Tes Tertulis Calon Komisioner KPU Diminta Ramah Difabel

4 views

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sejumlah organisasi difabel se Kota Makassar, meminta tim seleksi (timsel) calon anggota KPU Sulsel pun dapat memfasilitasi pendaftar calon komisioner yang mengalami difabel penglihatan, Hamzah, agar dapat mengikuti tes tertulis online (CAT). Timsel diminta melakukan penyesuaian atau menyiapkan akomodasi yang layak bagi difabel penglihatan saat mengikuti tes CAT, di Universitas Hasanuddin, Senin (26/3) hari ini.

Gabungan organisasi tersebut diantaranya Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PERDIK), Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI Sul-Sel), Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Perhimpunan Mandiri Kusta (PERMATA) serta Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (GERKATIN).

Berdasarkan surat pengumuman hasil seleksi administrasi yang dikeluarkan timsel, Hamzah, difabel penglihatan (totaly blind) bersama 39 calon komisioner yang lain, dinyatakan lolos administrasi calon komisioner KPU Kabupaten Gowa.

Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulawesi Selatan, Maria Un, atau akrap disapa Mia, mengatakan ada beberapa hal yang didiskusikan dengan timsel agar nantinya Hamzah dapat mengikuti tes tersebut tanpa adanya hambatan.

“Salah satunya kami meminta agar timsel perlu melakukan penyesuaian atau menyiapkan akomodasi yang layak bagi difabel penglihatan saat mengikuti tes CAT” ujar Mia, Minggu (25/3).

Menurut Mia, setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, apakah panitia menyiapkan screen reader (pembaca layar) pada komputer yang akan digunakan Hamzah saat mengikuti tes.

“Ini penting, karena bagi seorang difabel penglihatan, tidak adanya pembaca layar pada sebuah komputer membuat Hamzah tidak dapat mengakses komputer tersebut. Yang kedua, jika screen reader tersebut tidak tersedia, setidaknya Hamzah perlu didampingi atau dengan kata lain ada orang yang membacakan soal tes tersebut pada Hamzah dan membantunya ketika mengklik jawaban,” bebernya.

Selain itu, Mia juga berharap agar timsel memperhatikan persoalan durasi waktu pengerjaan soal. Karena, saat mengikuti ujian Hamzah ada yang membacakan, maka setidaknya Hamzah membutuhkan waktu tambahan saat mengerjakan soal.

“Karena saat soal dibacakan dan Hamzah memikirkan jawabannya, ada dua proses yang terjadi disana. Berbeda dengan peserta pada umumnya, yang saat membaca soal, langsung bisa menjawab,” tambah Mia.

Salah satu anggota timsel calon Komisioner KPU, Andi Luhur Prianto, yang menemui gabungan organisasi difabel tersebut menyampaikan bahwa sebenarnya timsel telah memikirkan metode agar Hamzah dapat mengikuti tes tersebut tanpa adanya hambatan.

Tetapi timsel masih ragu, apakah metode yang akan ditempuh timsel itu sudah tepat atau tidak.

“Kami sebenarnya telah memikirkan bagaimana kalau Hamzah didampingi saja saat mengikuti ujian, karena kami merasa hal itulah yang paling memungkinkan, tapi itu masih sebatas diskusi antar timsel, belum menjadi keputusan,” jelas Andi Luhur.

Dia juga menyammpaikan bahwa sebenarnya sangat diperlukan diskusi-diskusi dengan organisasi difabel seperti ini karena timsel juga sangat mendorong keterlibatan difabel di KPU.

Menyinggung mengenai program pembaca layar, Andi Luhur tidak begitu mengetahui mengenai teknis komputer yang akan digunakan.

“Kami juga masih belum tahu tentang apakah screen reader itu tersedia atau tidak, karena persoalan teknis seperti ini bukan kami yang menangani, tapi screen reader tersebut bisa kami usahakan,” sambungnya.

Akan tetapi, persoalan waktu tambahan, timsel tidak bisa memberi kebijakan, lantaran durasi pengerjaan tes CAT tersebut telah diatur oleh sistem dari KPU nasional. Jadi jika telah melewati waktu yang ditentukan, secara otomatis, komputer tersebut akan offline dengan sendirinya.

“Itu memang sudah menjadi sistem dari KPU nasional, jadi kami hanya menjalankannya,” jelas Andi Luhur.

Terkait hal tersebut, Sekretaris Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (Perdik), Nur Syarif Ramadhan, mengaku cukup mengeluhkan perihal tidak adanya tambahan waktu tersebut.

Bagi Syarif, sangat tidak adil jika waktu pengerjaan bagi peserta difabel dan non difabel itu disamakan, karena metode yang digunakan dalam mengakses soalnya tidak sama.

Bagi syarif, sistem yang dibuat KPU nasional sangat tidak ramah bagi difabel penglihatan.

“Tapi apa boleh buat, untuk menunjukan bahwa sistem itu salah, kita harus jadi korban dulu,” ungkap Syarif.

Syarif pun mencontohkan jika dirinya pernah mengikuti beberapa tes tertulis dengan menggunakan komputer yang meskipun telah dilengkapi dengan screen reader, namun diakuinya kadang ia tetap masih perlu waktu tambahan dalam mengerjakan soal.

“Saya pernah mengikuti test IELTS yang diselenggarakan oleh pemerintah Australia untuk keperluan beasiswa dan mereka menyiapkan sistem yang ramah bagi saya yang seorang difabel, termasuk memberi waktu tambahan,” ungkapnya.

Dihubungi secara terpisah, Hamzah lebih memilih mengerjakan soal dengan didampingi. Karena untuk menyiapkan komputer yang aksesibel sudah tidak memungkinkan karena waktu yang terbatas.

“Kalaupun screen reader itu disiapkan, saya masih perlu melakukan orientasi pada komputer tersebut dan belajar bagaimana menginput jawaban ke dalam server. Dan belum tentu juga sistem buatan KPU dapat diakses oleh Screen Reader,” ujar Hamzah.

Menanggapi permintaan organisasi difabel dan Hamzah, timsel pun berjanji menyanggupi permintaan Hamzah. Dimana Timsel nantinya akan menyiapkan dua orang yang akan membantu Hamzah. Satu orang yang akan membacakan yang ditunjuk oleh Hamzah sendiri dan satu orang dari pihak panitia sebagai pengawas. (Alief/raksul/fajar)