Taman Hutan Raya Dijual, Kejari Bulukumba Kantongi Calon Tersangka

19 views
FAJAR.CO.ID, BULUKUMBA — Kasus dugaan penjualan Taman Hutan Raya (Tahura) di Kelurahan Lemo-lemo, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba terus bergulir. Kejaksaan Negeri (Kejari) Bulukumba pun
telah mengantongi calon tersangka.
Kejaksaan masih merampungkan proses pemeriksaan sebelum akhirnya resmi mengumumkan tersangka penjualan aset negara kepada pengusaha seluas mencapai 42 hektar lebih.
Kepala Kejaksaan Bulukumba, Muh. Ihsan mengungkapkan, kasus penjualan Tahura ini sudah ditingkatkan ketahap penyidikan. Bakal calon tersangka sudah ada sedikitnya tiga orang. Hanya saja nama calon tersangka belum bisa dipubliskan.“Iya, tunggu saja kita sudah kantongi. Kita akan umumkan segera,” ujar Ihsan.
Menurut Ihsan, indikasi pelanggaran dalam kasus itu karena diduga para calon tersangka telah menjual tanah negara. Padahal tanah negara ini sama sekali tidak boleh diperjualbelikan kepada siapa pun karena statusnya dilindungi UU.
“Ini tanah milik negara, tidak boleh dijual. Itu dilindungi oleh negara. Makanya, ini pelanggaran,” katanya.
Berdasarkan hasil perhitungan sementara, Kasi Pidsus, Femi Irfan Nasution, kerugian negara yang ditimbulkan ditaksir mencapai lebih dari Rp 3 miliar. Besaran kerugian negara berdasarkan perbandingan harga tanah saat ini. Kemungkinan angka tersebut masih bisa bertambah.
“Intinya kalau hitung-hitungan dari tim penyidik kejaksaan setelah kita turun ke lokasi, yah sekitar Rp 3 miliar lebih. Tapi kan yang tentukan itu adalah BPK atau BPKP, yang jelas dalam kasus ini sudah mulai terkuak ada tindakan melawan hukum dan indikasi korupsi,” tegasnya.
Selain indikasi tindak pidana korupsi, pihaknya mengindikasikan ada gratifikasi dalam kasus itu. Kuat dugaan juga melibatkan orang dalam pemerintahan dan melibatkan pelaku lebih dari satu orang. Bahkan lebih jauh dia menegaskan dalam kasus ini akan menjerat tersangka masing-masing, masyarakat, pihak swasta, dan aparatur pemerintahan.
“Kalau soal siapa nama-nama calon tersangkanya belum kami dapat sebutkan sebelum ekspose. yang jelas tersangkanya dari tiga elemen, masyarakat, swasta dan pemerintahan. Jadi soal gratifikasinya silahkan berpendapat sendiri dari mana,” paparnya.
Wakil bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulinto, mengatakan, masalah ini adalah ranah Kejaksaan dan dia sudak masuk. Pemerintah daerah hanya memberikan data dan informasi sesuai kewenangan yang dimiliki saja, apakah kawasan masuk Tahura atau tidak. Namun, ini akan menjadi pembelajaran bagi daerah untuk melakukan sosialisasi dan memberikan informasi soal batas-batas kawasan Tahura. “Ini menjadi pintu masuk penataan Tahura secara keseluruhan, termasuk di tanah Lemo-lemo dan kawasan Bara sendiri,” jelasnya.
Dia menilai, bahwa terjadi penjualan Tahura, karena mungkin ketidak tahuan masyarakat.  Apalagi selama ini belum selesai konfliknya, hanya tahu atau tidak mereka harus tunduk pada aturan, tidak boleh melakukan penjualan. Sebab, kawasan Tahura ini dilindungi oleh negara. “Ini juga menjadi pintu masuk bahwa ada indikasi penjualan Tahura. Kita akan telusuri kebawah,” tandasnya. (radar selatan/fajar)