Tiga tokoh toraja ini siap menangkan NH-AZIZ, Ini Penjelasannya

8 views

FAJAR.CO.ID, TORAJA — Masyarakat Adat Toraja berkomitmen mendukung pasangan calon Gubernur-calon Wakil Gubernur Sulsel, Nurdin Halid-Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) dalam Pilgub Sulsel. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Pemangku Adat Toraja, Tomina Puang Barumbun, Senin (9/4).

Dukungan dari Masyarakat Adat Toraja karena yakin pasangan NH-Aziz mampu membawakan perubahan Sulsel lebih baik. Dengan modal lebih dari 200 kursi  partai pengusung, NH-Aziz dipercaya akan memberikan pembenahan infrastruktur dengan maksimal, termasuk di Toraja.

“Kalau Toraja mau pembangunannya dipercepat, bandaranya segera rampung, idealnya pilih nomor satu. Dengan kursi partai pendukung, satu proyek selesai ibarat balik telapak tangan,” tegasnya.

Keyakinan tersebut makin digaransi atas jaminan tiga tokoh Toraja. Yaitu, Bupati Tana Toraja, Nicodemus Biringkanae, Wakil Bupati Tana Tiraja, Victor Datuan Batara, dan Ketua DPRD Tana Toraja, Welem Sambolangi’.

Ketiga tokoh itulah yang diharapkan nanti akan menjadi penyambung lidah antara masyarakat Toraja dengan kepemimpinan NH-Aziz dalam menjalankan programnya. Puang Barumbun, bahkan, telah mengultimatum ketiga tokoh tersebut akan menggantung secara hukum adat apabila NH-Aziz ingkar dengan janji programnya.

“Saya sudah mendapat pengakuan tiga tokoh ini untuk digantung jika setelah masyarakat Toraja memenangkan pasangan ini lalu tiga tokoh ini tidak bisa memaksa NH-Aziz membuktikan manfaatnya untuk Toraja,” jelasnya.

Diakui oleh Victor Datuam Batara, NH lebih unggul dalam menghasilkan pembangunan lebih pesat di Sulsel kelak. Selama ini, kata Ketua Golkar Tana Toraja ini, NH telah banyak membantu pembangunan di Toraja. Hanya memang publik tidak mengetahui dan NH tidak mau mengumbarnya.

“Kalau mau tahu, yang perjuangkan kelanjutan Bandara Buntu Kunyi itu Pak NH melalui legislator-legislator,” ujarnya.

Sementara itu, NH kerap menegaskan kontrak politiknya apabila terpilih menjadi gubernur. Sesuai niatnya, ia ingin menjadi gubernur untuk mewujudkan harapan dan aspirasi masyarakat, bukan karena kekuasaan.

“Kalau sampai tiga tahun jadi gubernur, saya masih belum mampu wujudkan program sesuai kebutuhan masyarakat, saya berhenti saja jadi gubernur,” tegasnya. (*)