Sabtu Malam, Sam Poo Kong Dipenuhi Ribuan Wisatawan

3 views

FAJAR.CO.ID, SEMARANG – Rangkaian perayaan Festival Cheng Ho 2018 berlangsung seru. Lebih heboh dari biasanya. Sejak Sabtu (11/8) siang, Klenteng Sam Poo Kong, Kota Semarang, ramai oleh beragam sajian hiburan berbalut budaya Tionghoa.

Sebanyak 5000 tiket yang dijual di hari Sabtu ludes terjual. Masyarakat dan wisatawan seakan tak ingin melewatkan sajian berbau sejarah dan pengaruh panjang budaya Tiongkok yang terasa sampai sekarang.

Atraksinya memang keren abis. Sejak siang hari, ada bakti sosial berupa sunatan massal yang digelar Yayasan Sam Poo Kong. Dan peserta bakti sosialnya, ikut dihibur pertunjukan Barongsai dari Nacha Darma Semarang.

Malam harinya, ada welcome dance dan drama kolosal “Paman Datang” dari sekolah Kuncup Melati. Setelah itu, ada Tari 1000 tangan yang menemani. Ada juga permomance wushu yang diikuti ritual pengiriman Abu Kimsin dari Kelenteng Tay Kek Sie ke Sam Poo Kong. Prosesi ini diiringi pesta kembang api yang dilaksanakan tepat tengah malam.

“Memahami sejarah Cheng Ho itu harus kontekstual. Harus penuh pemaknaan, menengok masa lalu, melihat fakta saat ini, dan memproyeksi masa depan. Bukan hanya text book dan literasi saja,” kata Juru Bicara Yayasan Sam Poo Kong Semarang, Mulyadi, Sabtu (11/8) malam.

Kebetulan, hal ini sejalan dengan pariwisata. Ada atraksi pariwisata yang disuguhkan. Ada artefak yang bisa dipelajari. Bukti peninggalan Cheng Ho yang bisa dilihat. Bahkan, ada juga cerita rakyat yang bisa disimak dari cerita mulut ke mulut.

“Ini yang membuat Festival Cheng Ho banyak dicari orang. Dengan tiket Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu saja, kita bisa menjual 5 ribu tiket. Semua sold out di hari pertama,” tambahnya.

Faktanya, sejarah yang dikemas dalam story line membuat ribuan orang terpikat untuk datang. Banyak yang dibuat penasaran akan kekuatan cerita masa lalu Cheng Ho. Banyak yang ingin menggali lagi.

Saking penasarannya, banyak yang rela menunggu hingga dini hari hanya untuk melihat atraksi kembang api dan prosesi make up arak-arakan. Padahal, prosesi puncaknya sendiri digelar Minggu pagi. Dari jadwal yang dirilis panitia, semuanya start dari jam 06.00 pagi.

“Tiap tahunnya selalu begitu. Fesitvalnya seperti menjadi atraksi pariwisata yang ditunggu orang. Itu sebabnya banyak orang penting yang menonton.Tahun ini, ada tamu VIP seperti Staf Ahli Bidang Multikultural Kemenpar Esthy Reko Astuti yang ikut menonton. Ada juga Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Juga Sekdaprov, Forkompimda dan perwakilan Ormas,” urainya.

Staf Ahli Bidang Multikultural Kemenpar Esthy Reko Astuti juga ikut mengamini. Menurutnya, cerita yang berbasis sejarah, baik itu fiksi maupun non fiksi, bisa menjadi atraksi pariwisata yang khas.

Menjadikan sejarah masa lalu dengan segala peninggalan yang masih tersisa, itu punya sensasi yang kuat.

“Itulah jawaban mengapa banyak museum di Eropa yang ramai dikunjungi orang. Semuanya kaya cerita dan membuat orang tertarik datang melihat sendiri ke tempat asalnya,” kata Esthy.

Menpar Arief Yahya yang pernah ikut hadir di festival ini 2016 silam juga ikutan bernostalgia. Ada rasa penasaran. Takjub. Terpesona. Maklum, selain wow, akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa juga sangat terasa. Ada ribuan manusia yang berjubel di sana. Kerumunanannya pun tak pernah sepi. Dari pagi sampai tengah malam, selalu masih ada lautan manusia yang berkerumun di sana.

“Semua Menyatu saling hormat, saling berbagi, dan semuanya menikmati dengan tertib dan baik. Saya kira ini sangat bagus. Masyarakat senang, prosesi bagus sesuai rencana, masyarakat juga terhibur. Selamat berfestival. Salam Wonderful Indonesia,” ungkap Menpar Arief Yahya. (ags/lis/idp)