Warga Minta Ganjar Naik Onthel biar Tahu Jalan Berlubang

10 views

FAJAR.CO.ID — Warga Desa Keleng, Kesugihan, Cilacap berkerumun menyambut kedatangan calon gubernur, Ganjar Pranowo, yang mengunjungi desa mereka, Selasa (27/3/2018). Uniknya, saat memasuki daerah tersebut, Ganjar langsung diminta warga naik sepeda onthel hingga ke bagian dalam desa.

Usut punya usut, warga rupanya ingin Ganjar merasakan secara langsung penderitaan warga, yakni bersusah payah melintas di jalan penuh lubang menganga di mana aspal sudah mulai tergerus.

“Wah dalane bodhol ya (wah jalannya parah ya), ngetril ngetril,” kata Ganjar sembari mengayuh sepeda onthel tunggangannya.

Ganjar yang mengonthel bersama istrinya itu pun tak luput menjadi tontonan warga, dimana banyak dari mereka berdiri berjejer di depan rumah.

Usai ‘ngetril’, Ganjar menjalankan agendanya, yakni berdialog dengan warga. Ia menyampaikan bahwa kades setempat sudah menghadap dirinya beberapa waktu lalu. Karena jalan tersebut kewenangan kabupaten, maka ia meminta usulan diajukan ke Bupati Cilacap.

“Usulan sudah disampaikan, saya minta Kabupaten menindaklanjuti, mampunya berapa, sisanya provinsi yang kasih bantuan keuangan,” katanya kepada warga.

Rinto, tokoh masyarakat setempat menyatakan, warga Desa Keleng dan tiga desa di sekitarnya memang mengidolakan pria berambut putih itu. Empat desa di Kecamatan Kesugihan, katanya sudah menyatakan tekad memenangkan Ganjar-Yasin pada Pilgub 2018.

“Keleng, Karangjengkol dan lainnya ada empat desa yakin sembilan puluh persen suara Ganjar-Yasin,” tegasnya.

Sebelumnya, di Kantor DPC PDIP Cilacap, Ganjar juga berkesempatan untuk ngopi bareng bersama kader partai dan masyarakat setempat. Tak sekedar minum-minum, mereka berbincang tentang banyak hal dan salah satunya soal industri jamu yang banyak menjadi gantungan hidup warga Cilacap.

Gubernur nonaktif itu mengatakan, industri jamu di Cilacap harus terus didorong agar mampu tumbuh menjadi sentra ekonomi yang produktif. Saat ini, meski terus berproduksi tapi standarisasi jamu Cilacap masih harus lebih ditingkatkan.

Dikatakan Ganjar, yang terpenting adalah melakukan pendataan terhadap pelaku usaha jamu. “Dari data tersebut, bisa diketahui masalah yang ada, petakan persoalan. Selanjutnya, pendaftaran ulang ini pengusaha yang eksis, ini yang biasa, ini yang butuh bantuan. Dari situ kan dilakukan pembinaan,” terusnya.

Pemetaan persoalan menjadi penting lantaran dibutuhkan untuk mengetahui aspirasi para pengusaha jamu. Dengan begitu, akan diketahui solusi dari permasalahan yang dihadapi.

“Jika masalahnya administrasi, tugas negara untuk memermudah. Bisa dengan melakukan deregulasi atau bahkan reformasi birokrasi,” kata Ganjar. Dari persoalan dan solusi yang ditawarkan, lanjutnya, maka bisa dilakukan negosiasi ulang dan bahkan mungkin sampai ke pengetatan pengawasan regulasi.

Ganjar mengatakan pemerintah pun sebenarnya berkenan menyediakan farmakolog bila dibutuhkan untuk mendampingi produksi jamu. “Jika syarat produksi jamu harus ada farmakolog, kita sediakan. Jika terlalu berat, satu farmakolog bisa untuk beberapa perusahaan,” ucapnya.

Adanya farmakolog yang mendampingi industri jamu akan menjadi rangsangan terciptanya perusahaan yang baik. “Jamu ini kan industri bagus. Meski sempat ada persoalan hukum, itu memang perusahaan yang nakal, tidak bisa disamaratakan. Ini harus diperhatikan, ada pangsa pasar jamu yang tumbuh. Harus diperhatikan, butuh pembinaan,” kata Ganjar.

Calon gubernur nomor urut satu ini menyatakan siap memfasilitasi pegiat jamu hingga tingkat nasional. Ganjar mengatakan sudah beberapa kali bertemu perajin jamu, dan aspirasi yang muncul berharap ada cluster khusus.

“Jika memang butuh regulasi nasional, saya akan meneruskan, ke Menteri Perdagangan atau Perindustrian, saya kan wakil rakyat Jawa Tengah,” tutupnya. (gul/JPC)