Ujian Berbasis Komputer Disini Bisa Pakai Nadroid

11 views

FAJAR.CO.ID, NUNUKAN – Daerah perbatasan memang sedikit tertinggal dari segi teknologi. Untuk itu, Madrasah tsanawiyah (MtS) Asadiyah di Desa Sei Nyamuk, Kecamatan Sebatik Timur melakukan gebrakan baru dengan melaksanakan ujian berbasis komputer dengan Android.

Tim IT Mts Asadiyah Sebatik Timur, Syahabudin mengatakan, ujian berbasis komputer dan Android merupakan pertama kali dilaksanakan di Sebatik. Bahkan sekolah yang pertama untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun madrasah yang ujian berbasis android.

“Pada ujian semester kali ini, dilakukan dengan berbasis komputer dan Android, namun sebelumnya telah pernah diterapkan juga untuk MA Asadiyah,” kata Syahbudin kemarin.

Menurutnya, sesuai perkembangan zaman yang semakin canggih, maka para siswa harus dibiasakan mengerjakan soal menggunakan komputer. Karena ke depan untuk melaksanakan ujian nasional wajib berbasis komputer.

Berada di perbatasan bukan berarti tertinggal dari segi teknologi, jika masih ingin berupaya untuk melakukan hal yang baru. Tentu dapat terlaksana, karena pada ujian semester kali ini berhasil dilakukan untuk kelas sembilan.

“Siswa mengerjakan soal ujian dapat menggunakan komputer, laptop maupun telepon seluler yang berbasis Android,” ujarnya.

Keuntungan ujian berbasis komputer dan Android dapat mengurangi pembiayaan penggandaan soal. Karena tidak perlu menggunakan kertas. Hanya saja kendala utama adalah listrik khusus untuk komputer.

“MTS Asadiyah masih banyak kekurangan, seperti lab komputer belum ada, alat perangkat lainnya ,mesin genset harus disiapkan untuk antisipasi jika listrik padam,” tuturnya.

Sementara itu, salah seorang guru MTS Asadiayah, Jumiati S.Pd sangat merasakan manfaat dengan ujian berbasis komputer dan Android. Karena para siswa dapat konsentrasi mengerjakan soal masing-masing, sangat susah untuk melihat jawaban siswa lain.

“Soalnya diacak tentu siswa tidak dapat melihat jawaban siswa lain, para siswa benar-benar dapat mandiri dan berusaha mengerjakan soal ujiannya,” kata Jumiati.

Namun untuk ke depannya perlu ada peningkatan lagi, karena kondisi sekolah saat ini yang masih serba kekurangan dan hanya 19 siswa yang dapat melakukan ujian berbasis komputer dan Android. Karena komputer serta telepon seluler mayoritas dipinjamkan dari guru. Karena sekolah belum memiliki perangkat komputer sendiri.

“Telepon seluler guru dikumpul serta laptop. Jadi mayoritas serba pinjam dulu untuk ujian kali ini,” ujarnya.

Tentu yang diharapkan, adalah bantuan dari pemerintah untuk sekolah di perbatasan. Agar dapat bersaing dengan para siswa yang ada di perkotaan. Karena kemampuan siswa di perbatasan tak perlu diragukan lagi. Sisa diambangi dengan fasilitas.

“Jika fasilitas mendukung yakin saja, siswa di perbatasan ini pasti tidak akan kalah dengan siswa di perkotaan dari segi prestasi,” tambahnya. (nal/nri)