Wantimpres Kaji Kemenangan Kotak Kosong Pilwalkot Makassar

4 views

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Kemenangan kotak kosong dalam Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Makassar 2018 masih menjadi sorotan. Terkait hal itu, Sekretaris Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Purnawirawan Mayjen TNI I Gede Nyoman Arsana melakukan pertemuan langsung dengan Gubenur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah.

Adapun pertemuan berlangsung di Kantor Gubernur Sulsel, Kamis (13/9) lalu. I Gde Nyoman Arsana didampingi Surya Wiranto yang merupakan penulis buku Dewasa Dalam Berdemokrasi.

“Jadi tim Wantimpres lagi membuat sebuah pedoman bagaimana sistem demokrasi kita bisa berjalan dengan baik, dengan murah tanpa insiden. Termasuk yang banyak disoroti soal pilkada,” kata Nurdin melalui keterangan resminya di Makassar, Sabtu (15/9).

Nurdin mengatakan, kedatangan Watimpres bertujuan untuk melakukan kajian dan penelitian terkait kemenangan kotak kosong di Kota Makassar. Dengan kajian itu diharapkan ada solusi pilkada lebih murah, lebih adem dan menghasilkan pemimpin yang baik. “Kenapa kotak kosong menang, kotak kosong tidak bisa berkampanye, tidak bisa bersosialisasi kok bisa menang, begitu,” papar Nurdin.

Watimpres juga mengkaji figur dari para kandidat, khususnya dalam Pilwalkot Makassar. Sebab hal ini menjadi salah satu faktor yang menarik di Sulsel. Kandidat yang ada dinilai dewasa dalam berkontestasi. “Pertama kali di Sulsel ini berpilkada damai, tenang, lahir pemimpin tanpa gugat menggugat, itu,” ujarnya.

Sementara untuk konteks Pemilihan Gubernur (Pilgub), dari buku ini juga digali perjalan gubernur terpilih hingga menang. “Apa resep dari gubernur baru Nurdin Abdullah bisa menang. Kalau kami lihat figur beliau bagus, dua kali menjadi Bupati Bantaeng. Masyarakat Sulsel semakin dewasa dan bisa jadi contoh daerah lain,” sebutnya.

Sebelum di Makassar, tim Watimpres terlebih dulu merampungkan data-data dalam konteks yang sama untuk pilkada di Medan, Sumatra Utara dan Pontianak, Kalimantan Barat.

“Kami tertarik banyak terjadi fenomena mengarah ke depan untuk lebih baik. Kami sudah membuat tulisan berdasarkan data skunder. Sekarang data primer, di tulis tim kami di Jakarta yang melibatkan tiga professor dan ahli,” jelas Nyoman.

Sasaran dari buku ini untuk membuat demokrasi yang baik di Indonesia. Demokrasi yang didasarkan pada nilai Pancasila. “Kami ingin membuat demokrasi khas Indonesia. Yang ada di barat, belum tentu cocok karena kita ada falsafah Pancasila. Kami menggali nilai sendiri, kami lihat demokrasi yang ada di seluruh dunia tidak sama,” ulasnya.

Seperti diketahui, pasangan Cawali-Cawawali Makassar Munafri Arifuddin – Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) gagal menjadi Wali Kota Makassar. Mereka kalah telak dari kotak kosong.

Dari 15 kecamatan, Appi-Cicu hanya berhasil menang di 2 kecamatan. Salah satunya bahkan hanya selisih tipis dengan kotak kosong. Diusung koalisi sepuluh partai politik, pasangan itu hanya meraih 46,77 persen dari total 565.040 suara sah. Sedangkan kotak kosong mendapat 53,23 persen suara.

Sesuai Undang-undang Nomor 10 tahun 2016 dan Peraturan KPU Nomor 13 tahun 2018 tentang Pilkada, pasangan calon tunggal di Pilkada harus mengantongi lebih dari 50 persen suara agar bisa menang. Berdasarkan kondisi di Makassar, tidak ada pemenang di pilkada tahun ini. Tak ada pemenang, memungkinkan Pilkada Makassar bakal diulang pada periode selanjutnya. (rul/JPC)