Prabowo Mau Stop Impor, Begini Kenyataan yang Terjadi

4 views

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Calon Presiden Nomor Urut 02, Prabowo Subianto beorasi akan menghentikan impor apabila dirinya terpilih sebagai presiden 2019. Menurutnya, kebijakan membeli barang dari luar negeri tak akan menghasilkan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Prabowo saat menghadiri acara deklarasi relawan Komando Ulama Pemenangan Prabowo-Sandi (Koppasandi) di Kuningan, Jakarta, Minggu (4/11). Tiga hal yang jadi fokus Prabowo dalam impor adalah pangan, air, dan energi.

Indonesia memang beberapa waktu ke belakang selalu melakukan importasi baik bahan pokok maupun bahan bakar minyak.  Dengan kondisi tersebut, apa yang akan terjadi pada Indonesia jika impor disetop?

Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi menilai jika melihat kondisi dalam negeri dimana data suplai dan demand-nya masih simpang siur maka yang paling riil dijadikan patokan adalah harga di masyarakat.

“Untuk kasus Indonesia dimana data suplai dan demannya masih simpang siur, yang bisa dijadikan patokan adalah harga di masyarakat,” ujarnya saat dihubungi Jawapos.com (Grup Fajar), Selasa (6/11).

Harga yang dimaksud, kata dia, juga harus bebas dari intervensi pemerintah yang sifatnya mengintervensi pasar. Intinya, ketika harga pokok mahal berarti suplai di masyarakat kurang atau sedikit. Sedangkan masyarakat tidak bisa menunda kebutuhan pokoknya.

“Ketika harga makanan pokok mahal, berarti suplainya di masyarakat kurang. Sedangkan demand-nya tinggi,” jelasnya.

Kendati begitu, seyogianya keinginan Prabowo supaya Indonesia bisa mandiri dari impor bisa saja terjadi. Namun perlu proses yang amat panjang. Kemandirian pangan dalam negeri itu terus dikobarkan bahkan dijadikan ‘jargon’ politik sampai saat ini.

Indonesia memang pernah mencapai swasembada beras pada 10 November 1984. Namun hal itu tak berlangsung lama, sebab menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia impor beras terus mengalami peningkatan sejak 2013.

Pada 2013, Indonesia impor senilai USD 246 juta dengan volume 472,66 ribu ton, 2014 impor senilai USD388,18 juta dengan volume  844,16 ribu ton, 2015 impor senilai USD 351,60 juta dengan volume 861,60 ribu ton, 2016 impor senilai USD 531,84 juta dengan volume 1,2 juta ton, 2017 impor dengan angka sementara senilai USD 143,21 juta dengan volume 311,52 ribu ton.

Sementara pada 2018 Indonesia kembali mengimpor beras dengan volume 2 juta ton. Meski pemerintah mengklaim impor tersebut hanya sebagai cadangan pasokan saja. (uji/JPC)