangan ngomong di luar tanpa dasar,” tuturnya.

Jika tidak suka pada pemerintah, maka sampaikan dengan cara sopan dan berdasarkan data. Terkait adanya kesalahan pada pemerintah itu adalah hal yang pasti ada, maka sebagai warga negara wajib mengkiritisi jika itu salah.

“Enggak seneng ke pemerintah boleh kritik, pemimpin harus menanggapi. Tapi pemimpin juga jangan ngomong seenaknya sendiri. Demokrasinya benar tapi yang namanya reformasinya jangan kebablasan,” jelasnya.

Untuk diketahui, Herman bertugas pertama kali di Kodam 16 atau kalau sekarang di Bali. Kemudian selama 30 tahun selalu berpindah-pindah tugas diantaranya di Bandung, Madiun, Jakarta hingga pensiun. (ona/JPC)