Tak Hanya Partai Baru, Parpol Lawas Pun Terancam Terkubur di Pemilu 2019

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Tidak ada yang bisa menebak nasib partai politik (parpol) di Pemilu 2019. Semua parpol itu terus berupaya mendapat hati masyarakat agar dipilih di hari H pesta demokrasi itu nantinya.

Dari hasil survei terbaru Alvara Research Center dinyatakan sejumlah parpol akan terkubur di Pemilu Serentak 2019. Jika pun ada yang mendapat ambang batas parlemen suara pada garis aman, jumlahnya tidak banyak. Sebab ketentuan parliamentary threshold (PT) atau ambang batas parlemen minimal 4 persen.

Adapun parpol yang diperkirakan mendapatkan suara di ambang batas parlemen yakni, PDIP sebesar 29,9 persen, Gerindra (18,4 persen), Golkar (9,5 persen), PKB (7,2 persen); dan Partai Demokrat (6,3 persen).

“Sampai Partai Demokrat masih dalam zona aman sudah pasti lolos PT (parliamentary threshold, Red),” ujar CEO Alvara Hasanuddin Ali di Hotel Oria Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (6/11).

Survei Alvara Research Center mengklasifikasikan tiga kelompok parpol di Pemilu 2019. Posisi aman, golongan menengah, dan terdegradasi.

Sementara untuk Partai golongan tengah atau yang masih memiliki harapan lolos ke parlemen diisi oleh 5 parpol. Di antaranya, Partai Nasdem (3,4 persen), PKS (2,9 persen), PPP (2,2 persen), PAN (1,6 persen), dan Perindo (1,3 persen). “Di bawahnya Demokrat sampai Perindo tidak aman bisa lolos, bisa tidak. Kesananya tidak aman bisa degadrasi,” imbuh Hasanuddin.

Sedangkan parpol yang terancam terdegradasi karena elektabilitasnya memprihatinkan yakni Partai Hanura (0,6 persen) dan PSI (0,3 persen). Kondisi parpol yang terdegradasi ini ada yang lebih parah. Hal itu dialami PBB, PKPI, Partai Berkarya, dan Partai Garuda. Keempatnya kompak hanya memperoleh 0,1 persen.

Menurut Hasanuddin, Pemiu 2019 tidak hanya akan menjadi kuburan bagi parpol baru. Partai lama juga berpotensi. Untuk itu, setiap parpol harus mengupayakan kefiguran dari caleg yang diusung. Bahkan efektifitasnya mencapai 60,6 persen. “Oleh karena itu partai yang terancam tidak lolos harus memanfaatkan itu,” pungkasnya.

Diketahui, survei Alvara ini dilakukan pada rentang waktu 8-22 Agustus 2018. Dengan melibatkan 1.781 responden yang tersebar di 33 provinsi. Sistem yang digunakan multi stage random sampling, dengan margin of error 2,37 persen. (sat/JPC)