Selesai! Andi dan Amin Harus Ditembak Mati

15 views

FAJAR.CO.ID, TARAKAN – Setelah pembacaan tuntutan ditunda hingga enam kali, akhirnya Jumat (23/3) sekira pukul 15.45 Wita, dua dari lima terdakwa yakni Andi dan Amin dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum (JPU) atas kasus perkara kepemilikan sabu-sabu seberat 11,4 kilogram (kg) dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tarakan.

Terdakwa Amin dan Andi dinyatakan terbukti oleh JPU, dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana percobaan atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika. “Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Amin dengan pidana mati. Dengan menyatakan barang bukti (BB) berupa narkotika golongan I jenis sabu kristal dengan berat atau 10 kg yang terdapat di dalam satu buah jeriken warna biru,” ungkap Putra, JPU Tarakan saat membacakan tuntutan terhadap Amin.

Sama halnya dengan Amin, JPU juga menilai Andi yang merupakan salah satu warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-A Tarakan sangat pas didakwa dengan tuntutan sesuai pasal 114 ayat (2) UU nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika juncto pasal 132 ayat 1 UU nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Hukuman mati.

Mendengar tuntutannya tersebut, Amin dan Andi tertunduk. JPU juga menuturkan adapun hal yang memberatkan terhadap dua terdakwa yakni tidak mengaku berterus terang dalam persidangan. Dan juga keterangan terdakwa berubah-ubah pada saat memberi kesaksian untuk terdakwa lain. Hal lain yang dipertimbangkan, terdakwa merupakan sindikat jaringan  narkotika Malaysia yang dikendalikan Mec, narapidana Rutan Tarakan dan Ayau.

Untuk diketahui, Ayau juga merupakan terpidana mati dalam putusan tingkat pertama di Pengadilan Negeri (PN) Tarakan. Ayau mengajukan banding hingga Pengadilan Tinggi Kaltim memberi vonis seumur hidup. Kasusnya masih berproses menuju kasasi di Mahkamah Agung (MA).

Ayau sudah dipindahkan ke Lapas Kelas I Surabaya, setelah sempat mengamuk usai vonis hukuman mati dibacakan di PN Tarakan akhir 2017 lalu. “Hal yang meringankan tidak ada,” bebernya.

Sementara, ketiga terdakwa lainnya, Roniansyah, Ari Permadi dan Hariyanto dituntut hukuman seumur hidup karena di persidangan tidak mengakui perbuatannya. Ketiganya juga tak menyesal.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Pidana Umum Kejaksaan Negeri Tarakan Banan Prasetya menuturkan sudah ada pertimbangan dari Kejaksaan Agung sebelum memberikan tuntutan kepada terdakwa. Menurutnya, terdakwa juga punya hak untuk melakukan upaya hukum lain.

Kan tidak berhenti di sini, masih ada upaya hukum, kalau mau banding untuk diuji lagi di hakim di Pengadilan Tinggi atau kalau mau kasasi bisa diuji di hakim MA. Kalau memang ada novum atau bukti baru bisa dilakukan Peninjauan Kembali (PK). Inilah menurut kita, yang seadil-adilnya, masalah nanti hakim memutuskan apa, itu kewenangan hakim,” tegasnya.

Majelis Hakim yang diketuai Christo E. N Sitorus menjadwalkan sidang pembelaan pada 2 April mendatang, dilanjutkan replik jawaban JPU 4 April, duplik pada 12 April dan putusan 12 April.

“Masa tahanan terdakwa dari Pengadilan Tinggi ini habis 20 April mendatang, jadi seharusnya sebelum 10 hari masa tahanannya ini habis, saya sudah harus memutuskan perkara ini,” tegasnya.

Di sisi lain, Andika, S.H, kuasa hukum dari Andi mengatakan tuntutan yang dibacakan JPU terlalu mengada-ada dan hanya berdasarkan pada Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat dan bukan pada fakta yang terungkap di persidangan. “JPU hanya menilai berdasarkan pada BAP di depan penyidik BNN. Bukan berdasarkan, kepada fakta-fakta yang terungkap di persidangan. Jadi, betul-betul ini kriminalisasi menurut saya,” kata Andika.

Menurutnya lagi, seharusnya tuntutan itu berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan. “Fakta di persidangan, tidak ada saksi satu pun yang menyebutkan jika Andi yang menyuruh untuk mengambil itu narkotika, yang sabunya mencapai 12 kg. Tidak ada saksi satu pun yang menerangkan pemilik speedboat untuk mengambil barang itu adalah milik Andi,” bebernya.

Dengan tuntutan hukuman mati terhadap Andi, Andika kembali menegaskan bahwa jaksa telah mendiskriminasi orang yang tidak bersalah. “Tidak sesuai fakta persidangan. Nanti di agenda pembelaan dibuktikan,” tegasnya.

 

Dalam perkara ini terungkap bahwa hubungan kelima terdakwa bermula pada 22 September lalu saat tersangka Amin dihubungi Hendra dari dalam Lapas. Dari komunikasi tersebut, Hendra meminta Amin menghubungi Roni, Ary dan Haryanto alias Anto untuk mengambil sabu di wilayah perairan Tanjung Daun, Pulau Punyuh, Kabupaten Nunukan.

Pada 23 September, sehari setelah dilakukan komunikasi awal, Roni berangkat ke rumah Amin untuk mengambil speedboat. Roni yang diketahui berprofesi sebagai nakhoda kapal menginformasikan ke Amin bila tiba di Pantai Tanjung Daun akan bertemu dengan speedboat ciri-ciri bodi tripleks. Dari situ barang yang diterima berupa 2 jeriken warna hijau dan biru yang biasa digunakan untuk membawa bahan bakar. Barang tersebut akan dibawa ke wilayah Juata Laut.

Roni lantas mendatangi Amin untuk menjemput Ary dan Anto di Jembatan TPI menggunakan speedboat. Sekira pukul 09.00 Wita, Hendra kembali menghubungi Amin dan mengatakan bahwa satu jeriken warna biru berisi 10 bungkus sabu yang jumlahnya 10.229,4 gram diserahkan ke Ary menggunakan speedboat lain. Sementara, untuk jeriken warna hijau yang berisi 2 bungkus sabu seberat 1.430,9 gram dibawa Anto dan dititipkan di rumah Roni.

Pada 24 September personel BNN akhirnya berhasil menangkap Ary di Jalan Aki Balak, Kelurahan Karang Harapan dengan barang bukti sabu masih dalam jeriken. Dari penangkapan ini, kemudian berkembang ke pengungkapan satu jeriken berwarna hijau yang ada di tangan Amin dan disimpan di rumah Roni di Jalan Kurau, RT 16, Kelurahan Juata Laut.

Hendra dijanjikan upah Rp 500 juta dan akan dibagi dengan Ari, Roni dan Anto. (eru/lim)