Rumah Produktif IYL-Cakka Bakal Terbentur Pemasaran

4 views

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Program Rumah Produktif yang ditawarkan pasangan kandidat Ichsan Yasin Limpo (IYL)-Cakka saat Debat Kandidat dikhawatirkan tak realistis karena tak memikirkan masalah penyaluran produk yang nantinya dihasilkan. Sebab saat menjabat Bupati Gowa, IYL justru kurang peduli terhadap pemasaran produk petani dan UKM.

“Saya kira gagasan Rumah Produktif IYL-Cakka tidak memikirkan masalah pemasaran. Sebab sebenarnya problem utama yang dihadapi petani atau pelaku UKM adalah memasarkan produk atau mencari pembeli,” kata Makmur Mingko, Ketua Asosiasi Suplier Toko Modern (Astom) Sulsel saat menanggapi Debat kandidat Pilkada Sulsel, di Makassar, Kamis (29/3/2018).

Apalagi menurut Makmur, saat masih menjabat Bupati Gowa, IYL terkesan kurang peduli dengan persoalan pemasaran. Salah satu bukti, sulitnya perizinan bagi berdirinya toko modern nasional di Gowa. Padahal toko modern menjadi salah satu sarana untuk menjual produk hasil petani maupun UKM.

“Apalagi kualitas sebuah produk, baik pertanian maupun UKM, baru bisa disebut memiliki nilai tambah jika bisa masuk ke pasar ritel modern nasional,” kata Makmur.

Hal itu berbeda dengan Bupati Bantaeng yang justru melibatkan Astom untuk menyalurkan hasil bumi dan produk UKM di Bantaeng. “Pada tahun 2015, Astom menandatangani dua MoU dengan Pemkab dan Dekranasda Bantaeng untuk menyalurkan produk dan hasil UKM di Bantaeng,” katanya.

Astom melakukan MoU dengan pihak Pemkab untuk penyaluran hasil bumi seperti sayuran dan buah. Sedangkan MoU dengan Dekranasda Bantaeng untuk penyaluran hasil UKM dan industri rumahan.

“Jadi sayuran asal Bantaeng seperti wortel, kentang, durian, atau kue kering hasil industri rumahan sejak 2015 telah menjadi produk yang masuk ke pajangan toko-toko modern di Makassar dan kota-kota lainnya di Sulsel,’ kata Makmur.

Makmur bahkan memberi apresiasi kepada Bupati Nurdin Abdullah yang menugaskan BUMDes untuk menjadi pihak pembayar kepada petani. BUMDes tak lain badan usaha milik desa di Bantaeng.
“Jadi petani dan pelaku UKM diuntungkan karena produknya langsung dibayar. Kami juga diuntungkan karena bisa segera menyalurkan barang. Kami membayar ke BUMDes pada periode yang telah ditentukan sesuai kesepakatan,” lanjutnya.

Oleh sebab itulah, Makmur melihat tawaran ekonomi Prof Andalan dalam Debat Kandidat yang memasukkan poin pemasaran atau distribusi lebih realistis dibanding Rumah Produktif yang hanya fokus memproduksi. “Sekali lagi bagaimana bisa terus produktif kalau barang yang dihasilkan tak bisa dipasarkan,” katanya. (*)